Tadi saya jajan bilor, bihun telor yang digulung di minyak panas. Belinya 5 tusuk, inimah seporsi keistimewaan banget, soalnya bukan cuma belinya, tapi juga di makan sendirian. MasyaAllah Alhamdulillahilladzii bini'matihii tatimmushshhalihaat. Ketemu banyak orang di sepanjang bumi ageung, ngobrol sebentar sama wa Dadah yang sedang memotong sayuran untuk di buat bakwan di depan rumah wa Tika, ketemu teh Ida, teh Epon, dan masih banyak lagi yang jarang saya jumpai di hari biasa. MasyaAllah FTBI membawa berkah tersendiri bagi saya. Dan, untuk itu saya ingin menuliskannya di sini. Menuliskan apa saja? Hmm SATU Karena hari ini masih FTBI di bumi ageung dan sayapun tidak berangkat kerja, jadi ngadaweung bari ngahuleng eh maca buku dan juga sarapan sambil dengerin suara burung bercicit jadi agenda yang menggembirakan pagi saya Zaman anak-anak masih kecil mah mana ada cerita nyantey banget di pagi hari teh, meski nggak di bikin seolah riweuh banget tapi tetap saja namanya punya anak keci...
Well, ini dia kalimat pembuka komentar di postingan IG saya. " maaf ibu, mohon anak laki-laki ibu diajari beretika." Hmm Kalimat tersebut sarat dengan muatan psikologis, manipulasi komunikasi, dan strategi serangan personal (i think) Mari kita analisa step by step: Penggunaan kata "maaf ibu" dan "mohon" di awal kalimat itu merupakan bentuk politeness marker yang manipulatif. Fungsinya dipakai bukan sebagai bentuk kerendahan hati atau itikad baik, melainkan sebagai perisai atau disclaimer agar pengirim komentar tidak terlihat kasar. Realitasnya, ini adalah teknik komunikasi pasif agresif, pembukaan yang seolah santun namun langsung dihancurkan oleh isi komentar atau pesan yang bersifat tuduhan miring. Serangan Ad Hominem dan Pergeseran Fokus (Shifting Blame). Kalimat ini sengaja mengalihkan persoalan utama, menjadi tuduhan terhadap pola asuh saya sebagai seorang ibu. Maksudnya maybe dengan mendaratkan tuduhan pada kalimat "diajari beretika", ...