Ada hari-hari di mana membaca bukan lagi sekadar mengejar target lembar demi lembar, melainkan menjadi cara terbaik untuk recharge energi dan merawat ingatan. Minggu ini, targetnya menuntaskan minimal empat buku. Sebuah keputusan yang mendadak makin meriah karena berawal dari pertanyaan sederhana salah satu anak saya: "Mi, Shalahuddin Al-Ayyubi sama Al-Fatih teh duluan siapa?" Meski refleks menjawab dengan yakin, detik berikutnya muncul keraguan tipis yang bikin gemas sendiri. Apakah ini gejala brain fog , atau memang sudah waktunya menyegarkan ingatan? Apapun itu, buku sejarah akhirnya ikut meluncur ke dalam tumpukan bacaan minggu ini. Karena pada akhirnya, membaca adalah sarana pengingat terbaik—sekalipun nanti lupa lagi, kita selalu punya kesempatan untuk membukanya kembali. Di tengah kondisi tubuh yang sedang flare-up dan fatigue akibat autoimun, ketersediaan energi memang sedang di mode hemat. Ketika ada yang bertanya mengapa di usia dan fase ini masih sibuk membaca ...
Niatnya sih mengikuti maunya mata buat terpejam dulu, saking ngantuknya. Namun rupanya ngantuk saat ini hanya kerjaan mata, otaknya malah tidak sinkron... Tidak terpejam sekejap pun. Larinya ya tetap terasa sakit. Kalau tidur kan tidak terasa sakitnya; entah sakitnya hilang atau memang tidak terasa karena sedang tertidur. Kang Wawan pulang cepat karena mengkhawatirkan istrinya yang sebelumnya menangis terus. Mata saya sembab bukan karena ada persoalan rumah tangga atau semisalnya, namun rupanya faktor U membuat sakit yang biasa dirasakan terasa jauh lebih sakit. Atau memang sedang jauh lebih sakit? Biasanya tidak sampai menangis keras. Kali ini, setiap kali sakitnya datang, tangis pun riuh... Saya sendiri tidak bisa—dan tidak berniat—membendungnya. Biarkan saja tangisnya pecah, meluruhkan sebagian rasa... Mamah mengirim nasi dan lauk-pauk, khawatir anak perempuannya ini belum makan. Ada pepes jantung dan pais singkong, juga sarikaya yang diolah dari pisang oleh-oleh Kang Wawan kem...