Langsung ke konten utama

Aku Dan PJJ Anak-anak

Kalau esok saya masih terbangun dan menghirup udara dunia, saya bisa memiliki kesempatan untuk kembali menjadi guru (agak formal yaa.. Hee) bagi 4 murid istimewa kami kembali. Yaa meski hanya sekedar fasilitator sekaligus mendampingi mereka yang qodarulloh harus belajar daring, hati saya terasa dipenuhi bunga saat memikirkannya. 

Tentu saja saya ingin dan berharap pandemi ini segera usai agar anak-anak bisa kembali menapak jejak mereka di kelas dengan pengalaman dan jejak kenangan mereka masing-masing. Tapi saya tidak mau terbelenggu tanpa berbuat apa-apa, anak-anak tetap hidup dan mereka menanti waktu untuk berjumpa masa depan mereka masing-masing dan saya ingin mendampingi mereka semampu saya. 

Saya tidak mau berandai, saya tahu rasa perpisahan. Karena itu, selama masih diberikan kesempatan, saya ingin mengukir kisah baik bersama mereka agar tak harus meninggalkan sesak saat perpisahan itu kembali menyapa. 

Sungguh, saya bahagia diberikan kesempatan kembali mendampingi anak-anak. Saya bahagia diberikan kesempatan untuk kembali melukis kisah mendampingi @aufa_satiella dan 3 saudaranya.. Jadi, saya tidak akan pernah bertanya kapan ia kembali, saya hanya ingin memanfaatkan waktu yang ada dan menikmati masa bersama dengan syukur yang kami maknai tanpa tanya. 

Untuk hari esok, hari pertama semester terakhir sulung, hari pertama semester 2 Umar, hari pertama semester 4 Aufa, dan hari pertama semester 8 de Olin, saya bersemangat menyambut hari itu dengan suka cita. Meski harus belajar #dirumahsaja dan #menghindarikerumunan sambil berdoa agar #pandemiccovid19 #pandemic ini segera berlalu, semoga yang diikhtiarkan ini menjadi ibadah yang Allah Ridhai. 

Bismillah, 
Mari menjejak kisah yang baik, mari berbahagia, mari bersyukur, mari jaga kesehatan dengan salah satunya mematuhi protokol kesehatan, dan.. Mari menyiapkan ruangan yang kondusif buat belajar besok.. Hee

Tasikmalaya, 10 Januari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...