Bab kedua puluh dalam novel 1984 karya George Orwell membawa pembaca pada sebuah kesunyian yang terasa sangat berat. Setelah penangkapan Winston dan Julia oleh Polisi Pikiran, cerita tidak lagi berbicara tentang harapan, perlawanan, atau kemungkinan kebebasan. Yang tersisa hanyalah kehancuran seorang manusia yang perlahan-lahan dilucuti dari segala yang ia miliki. Winston kini berada di Kementerian Cinta ( Ministry of Love ), tempat yang ironisnya justru menjadi pusat penyiksaan dan penghancuran mental bagi siapa pun yang dianggap musuh Partai. Di tempat inilah Partai melakukan hal yang paling mengerikan: bukan sekadar menghukum tubuh manusia, tetapi menghancurkan pikirannya. Di dalam sel yang dingin dan sunyi, Winston mulai menyadari satu kenyataan pahit. Tidak ada perlawanan yang berhasil. Tidak ada organisasi rahasia yang mampu menjatuhkan Partai. Semua yang ia yakini— The Brotherhood , buku Goldstein, bahkan hubungannya dengan Julia—perlahan terlihat seperti bagian dari per...
Saat ini saya sedang duduk di ruangan kang Wawan, dengan kue kakaren lebaran pemberian murid, air mineral, jeruk segar, cctv yang menyala, dan hati yang entah bagaimana rupanya. Terasa campur aduk dengan tanya yang masih saja bergema. Di ruangan dengan kursi, meja dan tv yang sangat besar ini saya menulis sambil sesekali melihat ke arah monitor cctv, mengecek keadaan anak dari sini. Kenapa tidak langsung cek ke kelas? Nanti.. suatu saat yang entah kapan akan saya ceritakan alasannya. Apa kabar hari ini? Duhai diri yang kemarin di landa lelah yang amat, adakah yang sedang ingin diceritakan? Bolehkah diceritakan di sini? Itu yang pertama kali terlintas saat hendak mengawali tulisan. Bolehkah? Kata tanya yang di jawab dengan tulisan yang tidak akan diselesaikan. Well, cerita yang di jeda. Atau benar-benar usai? Semoga saja. Meski ada riuh di kepala, "bagaimana kalau terjadi lagi?", "bisakah dipercayai?" Akhirnya, catatan ini tak akan pernah kuselesaikan.. sementara i...