Jika harus menggambarkan tentangnya dengan satu kalimat, mungkin aku akan berkata— dia bukan seseorang yang banyak bicara, tapi selalu tahu harus berbuat apa. Tidak ada janji-janji panjang. Tidak ada kata-kata yang berlebihan. Bahkan kadang… tidak ada penjelasan apa-apa. Tapi justru di situlah aku belajar, bahwa tidak semua cinta perlu diucapkan. Sebagian… cukup dilakukan. Aku mulai menyadarinya di hari-hari ketika tubuhku tidak baik-baik saja. Hari-hari ketika aku lebih banyak diam, lebih banyak duduk, dan lebih sering memandangi hal-hal yang belum sempat aku selesaikan. Di hari-hari seperti itu… dia tidak bertanya banyak. Tidak ada kalimat, “Kenapa belum ini?” atau “Seharusnya kan bisa begitu.” Tidak. Dia hanya melihat. Lalu bergerak. Pelan, tanpa suara yang dibuat-buat. Aku pernah melihatnya mengambil alih pekerjaan yang biasa kulakukan— tanpa berkata apa-apa. Seolah itu bukan hal besar. Seolah itu memang sudah seharusnya. Padahal aku tahu… itu bukan kewajibannya sepenuhnya. Tapi di...
Ada masa ketika aku merasa… tidak enak menjadi diriku sendiri. Bukan karena aku tidak bersyukur, tapi karena aku merasa tidak lagi bisa menjadi seperti yang seharusnya. Sebagai seorang istri, aku tahu… ada banyak hal yang ingin aku lakukan. Mengurus rumah dengan rapi, menyediakan semuanya dengan baik, hadir dengan tenaga yang utuh, dan menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Itu keinginan yang sederhana. Tapi entah kenapa… belakangan terasa begitu jauh. Ada hari ketika aku bangun dengan niat yang penuh— ingin melakukan ini, ingin menyelesaikan itu. Tapi belum juga setengah jalan, tubuhku sudah lebih dulu menyerah. Lelah itu datang lagi. Tanpa aba-aba. Tanpa kompromi. Dan di titik itu… aku sering hanya bisa diam. Melihat apa yang belum selesai, melihat apa yang seharusnya bisa kulakukan, tapi tidak mampu aku tuntaskan. Perasaan itu… tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal di dada. Seperti ada suara kecil yang terus berbisik, “Seharusnya kamu bisa lebih dari ini.” Aku mulai membandingk...