Menatap Indonesia hari ini sering kali memicu berbagai perasaan yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada rasa bangga atas perjalanan yang telah dilalui; di sisi lain, muncul kecemasan melihat berbagai persoalan yang tak kunjung usai. Setiap kita memang memiliki prioritas, pandangan, dan peran yang berbeda. Namun, pada akhirnya, apa pun porsi yang kita ambil, muaranya tetap satu: bentuk cinta kita kepada republik ini. Sebagai sebuah entitas, Indonesia sejatinya masih relatif muda—sebuah republik yang baru menginjak usia 80 tahun. Sepanjang dinamika tersebut, bangsa ini mengalami pasang surut ( up and down ), persis seperti kehidupan seorang manusia. Kita pernah melewati periode konflik masif dan krisis hebat di masa lalu. Ironisnya, dalam dinamika hari ini, kita kerap lebih fokus pada hal-hal buruk dibanding hal baik yang telah berhasil kita lalui, padahal sejarah membuktikan kita pernah melewati badai yang jauh lebih gelap dari hari ini. Menyalakan Cahaya di Tengah Narasi Negatif Sifa...
Bab terakhir dari novel 1984 karya George Orwell bukanlah penutup yang penuh kemenangan. Tidak ada revolusi. Tidak ada perlawanan yang berhasil. Yang ada hanyalah kehancuran seorang manusia yang dulu pernah berani berpikir bebas. Setelah melewati proses penyiksaan panjang di Kementerian Cinta, Winston akhirnya keluar kembali ke masyarakat. Secara fisik ia masih hidup, tetapi sesuatu yang jauh lebih penting telah hilang dari dirinya. Jiwanya. Winston kini menjalani hidup yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi bekerja di Kementerian Kebenaran seperti dulu. Hari-harinya dihabiskan di sebuah kafe yang sepi, duduk sendirian sambil meminum gin murah yang dulu sangat ia benci. Minuman itu kini menjadi pelarian yang menenangkan pikirannya. Dunia di sekitarnya berjalan seperti biasa. Propaganda Partai terus disiarkan. Telescreen terus berbicara tentang kemenangan perang dan kehebatan negara. Namun yang paling mengejutkan bukanlah dunia yang tetap sama. Yang berubah adalah Wi...