Hari itu, 7 April 2003, alam semesta seolah sedang merayakan sesuatu. Di kalender, itu adalah hari kelahiran saya. Namun di dalam rumah Mamah, ada kehidupan lain yang mendesak ingin melihat dunia. Malam sudah larut. Udara dingin merayap pelan, dan rumah terasa lebih hening dari biasanya—sebuah suasana yang hingga hari ini masih bisa saya hirup aromanya. Saya ingat betul bagaimana Eteh dengan cekatan mengambil alih tumpukan cucian, bergerak pelan agar tak memecah sunyi. Mamah, dengan tangan yang penuh kasih, tak henti memijat punggung dan bagian belakang perut saya. Sentuhannya hangat, menenangkan, seolah menyalurkan sisa-sisa kekuatan masa mudanya ke dalam tubuh saya yang mulai kepayahan. Di tengah semua itu, ada Bidan Neneng. Suaranya rendah dan sabar, menjadi sauh bagi saya yang rewel menahan sakit yang terasa tak biasa. Dan di sana, di samping saya, ada Abi. Dalam temaram lampu malam, genggaman tangannya adalah satu-satunya hal yang membuat saya merasa masih berpijak di bumi. W...
Ada sebuah prinsip mendasar yang saya pegang teguh: bahwa ada jenis kenyamanan yang tidak boleh datang dari 'pemberian' manusia, melainkan harus dijemput melalui sebuah keputusan strategis untuk berdiri di atas kaki sendiri. Itulah yang saya sebut sebagai upaya menjaga Izzah (harga diri). Seringkali, banyak orang hanya terpaku pada the final chapter —mereka melihat hasil yang nampak hari ini. Namun, mereka alpa menoleh pada the long and winding road yang kami lalui; tentang jejak kaki yang berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, beradu dengan sesaknya tagihan sewa di tengah biaya pendidikan yang mulai meninggi. Bagi saya, membangun rumah bukan sekadar laying bricks atau menyusun bata, melainkan sebuah ikhtiar restoring dignity —menyusun kembali martabat yang sempat terkikis oleh badai fitnah. Namun, di tengah perjuangan itu, saya dihadapkan pada sebuah distorted truth . Sungguh sebuah fenomena yang menyesakkan dada saat kenyamanan yang kami bangun dengan darah dan a...