Dunia digital hari ini adalah lanskap yang unik sekaligus rapuh. Ia memangkas jarak yang membentang ratusan kilometer, namun acapkali menipiskan batas-batas adab yang dahulu dijaga begitu sakral oleh para leluhur kita. Di balik layar kaca yang dingin dan licin, jemari kerap bergerak lebih cepat daripada nurani. Emosi melompat jauh melangkahi pertimbangan rasional, membuat siapapun begitu mudah merangkai kata, meluapkan asumsi, lalu menembakkannya ke semesta publik tanpa sempat memikirkan rasa malu, etika, atau dampak emosional pada jiwa yang ditujunya. Beberapa waktu lalu, sebuah peristiwa kecil mampir di halaman media sosial saya. Sebuah komentar dari seseorang mendadak muncul di bawah salah satu catatan doa yang murni saya tuliskan sebagai wujud kasih sayang seorang ibu untuk anak-anaknya. Isi komentar itu sungguh di luar dugaan. Bukan sekadar dialog atau sanggahan biasa, melainkan lembaran kalimat tegas yang memerintah, menyerang cara saya mendidik anak-anak, bahkan menyisipkan...
"Breastfeeding or nursing is the feeding of babies and young children with milk from a woman's breast." — Wikipedia Proses luar biasa lainnya yang dilalui seorang ibu setelah melahirkan adalah breastfeeding atau menyusui. Mengapa luar biasa? Karena proses ini tidak semudah pengucapannya, terlebih bagi para pejuang ASI ( bunsui ) yang baru pertama kali menghadapinya. Ini sungguh tidak mudah. Wahnan ’alaa wahnin ... Begitulah penggambaran Robbul ’Aalamin tentang perjuangan wanita yang bermetamorfosis menjadi seorang ibu. Allah Ta’ala Mahatahu bahwa proses ini memang penuh tantangan. Payudara yang membengkak hingga luka di sekitar puting tentu terasa sangat menyakitkan. Apalagi ketika disusukan pada bayi yang gusi kecilnya tiba-tiba menggigit—rasa sakitnya bahkan sanggup membuat tubuh meriang. Ya, si gusi kecil yang tumpul itu terkadang terlihat begitu "menakutkan" di awal masa menyusui. Dilema Bayi yang Terus Menyusu Ada tipe bayi yang sangat mudah lapar, seola...