Well, ini dia kalimat pembuka komentar di postingan IG saya. " maaf ibu, mohon anak laki-laki ibu diajari beretika." Hmm Kalimat tersebut sarat dengan muatan psikologis, manipulasi komunikasi, dan strategi serangan personal (i think) Mari kita analisa step by step: Penggunaan kata "maaf ibu" dan "mohon" di awal kalimat itu merupakan bentuk politeness marker yang manipulatif. Fungsinya dipakai bukan sebagai bentuk kerendahan hati atau itikad baik, melainkan sebagai perisai atau disclaimer agar pengirim komentar tidak terlihat kasar. Realitasnya, ini adalah teknik komunikasi pasif agresif, pembukaan yang seolah santun namun langsung dihancurkan oleh isi komentar atau pesan yang bersifat tuduhan miring. Serangan Ad Hominem dan Pergeseran Fokus (Shifting Blame). Kalimat ini sengaja mengalihkan persoalan utama, menjadi tuduhan terhadap pola asuh saya sebagai seorang ibu. Maksudnya maybe dengan mendaratkan tuduhan pada kalimat "diajari beretika", ...
Wait, saya harus menarik nafas sejenak sebelum menceritakan ini. Satu, dua, tiga.. Baiklah.. sekarang waktunya bercerita. Beberapa hari lalu, sebuah notifikasi komentar masuk di salah satu unggahan Instagram saya. Hey, bukankah hal biasa sebuah postingan mendapatkan komentar? iya, memang biasa, namun berbeda bagi saya hari itu, kalimatnya datang dari sebuah nama yang sama sekali tidak saya kenal, namun justru hadir dengan nada yang begitu percaya diri. Bukan untuk bertukar pikiran secara santun, melainkan mendaratkan tuduhan yang mendadak: mempertanyakan bahkan cenderung menghakimi cara saya mendidik anak, melayangkan tuntutan agar hal-hal usang dari masa lalu dikembalikan, hingga merangkai kalimat-kalimat ancaman moral yang mencoba membenturkan kualitas saya sebagai seorang ibu.. Di titik ini saya berusaha mencerna arah. Meski saat pertama kali membaca deretan ketikan itu, saya tidak merasakan amarah atau kepanikan. Yang ada malah ketawa disusul sebuah ketertarikan untuk memahami...