Al-Qur'an, buku parenting karya Ustadz Aad, dan novel DallerGut Toko Penjual Mimpi karya Lee Mi-ye menjadi teman setia yang menemani saya selama melalui nikmat Allah yang lainnya. Nikmat? Yaa, masih banyak hal lain yang jauh lebih layak disyukuri dibandingkan mengucap sakit sebagai sesuatu yang menyedihkan. Masih diberikan nikmat mencicipi makanan, nikmat dibersamai orang-orang tersayang, nikmat mengobrol meski via chat, nikmat rebahan walau tanpa tertidur, hingga nikmat menghirup udara segar di teras dengan cicit burung di pagi dan sore hari. Tidak hanya itu, menyimak obrolan saudara via WAG, menulis di media sosial—ah ya, saya pun diberikan-Nya kesempatan menulis agak banyak di blog melalui waktu rebahan ini—membaca, ditemani de Olin yang jauh lebih pengertian dan perhatian, serta nikmat mengistirahatkan tubuh dan kepala yang sering kali berisik dengan banyak hal yang dituntut oleh diri sendiri untuk diselesaikan. Ya, saya memang sering menuntut banyak hal dari diri sendiri. Itu...
Ada hari-hari di mana membaca bukan lagi sekadar mengejar target lembar demi lembar, melainkan menjadi cara terbaik untuk recharge energi dan merawat ingatan. Minggu ini, targetnya menuntaskan minimal empat buku. Sebuah keputusan yang mendadak makin meriah karena berawal dari pertanyaan sederhana salah satu anak saya: "Mi, Shalahuddin Al-Ayyubi sama Al-Fatih teh duluan siapa?" Meski refleks menjawab dengan yakin, detik berikutnya muncul keraguan tipis yang bikin gemas sendiri. Apakah ini gejala brain fog , atau memang sudah waktunya menyegarkan ingatan? Apapun itu, buku sejarah akhirnya ikut meluncur ke dalam tumpukan bacaan minggu ini. Karena pada akhirnya, membaca adalah sarana pengingat terbaik—sekalipun nanti lupa lagi, kita selalu punya kesempatan untuk membukanya kembali. Di tengah kondisi tubuh yang sedang flare-up dan fatigue akibat autoimun, ketersediaan energi memang sedang di mode hemat. Ketika ada yang bertanya mengapa di usia dan fase ini masih sibuk membaca ...