Langsung ke konten utama

Postingan

The Final Chapter

Ada sebuah prinsip mendasar yang saya pegang teguh: bahwa ada jenis kenyamanan yang tidak boleh datang dari 'pemberian' manusia, melainkan harus dijemput melalui sebuah keputusan strategis untuk berdiri di atas kaki sendiri. Itulah yang saya sebut sebagai upaya menjaga Izzah (harga diri). Seringkali, banyak orang hanya terpaku pada the final chapter —mereka melihat hasil yang nampak hari ini. Namun, mereka alpa menoleh pada the long and winding road yang kami lalui; tentang jejak kaki yang berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, beradu dengan sesaknya tagihan sewa di tengah biaya pendidikan yang mulai meninggi. Bagi saya, membangun rumah bukan sekadar laying bricks atau menyusun bata, melainkan sebuah ikhtiar restoring dignity —menyusun kembali martabat yang sempat terkikis oleh badai fitnah. Namun, di tengah perjuangan itu, saya dihadapkan pada sebuah distorted truth . Sungguh sebuah fenomena yang menyesakkan dada saat kenyamanan yang kami bangun dengan darah dan a...
Postingan terbaru

Ikhlas yang Manusiawi

Ada beberapa orang yang gemar sekali membungkus realita dengan kata-kata mutiara, yang sayangnya, sering kali lupa menyertakan "mutiaranya". Mereka bilang, orang yang ikhlas itu tidak akan pernah mengeluh. Katanya, kalau hati sudah rida, lelah dan sedih bakal hilang ditelan bumi. Terdengar cantik untuk dijadikan takarir foto di media sosial, tapi jujur saja, itu omong kosong yang berbahaya. Kita ini manusia, bukan robot yang diprogram untuk tidak punya rasa. Kita punya jantung yang bisa berdegup kencang karena takut, dan air mata yang bisa jatuh tanpa izin karena luka. Kalau ikhlas artinya kehilangan rasa sakit, maka kita sedang dipaksa menjadi mayat sebelum waktunya. Coba kita tengok sejarah. Siapa yang lebih tangguh dari para Nabi? Mereka adalah manusia-manusia paling jujur dalam beribadah. Tapi apakah hidup mereka lurus-urus saja tanpa isak tangis? Tidak . Ingat Nabi Ya’qub? Beliau seorang Nabi, pejuang yang jauh dari kata "kaleng-kaleng". Beliau bersedih, sang...

Di Balik Mahkota yang Kau Pintal

Anak-anakku yang dicintai Allah... Hari ini, kita tidak sedang merayakan sekadar selesainya sebuah jenjang sekolah. Hari ini, kita sedang berdiri di sebuah terminal waktu, menoleh sejenak ke belakang sebelum melanjutkan safar (perjalanan) yang lebih jauh. Lihatlah tanganmu... tangan yang dulu kecil dan mungil, kini telah mampu memegang mushaf dengan kokoh. Lisanmu yang dulu kelu, kini telah terbiasa melantunkan kalamullah. Namun, tanyakan pada hatimu, untuk siapa semua lelah ini kau tujukan? Ingatlah, menghafal Al-Qur'an bukan tentang seberapa cepat kau khatam, tapi tentang seberapa sering ayat-ayat itu mengetuk pintu hatimu dan merubah adabmu. Jangan biarkan Al-Qur'an hanya sampai di kerongkongan, tapi biarkan ia meresap ke dalam aliran darahmu. Karena kelak, bukan sertifikat ini yang akan membelamu di hadapan Rabbul 'Alamin, melainkan syafaat dari ayat-ayat yang kau jaga dengan istiqomah. Sekarang, coba tengoklah wajah-wajah di depanmu... wajah ayah dan ibundamu. Mungkin ...

Di Antara Baris Hafalanmu

Di bawah langit sekolah yang kini terasa berbeda, Kami berdiri, menatap punggungmu yang mulai tegap. Rasanya baru kemarin, tangan kecilmu menggenggam jemari kami, Mengeja satu demi satu huruf alif, ba, dan ta, Dengan lisan yang masih kelu, namun penuh cahaya. Tiga tahun... Ternyata waktu adalah pelukis yang paling sunyi. Ia bekerja di sela-sela lelahmu menghafal ayat demi ayat, Di antara kantuk yang kau lawan demi menjaga setoran, Dan di dalam doa-doa kami yang melangit tanpa jeda. Anakku, Kalifa Firdausy Fahrin... Mahkota yang kau impikan itu, kini mulai nampak bentuknya. Bukan terbuat dari emas yang akan pudar oleh usia, Melainkan dari aksara langit yang kau simpan di dalam dada. Kau tidak hanya sedang belajar menghafal, Kau sedang membangun jalan pulang untuk kami ke surga. Maafkan jika di sepanjang perjalanan ini, Suara kami terkadang meninggi karena khawatirnya hati. Maafkan jika tuntutan kami terkadang terasa membebani. Sesungguhnya, kami hanya takut jika kau kehilangan arah, Di ...

The Day at the City

It was a bright Saturday morning. Rifda, Kamila, and Hazmi were excited because they were going to explore the city with their parents. "Good morning, everyone! Are you ready?" asked Kamila's mother. "Yes, Mom!" they all cheered. First, they went to the Post Office to send a letter to their grandmother. "What do we do here?" asked Hazmi. "We buy stamps and send letters, Hazmi," explained Rifda. After that, they rode a bus to the Library . "I want to borrow a book about animals!" said Kamila excitedly. On their way to the library, Hazmi suddenly held his stomach. "Oh, no! I have a stomachache ," he groaned. Rifda and Kamila looked worried. "What's wrong with you, Hazmi?" asked Rifda. "My stomach hurts," he replied. Their parents quickly found a small clinic near the library. The doctor checked Hazmi. "You ate too much candy, didn't you, Hazmi?" asked the doctor kindly. Hazmi nodded sh...