Bab kedelapan novel 1984 karya George Orwell membawa pembaca keluar dari ruang-ruang dingin milik Partai menuju wilayah kaum proletar. Untuk pertama kalinya Winston benar-benar berjalan jauh ke daerah tempat rakyat biasa hidup—tempat yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh aturan ketat Partai. Perjalanan itu sebenarnya penuh risiko. Bagi anggota Partai seperti Winston, berkeliaran di wilayah proletar tanpa alasan yang jelas bisa menimbulkan kecurigaan. Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang mendorongnya untuk datang ke sana. Ia ingin melihat kehidupan yang tidak sepenuhnya dikendalikan propaganda. Daerah itu tampak berbeda dari wilayah tempat anggota Partai tinggal. Jalanannya sempit dan penuh bangunan tua. Toko-toko kecil berdiri tanpa aturan yang rapi. Orang-orang berjalan dengan bebas, berbicara dengan suara keras, bahkan bertengkar tanpa rasa takut akan telescreen. Namun kebebasan itu bukan kebebasan yang sepenuhnya sadar. Winston memperhatikan bagaimana kaum proletar hidup....
Bab ketujuh dalam novel 1984 karya George Orwell memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari bab-bab sebelumnya. Jika sebelumnya kita melihat bagaimana Partai mengontrol sejarah, bahasa, dan bahkan kehidupan pribadi manusia, maka pada bab ini Winston mulai memikirkan satu pertanyaan penting: apakah masih ada harapan untuk melawan kekuasaan itu? Winston menulis sebuah kalimat di buku hariannya yang sangat kuat: “Jika ada harapan, harapan itu ada pada kaum proletar.” Kalimat ini bukan sekadar catatan biasa. Ini adalah kesimpulan yang lahir dari pengamatannya terhadap masyarakat di sekitarnya. Dalam struktur masyarakat Oceania, kaum proletar—atau yang sering disebut proles —adalah kelompok terbesar. Mereka mencakup sebagian besar populasi. Namun anehnya, mereka justru tidak diawasi seketat anggota Partai. Mereka hidup dalam kemiskinan, bekerja keras, dan menjalani kehidupan yang sederhana, tetapi tidak berada di bawah pengawasan ideologis yang terlalu ketat. Partai menganggap mer...