Wait, saya harus menarik nafas sejenak sebelum menceritakan ini. Satu, dua, tiga.. Baiklah.. sekarang waktunya bercerita. Beberapa hari lalu, sebuah notifikasi komentar masuk di salah satu unggahan Instagram saya. Hey, bukankah hal biasa sebuah postingan mendapatkan komentar? iya, memang biasa, namun berbeda bagi saya hari itu, kalimatnya datang dari sebuah nama yang sama sekali tidak saya kenal, namun justru hadir dengan nada yang begitu percaya diri. Bukan untuk bertukar pikiran secara santun, melainkan mendaratkan tuduhan yang mendadak: mempertanyakan bahkan cenderung menghakimi cara saya mendidik anak, melayangkan tuntutan agar hal-hal usang dari masa lalu dikembalikan, hingga merangkai kalimat-kalimat ancaman moral yang mencoba membenturkan kualitas saya sebagai seorang ibu.. Di titik ini saya berusaha mencerna arah. Meski saat pertama kali membaca deretan ketikan itu, saya tidak merasakan amarah atau kepanikan. Yang ada malah ketawa disusul sebuah ketertarikan untuk memahami...
Dunia digital hari ini adalah lanskap yang unik sekaligus rapuh. Ia memangkas jarak yang membentang ratusan kilometer, namun acapkali menipiskan batas-batas adab yang dahulu dijaga begitu sakral oleh para leluhur kita. Di balik layar kaca yang dingin dan licin, jemari kerap bergerak lebih cepat daripada nurani. Emosi melompat jauh melangkahi pertimbangan rasional, membuat siapapun begitu mudah merangkai kata, meluapkan asumsi, lalu menembakkannya ke semesta publik tanpa sempat memikirkan rasa malu, etika, atau dampak emosional pada jiwa yang ditujunya. Beberapa waktu lalu, sebuah peristiwa kecil mampir di halaman media sosial saya. Sebuah komentar dari seseorang mendadak muncul di bawah salah satu catatan doa yang murni saya tuliskan sebagai wujud kasih sayang seorang ibu untuk anak-anaknya. Isi komentar itu sungguh di luar dugaan. Bukan sekadar dialog atau sanggahan biasa, melainkan lembaran kalimat tegas yang memerintah, menyerang cara saya mendidik anak-anak, bahkan menyisipkan...