Ada satu perjalanan yang tidak terlihat, namun sangat menentukan arah kehidupan seorang ibu. Bukan perjalanan keluar rumah, bukan pula perjalanan yang diukur jarak. Melainkan perjalanan pulang— kepada dirinya sendiri. Tidak semua ibu langsung sampai pada titik ini. Sebagian harus melewati lelah yang panjang. Rasa bersalah yang berulang. Dan perbandingan yang diam-diam melukai. Sampai akhirnya, ia tiba pada satu kesadaran yang sederhana, namun tidak mudah: bahwa ia tidak bisa terus-menerus bersikap keras pada dirinya sendiri. Selama ini, mungkin ia begitu lembut kepada anak-anaknya. Ia memahami tangis mereka. Ia memaklumi kesalahan mereka. Ia memberi ruang bagi mereka untuk belajar. Namun kepada dirinya sendiri… ia sering kali berbeda. Ia menuntut. Ia menghakimi. Ia jarang memberi ruang untuk gagal. Seolah-olah ia harus selalu benar, selalu sabar, selalu cukup. Padahal, ia juga manusia. Ia juga sedang belajar. Dan seperti anak-anaknya, ia pun berhak untuk bertumbuh tanpa harus selalu se...
Bismillahirrahmanirrahim… Untukmu, yang mungkin tidak pernah meminta dituliskan… tapi diam-diam selalu layak untuk diceritakan. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Karena tentangmu… bukan hanya tentang apa yang terlihat, tapi tentang banyak hal yang engkau sembunyikan agar aku tetap baik-baik saja. Engkau tahu? Aku sering merasa tubuh ini tidak sekuat dulu. Lelah datang tanpa aba-aba, energi hilang tanpa izin, dan kadang… aku bahkan tidak mengerti diriku sendiri. Di saat seperti itu, aku bukan hanya takut pada sakitnya… tapi juga takut merepotkanmu. Takut menjadi beban. Takut tidak lagi menjadi istri yang “cukup”. Tapi engkau… tidak pernah sekalipun membuatku merasa seperti itu. Engkau tidak bertanya kenapa aku selemah ini. Engkau tidak mengeluh saat aku tidak bisa banyak membantu. Engkau tidak membandingkan aku dengan siapa pun. Engkau hanya… tetap tinggal. Tetap sabar. Tetap melakukan banyak hal… tanpa aku minta. Kadang aku melihatmu diam-diam— mengambil alih pekerjaan yang sehar...