Langsung ke konten utama

Postingan

Hukuman dalam Timbangan Adab

Sering kali kita terjebak pada keinginan untuk terlihat bijak di hadapan anak-anak kita, hingga tanpa sadar kita melakukan apa yang disebut sebagai Talbis Iblis dalam pendidikan. Kita membungkus kelemahan hati kita—ketidakberanian kita dalam menegakkan aturan—dengan kemasan kasih sayang yang semu. Kita mulai alergi dengan kata "hukuman", lalu menggantinya dengan deretan eufemisme atau penghalusan kata yang melenakan. Padahal, penghalusan kata yang mengaburkan hakikat kebenaran adalah pintu gerbang menuju rusaknya karakter generasi. Dalam Islam, agama yang telah sempurna ini, hukuman memiliki kedudukan yang jelas. Hukuman ya hukuman. Di sinilah pentingnya Tahkiful Makna , yakni menegaskan makna yang sebenarnya. Saat seorang guru atau orang tua menghaluskan istilah hukuman menjadi sesuatu yang terdengar "nyaman", saat itulah kita sedang mengaburkan realitas di benak anak. Mereka kehilangan kepekaan terhadap konsekuensi serius dari sebuah pelanggaran. Wibawa aturan pu...
Postingan terbaru

Melepas dengan Percaya, Menumbuhkan dengan Doa

Ada saatnya dalam perjalanan mendampingi buah hati atau anak didik, kita harus berani mengambil langkah mundur. Bukan karena lelah yang tak terlukiskan setelah melewati badai tantrum, tangis yang memicu muntah, atau keengganan yang membatu untuk sekadar masuk ke ruang kelas. Kita mundur justru karena mencintai pertumbuhannya. Berhenti mendampingi karena  ingin memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri yang utuh. Saya ingat betul bagaimana hari-hari kemarin. Melelahkan, memang. Mengondisikan anak yang hanya mau berteduh di kantor hingga jam pulang, menolak berbaur, dan menutup diri dari riuh rendahnya pertemanan, membutuhkan stok kesabaran yang tidak boleh putus di tengah jalan. Namun lihatlah hari ini. Anak yang dulu "terpenjara" oleh emosinya sendiri, kini mulai mampu mengendalikan kemudi rasanya. Ia telah memiliki regulasi emosi yang baik. Ia telah memiliki inisiatif. Dan yang paling mengharukan, ia kini punya nyali untuk berkompetisi dan kepercayaan diri untuk berdiri...

Surat untuk Jiwa yang Sedang Lelah

Untukmu, wahai jiwa yang hari ini merasa dunia begitu gaduh dan menyesakkan. Duduklah sejenak, lepaskanlah sebentar beban-beban khayali yang kau ikat sendiri di pundakmu. Engkau terlalu sibuk mencemaskan hari esok, seolah-olah engkau adalah penentu takdir bagi dirimu sendiri. Padahal, jika kau menoleh ke belakang, bukankah Allah yang telah menuntunmu melewati badai-badai yang dulu kau pikir takkan sanggup kau lalui? Ingatlah pesan ini baik-baik... Jangan kau pikul beban dunia, karena ia milik Allah. Ia adalah panggung sandiwara yang naskahnya sudah rampung ditulis. Jangan pula kau risaukan rezeki, karena Ar Razaq telah berjanji sebelum ruhmu ditiupkan ke rahim ibu. Dan jangan kau bimbang akan masa depan, sebab masa depan adalah wilayah kegaiban yang berada dalam genggaman Ar-Rahman. Tidakkah kau lelah mengejar bayang-bayang yang terus berlari? Tukarlah seluruh gelisahmu itu dengan satu kegelisahan yang mulia. Satu saja. Tanyakan pada hatimu di penghujung hari: "Sudahkah Allah ridh...

