Saat ini saya sedang duduk di ruangan kang Wawan, dengan kue kakaren lebaran pemberian murid, air mineral, jeruk segar, cctv yang menyala, dan hati yang entah bagaimana rupanya. Terasa campur aduk dengan tanya yang masih saja bergema. Di ruangan dengan kursi, meja dan tv yang sangat besar ini saya menulis sambil sesekali melihat ke arah monitor cctv, mengecek keadaan anak dari sini. Kenapa tidak langsung cek ke kelas? Nanti.. suatu saat yang entah kapan akan saya ceritakan alasannya. Apa kabar hari ini? Duhai diri yang kemarin di landa lelah yang amat, adakah yang sedang ingin diceritakan? Bolehkah diceritakan di sini? Itu yang pertama kali terlintas saat hendak mengawali tulisan. Bolehkah? Kata tanya yang di jawab dengan tulisan yang tidak akan diselesaikan. Well, cerita yang di jeda. Atau benar-benar usai? Semoga saja. Meski ada riuh di kepala, "bagaimana kalau terjadi lagi?", "bisakah dipercayai?" Akhirnya, catatan ini tak akan pernah kuselesaikan.. sementara i...
Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah lelah itu. Bukan pula tangis yang dulu sering jatuh diam-diam di sela-sela hari yang panjang. Yang tersisa… adalah syukur. Ketika perjalanan itu telah dilewati, ketika anak-anak tidak lagi kecil, ketika rumah tak lagi seramai dulu— barulah seorang ibu mulai melihat segalanya dengan cara yang berbeda. Dulu, hari-hari terasa begitu penuh. Penuh dengan suara. Penuh dengan permintaan. Penuh dengan kelelahan yang seolah tidak pernah selesai. Bahkan, ada saat-saat di mana waktu terasa berjalan begitu lambat. Seakan satu hari terasa lebih panjang dari seharusnya. Namun kini… justru kenangan itulah yang terasa singkat. Begitu cepat berlalu, hingga kadang hati bertanya: “Kapan semua itu terjadi?” Tangis yang dulu terasa berat, kini dikenang dengan senyum. Kelelahan yang dulu ingin segera berlalu, kini justru dirindukan dalam diam. Dan hari-hari yang dulu terasa biasa saja, ternyata adalah bagian paling berharga dari kehidupan. Seorang ibu mulai menyadari: ba...