Sering kali kita terjebak pada keinginan untuk terlihat bijak di hadapan anak-anak kita, hingga tanpa sadar kita melakukan apa yang disebut sebagai Talbis Iblis dalam pendidikan. Kita membungkus kelemahan hati kita—ketidakberanian kita dalam menegakkan aturan—dengan kemasan kasih sayang yang semu. Kita mulai alergi dengan kata "hukuman", lalu menggantinya dengan deretan eufemisme atau penghalusan kata yang melenakan. Padahal, penghalusan kata yang mengaburkan hakikat kebenaran adalah pintu gerbang menuju rusaknya karakter generasi. Dalam Islam, agama yang telah sempurna ini, hukuman memiliki kedudukan yang jelas. Hukuman ya hukuman. Di sinilah pentingnya Tahkiful Makna , yakni menegaskan makna yang sebenarnya. Saat seorang guru atau orang tua menghaluskan istilah hukuman menjadi sesuatu yang terdengar "nyaman", saat itulah kita sedang mengaburkan realitas di benak anak. Mereka kehilangan kepekaan terhadap konsekuensi serius dari sebuah pelanggaran. Wibawa aturan pu...
Ada saatnya dalam perjalanan mendampingi buah hati atau anak didik, kita harus berani mengambil langkah mundur. Bukan karena lelah yang tak terlukiskan setelah melewati badai tantrum, tangis yang memicu muntah, atau keengganan yang membatu untuk sekadar masuk ke ruang kelas. Kita mundur justru karena mencintai pertumbuhannya. Berhenti mendampingi karena ingin memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri yang utuh. Saya ingat betul bagaimana hari-hari kemarin. Melelahkan, memang. Mengondisikan anak yang hanya mau berteduh di kantor hingga jam pulang, menolak berbaur, dan menutup diri dari riuh rendahnya pertemanan, membutuhkan stok kesabaran yang tidak boleh putus di tengah jalan. Namun lihatlah hari ini. Anak yang dulu "terpenjara" oleh emosinya sendiri, kini mulai mampu mengendalikan kemudi rasanya. Ia telah memiliki regulasi emosi yang baik. Ia telah memiliki inisiatif. Dan yang paling mengharukan, ia kini punya nyali untuk berkompetisi dan kepercayaan diri untuk berdiri...