Genggaman Pertama (7 April 2003)

Hari itu, 7 April 2003, alam semesta seolah sedang merayakan sesuatu. Di kalender, itu adalah hari kelahiran saya. Namun di dalam rumah Mamah, ada kehidupan lain yang mendesak ingin melihat dunia. Malam sudah larut. Udara dingin merayap pelan, dan rumah terasa lebih hening dari biasanya—sebuah suasana yang hingga hari ini masih bisa saya hirup aromanya. Saya ingat betul bagaimana Eteh dengan cekatan mengambil alih tumpukan cucian, bergerak pelan agar tak memecah sunyi. Mamah, dengan tangan yang penuh kasih, tak henti memijat punggung dan bagian belakang perut saya. Sentuhannya hangat, menenangkan, seolah menyalurkan sisa-sisa kekuatan masa mudanya ke dalam tubuh saya yang mulai kepayahan. Di tengah semua itu, ada Bidan Neneng. Suaranya rendah dan sabar, menjadi sauh bagi saya yang rewel menahan sakit yang terasa tak biasa. Dan di sana, di samping saya, ada Abi. Dalam temaram lampu malam, genggaman tangannya adalah satu-satunya hal yang membuat saya merasa masih berpijak di bumi. W...

The Final Chapter

Ada sebuah prinsip mendasar yang saya pegang teguh: bahwa ada jenis kenyamanan yang tidak boleh datang dari 'pemberian' manusia, melainkan harus dijemput melalui sebuah keputusan strategis untuk berdiri di atas kaki sendiri. Itulah yang saya sebut sebagai upaya menjaga Izzah (harga diri). Seringkali, banyak orang hanya terpaku pada the final chapter —mereka melihat hasil yang nampak hari ini. Namun, mereka alpa menoleh pada the long and winding road yang kami lalui; tentang jejak kaki yang berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, beradu dengan sesaknya tagihan sewa di tengah biaya pendidikan yang mulai meninggi. Bagi saya, membangun rumah bukan sekadar laying bricks atau menyusun bata, melainkan sebuah ikhtiar restoring dignity —menyusun kembali martabat yang sempat terkikis oleh badai fitnah. Namun, di tengah perjuangan itu, saya dihadapkan pada sebuah distorted truth . Sungguh sebuah fenomena yang menyesakkan dada saat kenyamanan yang kami bangun dengan darah dan a...

Ikhlas yang Manusiawi

Ada beberapa orang yang gemar sekali membungkus realita dengan kata-kata mutiara, yang sayangnya, sering kali lupa menyertakan "mutiaranya". Mereka bilang, orang yang ikhlas itu tidak akan pernah mengeluh. Katanya, kalau hati sudah rida, lelah dan sedih bakal hilang ditelan bumi. Terdengar cantik untuk dijadikan takarir foto di media sosial, tapi jujur saja, itu omong kosong yang berbahaya. Kita ini manusia, bukan robot yang diprogram untuk tidak punya rasa. Kita punya jantung yang bisa berdegup kencang karena takut, dan air mata yang bisa jatuh tanpa izin karena luka. Kalau ikhlas artinya kehilangan rasa sakit, maka kita sedang dipaksa menjadi mayat sebelum waktunya. Coba kita tengok sejarah. Siapa yang lebih tangguh dari para Nabi? Mereka adalah manusia-manusia paling jujur dalam beribadah. Tapi apakah hidup mereka lurus-urus saja tanpa isak tangis? Tidak . Ingat Nabi Ya’qub? Beliau seorang Nabi, pejuang yang jauh dari kata "kaleng-kaleng". Beliau bersedih, sang...

Di Balik Mahkota yang Kau Pintal

Anak-anakku yang dicintai Allah... Hari ini, kita tidak sedang merayakan sekadar selesainya sebuah jenjang sekolah. Hari ini, kita sedang berdiri di sebuah terminal waktu, menoleh sejenak ke belakang sebelum melanjutkan safar (perjalanan) yang lebih jauh. Lihatlah tanganmu... tangan yang dulu kecil dan mungil, kini telah mampu memegang mushaf dengan kokoh. Lisanmu yang dulu kelu, kini telah terbiasa melantunkan kalamullah. Namun, tanyakan pada hatimu, untuk siapa semua lelah ini kau tujukan? Ingatlah, menghafal Al-Qur'an bukan tentang seberapa cepat kau khatam, tapi tentang seberapa sering ayat-ayat itu mengetuk pintu hatimu dan merubah adabmu. Jangan biarkan Al-Qur'an hanya sampai di kerongkongan, tapi biarkan ia meresap ke dalam aliran darahmu. Karena kelak, bukan sertifikat ini yang akan membelamu di hadapan Rabbul 'Alamin, melainkan syafaat dari ayat-ayat yang kau jaga dengan istiqomah. Sekarang, coba tengoklah wajah-wajah di depanmu... wajah ayah dan ibundamu. Mungkin ...