Langsung ke konten utama

Postingan

Menikmati Literasi

 Ada hari-hari di mana membaca bukan lagi sekadar mengejar target lembar demi lembar, melainkan menjadi cara terbaik untuk recharge energi dan merawat ingatan. Minggu ini, targetnya menuntaskan minimal empat buku. Sebuah keputusan yang mendadak makin meriah karena berawal dari pertanyaan sederhana salah satu anak saya: "Mi, Shalahuddin Al-Ayyubi sama Al-Fatih teh duluan siapa?" Meski refleks menjawab dengan yakin, detik berikutnya muncul keraguan tipis yang bikin gemas sendiri. Apakah ini gejala brain fog , atau memang sudah waktunya menyegarkan ingatan? Apapun itu, buku sejarah akhirnya ikut meluncur ke dalam tumpukan bacaan minggu ini. Karena pada akhirnya, membaca adalah sarana pengingat terbaik—sekalipun nanti lupa lagi, kita selalu punya kesempatan untuk membukanya kembali. Di tengah kondisi tubuh yang sedang flare-up dan fatigue akibat autoimun, ketersediaan energi memang sedang di mode hemat. Ketika ada yang bertanya mengapa di usia dan fase ini masih sibuk membaca ...
Postingan terbaru

Menjeda Rasa

 Niatnya sih mengikuti maunya mata buat terpejam dulu, saking ngantuknya. Namun rupanya ngantuk saat ini hanya kerjaan mata, otaknya malah tidak sinkron... Tidak terpejam sekejap pun. Larinya ya tetap terasa sakit. Kalau tidur kan tidak terasa sakitnya; entah sakitnya hilang atau memang tidak terasa karena sedang tertidur. Kang Wawan pulang cepat karena mengkhawatirkan istrinya yang sebelumnya menangis terus. Mata saya sembab bukan karena ada persoalan rumah tangga atau semisalnya, namun rupanya faktor U membuat sakit yang biasa dirasakan terasa jauh lebih sakit. Atau memang sedang jauh lebih sakit? Biasanya tidak sampai menangis keras. Kali ini, setiap kali sakitnya datang, tangis pun riuh... Saya sendiri tidak bisa—dan tidak berniat—membendungnya. Biarkan saja tangisnya pecah, meluruhkan sebagian rasa... Mamah mengirim nasi dan lauk-pauk, khawatir anak perempuannya ini belum makan. Ada pepes jantung dan pais singkong, juga sarikaya yang diolah dari pisang oleh-oleh Kang Wawan kem...

Diantara Jeda

Kantuk mulai menyerang, setelah dua malam berturut-turut mata ini enggan terpejam. Rasa sakit di kepala datang tak diundang, membawa ritme yang anehnya begitu familiar, durasinya mirip sekali dengan rasa mulas saat hendak melahirkan. Kemarin, ia masih datang sesekali, seperti sekadar mengetuk pintu. Namun semalam, ia datang saban lima menit sekali. Begitu Subuh berlalu, intensitasnya makin menjadi-jadi. Dan di sinilah saya sekarang. Berada di persimpangan, di antara gelombang sakit yang terus datang bergantian. Dalam jeda di antara denyutnya, saya hanya bisa diam sebentar sambil memegang kepala yang rasanya... aduhai. Tak jarang, air mata menetes begitu saja. Bukan hanya karena menahan nyeri, tapi juga karena lelah yang teramat sangat. Saya memang memilih menceritakannya di sini, meski jujur, saya tidak pernah yakin bagaimana cara mendeskripsikan skala atau level sakitnya secara tepat. Namun satu hal yang saya tahu pasti: saya tidak suka jika ada yang melihat langsung saat saya berada ...

Memaknai Jeda

 Akhirnya saya memilih mengalah pada instruksi Akang untuk tetap di rumah. Pertimbangannya sederhana: tubuh ini punya hak yang sudah saatnya ditagih untuk rehat. Meskipun di dalam hati, pikiran sempat bersitegang sendiri, “Bukankah selama ini juga sudah rehat?” Sebagai seseorang yang memang tidak gampang begitu saja mengikuti arahan, menyanggah kerap menjadi jalan kengeyelan yang paling apik. Ah, tapi sudahlah. Kadang-kadang kita hanya butuh meluapkan kalimat-kalimat kecil itu agar tumpukan pikiran utuh menjadi sebuah perenungan. Antara Sanggahan dan Kemanjaaan yang Manis Sebelum berangkat bekerja menjelang Dzuhur, Kang Wawan setia menemani. Beliau tidak hanya menyimak sanggahan saya saat diminta beristirahat, tetapi juga dengan tenang merespons balik. “Ummi kan enggak banyak aktivitas, Sayang. Kenapa harus istirahat?” tanya saya waktu itu. Padahal jauh di dalam diri, saya sangat memahami bahwa kondisi tubuh yang seperti ini membutuhkan jeda bukan sekadar karena padatnya fisik yan...

