Bab terakhir dari novel 1984 karya George Orwell bukanlah penutup yang penuh kemenangan. Tidak ada revolusi. Tidak ada perlawanan yang berhasil. Yang ada hanyalah kehancuran seorang manusia yang dulu pernah berani berpikir bebas. Setelah melewati proses penyiksaan panjang di Kementerian Cinta, Winston akhirnya keluar kembali ke masyarakat. Secara fisik ia masih hidup, tetapi sesuatu yang jauh lebih penting telah hilang dari dirinya. Jiwanya. Winston kini menjalani hidup yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi bekerja di Kementerian Kebenaran seperti dulu. Hari-harinya dihabiskan di sebuah kafe yang sepi, duduk sendirian sambil meminum gin murah yang dulu sangat ia benci. Minuman itu kini menjadi pelarian yang menenangkan pikirannya. Dunia di sekitarnya berjalan seperti biasa. Propaganda Partai terus disiarkan. Telescreen terus berbicara tentang kemenangan perang dan kehebatan negara. Namun yang paling mengejutkan bukanlah dunia yang tetap sama. Yang berubah adalah Wi...
Calon ummahat… Ada masa yang begitu indah dalam kehidupan seorang perempuan. Masa ketika hati dipenuhi harapan, dan pikiran dipenuhi bayangan tentang masa depan. Tentang pernikahan yang hangat. Tentang suami yang lembut. Tentang rumah yang penuh tawa. Tentang anak-anak yang tumbuh dalam pelukan cinta. Di masa itu… segalanya terasa mungkin. Kita menulisnya dalam buku-buku kecil. Menyusunnya dalam daftar harapan. Bahkan mengucapkannya dalam doa-doa panjang yang penuh keyakinan: "Ya Allah… jadikan aku istri yang shalihah… jadikan aku ibu yang sabar… aku ingin rumah tanggaku seperti ini… seperti itu…" Dan setiap kali membayangkannya… hati terasa hangat. Seolah hidup nanti akan berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Adikku… Tidak ada yang salah dengan itu. Memiliki harapan adalah bagian dari iman. Memiliki gambaran tentang kebaikan adalah tanda hati yang hidup. Namun ada satu hal yang seringkali luput kita sadari… Bahwa ketika konsep itu terlalu kuat kita pegang, ia bisa...