Kemudian saya belajar kembali hal lainnya, bahwa tidur itu bukan harus banyak, namun SECUKUPNYA. Ini juga yang sering saya ceritakan kepada anak-anak dikarenakan kesibukan mereka saat ini dimana kuantitas tidur semakin berkurang, benar saja waktu terasa kurang saat agenda tugas mulai meningkat seiring amanah yang bertambah, ini pula yang kemudian dialami anak-anak di fasenya sekarang. Bukan hanya manajemen waktu yang dibutuhkan, namun juga manajemen hati untuk berlapang dada pada apapun yang diterima oleh diri. Oh wait, saya sedang mengingat kembali moment beberapa hari flare up yang membuat diri tidak bisa tertidur, benar-benar tidak bisa tidur. Karena sakit kepala yang luar biasa hebat. Saya menceritakannya kembali sebagai pengingat bagi diri saya, dan anda yang berkesempatan membaca tulisan ini. Tentang nikmat tidur yang akan terasa nikmatnya kala hal itu dicabut sementara, lalu tentang kualitas tidur yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan lamanya waktu tidur, dan bahwa...
Al-Qur'an, buku parenting karya Ustadz Aad, dan novel DallerGut Toko Penjual Mimpi karya Lee Mi-ye menjadi teman setia yang menemani saya selama melalui nikmat Allah yang lainnya. Nikmat? Yaa, masih banyak hal lain yang jauh lebih layak disyukuri dibandingkan mengucap sakit sebagai sesuatu yang menyedihkan. Masih diberikan nikmat mencicipi makanan, nikmat dibersamai orang-orang tersayang, nikmat mengobrol meski via chat, nikmat rebahan walau tanpa tertidur, hingga nikmat menghirup udara segar di teras dengan cicit burung di pagi dan sore hari. Tidak hanya itu, menyimak obrolan saudara via WAG, menulis di media sosial—ah ya, saya pun diberikan-Nya kesempatan menulis agak banyak di blog melalui waktu rebahan ini—membaca, ditemani de Olin yang jauh lebih pengertian dan perhatian, serta nikmat mengistirahatkan tubuh dan kepala yang sering kali berisik dengan banyak hal yang dituntut oleh diri sendiri untuk diselesaikan. Ya, saya memang sering menuntut banyak hal dari diri sendiri. Itu...