Menyapa Jeda

 Semalaman, kepala sebelah kiri terasa ditabuh hebat. Nyut, nyut, nyuuut,  sebuah ritme berdenyut keras yang seolah enggan memberi ruang bagi mata untuk terpejam, bahkan hingga detik ini. Tubuh ini memang sering kali memiliki bahasanya sendiri. Ia begitu dinamis, merespon cepat setiap dinamika hidup, bahkan ketika pikiran merasa sedang baik-baik saja ( I’m okay ). Dalam hitungan detik, kondisi fisik bisa bergeser tanpa jeda kompromi: dari fit menjadi lelah kronis, dari tawa renyah menjadi sakit kepala hebat atau nyeri sendi yang menembus batas rasa. Mungkin tubuh ini sedang jujur, menyampaikan apa yang sering kali diabaikan oleh logika. Pagi ini, terhuyung saya berjalan menuju teras depan. Menjatuhkan diri, rebahan di atas karpet sederhana, menyaksikan Kang Wawan yang sibuk membersihkan kendaraan. Di luar, nyanyian burung tetap bergema seperti pagi-pagi biasanya—menawarkan ketenangan yang kontras dengan denyut di kepala dan nyeri di kaki kiri yang datang tanpa aba-aba. Di anta...

Today, To Day

  Tadi saya jajan bilor, bihun telor yang digulung di minyak panas. Belinya 5 tusuk, inimah seporsi keistimewaan banget, soalnya bukan cuma belinya, tapi juga di makan sendirian. MasyaAllah Alhamdulillahilladzii bini'matihii tatimmushshhalihaat. Ketemu banyak orang di sepanjang bumi ageung, ngobrol sebentar sama wa Dadah yang sedang memotong sayuran untuk di buat bakwan di depan rumah wa Tika, ketemu teh Ida, teh Epon, dan masih banyak lagi yang jarang saya jumpai di hari biasa. MasyaAllah FTBI membawa berkah tersendiri bagi saya. Dan, untuk itu saya ingin menuliskannya di sini. Menuliskan apa saja? Hmm SATU Karena hari ini masih FTBI di bumi ageung dan sayapun tidak berangkat kerja, jadi ngadaweung bari ngahuleng eh maca buku dan juga sarapan sambil dengerin suara burung bercicit jadi agenda yang menggembirakan pagi saya Zaman anak-anak masih kecil mah mana ada cerita nyantey banget di pagi hari teh, meski nggak di bikin seolah riweuh banget tapi tetap saja namanya punya anak keci...

Ada Komentar di IG (bagian 2)

  Well, ini dia kalimat pembuka komentar di postingan IG saya. " maaf ibu, mohon anak laki-laki ibu diajari beretika."    Hmm Kalimat tersebut sarat dengan muatan psikologis, manipulasi komunikasi, dan strategi serangan personal (i think) Mari kita analisa step by step: Penggunaan kata "maaf ibu" dan "mohon" di awal kalimat itu merupakan bentuk politeness marker yang manipulatif. Fungsinya dipakai bukan sebagai bentuk kerendahan hati atau itikad baik, melainkan sebagai perisai atau disclaimer agar pengirim komentar tidak terlihat kasar. Realitasnya, ini adalah teknik komunikasi pasif agresif, pembukaan yang seolah santun namun langsung dihancurkan oleh isi komentar atau pesan yang bersifat tuduhan miring. Serangan Ad Hominem dan Pergeseran Fokus (Shifting Blame). Kalimat ini sengaja mengalihkan persoalan utama, menjadi tuduhan terhadap pola asuh saya sebagai seorang ibu. Maksudnya maybe dengan mendaratkan tuduhan pada kalimat "diajari beretika", ...