Ada sebuah prinsip mendasar yang saya pegang teguh: bahwa ada jenis kenyamanan yang tidak boleh datang dari 'pemberian' manusia, melainkan harus dijemput melalui sebuah keputusan strategis untuk berdiri di atas kaki sendiri. Itulah yang saya sebut sebagai upaya menjaga Izzah (harga diri). Seringkali, banyak orang hanya terpaku pada the final chapter —mereka melihat hasil yang nampak hari ini. Namun, mereka alpa menoleh pada the long and winding road yang kami lalui; tentang jejak kaki yang berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, beradu dengan sesaknya tagihan sewa di tengah biaya pendidikan yang mulai meninggi. Bagi saya, membangun rumah bukan sekadar laying bricks atau menyusun bata, melainkan sebuah ikhtiar restoring dignity —menyusun kembali martabat yang sempat terkikis oleh badai fitnah. Namun, di tengah perjuangan itu, saya dihadapkan pada sebuah distorted truth . Sungguh sebuah fenomena yang menyesakkan dada saat kenyamanan yang kami bangun dengan darah dan a...
Ada beberapa orang yang gemar sekali membungkus realita dengan kata-kata mutiara, yang sayangnya, sering kali lupa menyertakan "mutiaranya". Mereka bilang, orang yang ikhlas itu tidak akan pernah mengeluh. Katanya, kalau hati sudah rida, lelah dan sedih bakal hilang ditelan bumi. Terdengar cantik untuk dijadikan takarir foto di media sosial, tapi jujur saja, itu omong kosong yang berbahaya. Kita ini manusia, bukan robot yang diprogram untuk tidak punya rasa. Kita punya jantung yang bisa berdegup kencang karena takut, dan air mata yang bisa jatuh tanpa izin karena luka. Kalau ikhlas artinya kehilangan rasa sakit, maka kita sedang dipaksa menjadi mayat sebelum waktunya. Coba kita tengok sejarah. Siapa yang lebih tangguh dari para Nabi? Mereka adalah manusia-manusia paling jujur dalam beribadah. Tapi apakah hidup mereka lurus-urus saja tanpa isak tangis? Tidak . Ingat Nabi Ya’qub? Beliau seorang Nabi, pejuang yang jauh dari kata "kaleng-kaleng". Beliau bersedih, sang...