Langsung ke konten utama

Postingan

Reciepe For Farewell

  sumber photo : pinterest Sedih. Itu yang saya rasakan setelah menonton drama korea berjudul Reciepe For Farewell, namun lebih dari itu, ada rasa hening yang lama tertinggal setelah episode terakhir selesai. Drama ini bukan tipe cerita yang membuat orang menangis karena kejadian besar atau konflik dramatis. Justru yang membuatnya menyentuh adalah hal-hal yang sangat sederhana: dapur kecil, suara memasak, percakapan yang pendek, dan makanan yang disiapkan dengan penuh perhatian. Ketika menontonnya, saya merasa seperti sedang mengintip kehidupan seseorang yang sangat nyata. Seorang suami yang mencoba merawat istrinya yang sakit. Seorang perempuan yang perlahan kehilangan kekuatan tubuhnya. Dan di antara keduanya, ada satu bahasa yang masih tersisa: makanan . Yang paling membuat saya tersentuh adalah cara sang suami memasak. Ia bukan chef hebat. Ia sering kebingungan membaca resep. Kadang masakannya gagal. Kadang rasanya mungkin biasa saja. Tapi setiap masakan itu terasa seper...
Postingan terbaru

Big Brother Is Watching You: Membaca Bab 1 1984

Pernahkah kita membayangkan hidup di dunia di mana bukan hanya tindakan yang diawasi, tetapi bahkan pikiran pun bisa dianggap sebagai kejahatan? Dunia seperti itulah yang dibuka oleh George Orwell dalam bab pertama novel 1984 . Tidak dengan pengantar yang lembut, tetapi dengan suasana yang langsung menekan. Sejak halaman pertama, pembaca dibawa masuk ke sebuah realitas yang dingin, penuh pengawasan, dan hampir tanpa ruang bagi kebebasan manusia. Cerita dimulai dengan tokoh utama bernama Winston Smith. Ia hidup di sebuah negara bernama Oceania, sebuah negara yang diperintah oleh Partai dengan satu simbol yang selalu hadir di mana-mana: wajah Big Brother. Di setiap sudut kota terpampang poster besar dengan tulisan yang seolah menjadi mantra bagi masyarakatnya: “Big Brother is watching you.” Kalimat ini bukan sekadar propaganda. Ia adalah pesan psikologis yang menanamkan ketakutan. Seolah-olah setiap gerakan, setiap ekspresi, bahkan setiap desahan napas manusia berada dalam pengawasan kek...

Sebelum Pulang

Bagi sebagian orang, hidup itu mengalir saja. "Follow the flow," kata mereka. Tapi bagi saya, hidup itu harus punya desain. Mengapa? Karena kita tidak sedang berjalan menuju ketidakpastian, kita sedang berjalan menuju sebuah kepastian bernama Kematian . Kalau untuk liburan ke luar negeri saja kita sibuk bikin itinerary , pesan tiket jauh-jauh hari, dan riset hotel terbaik—lantas bagaimana mungkin untuk perjalanan menuju keabadian kita tidak punya rencana? Ada yang tertawa melihat saya sibuk membuat to-do list untuk 1,5 tahun ke depan, bahkan untuk 5, 10, hingga 20 tahun mendatang. Mereka bilang, "Emang yakin umur sampai sana?" Justru karena saya tidak yakin umur saya sampai sana, maka saya merencana. Karena dalam Islam, niat seorang mukmin itu lebih sampai daripada amalnya. Saat kita menuliskan rencana kebaikan di atas kertas, saat itu juga kita sedang menyodorkan proposal di hadapan Allah. Rencana itu adalah bagian dari doa. Ia adalah bentuk konkret dari ikhtiar...

Menikmati Langkah Kecil

Pernahkah Anda merasa sesak saat melihat layar ponsel? Melihat kawan lama dengan bisnis yang sudah menggurita, atau sahabat karib dengan hafalan Al-Qur’an yang melesat jauh, sementara Anda masih berkutat dengan masalah yang itu-itu saja. Kita hidup di zaman yang memuja kecepatan; instant gratification telah menjadi standar baru. Seolah-olah jika tidak cepat, kita gagal, dan jika tidak instan, kita tertinggal. Namun, mari kita duduk sejenak dan berpikir jernih: di dalam hukum alam yang Allah tetapkan, adakah sesuatu yang besar lahir dalam semalam? Bayangkan sebutir biji jati. Ia tidak langsung menjadi raksasa yang menantang langit dalam hitungan hari. Tahun-tahun pertamanya justru dihabiskan dalam kegelapan tanah. Ia tidak tumbuh ke atas, melainkan ke bawah untuk memperkuat akar. Ia memastikan bahwa ketika batangnya meninggi nanti, ia punya fondasi yang sanggup menahan hantaman badai sehebat apa pun. Begitu juga dengan perubahan diri. Bertumbuh pelan itu bukan masalah, yang masalah ada...

Menolak Menjadi Bidal di Panggung Sandiwara Dunia

  Hari ini, nurani kita kerap dipaksa masuk ke dalam kotak-kotak sempit yang dibuat oleh narasi politik global. Seolah-olah, dunia ini hanya tentang memilih satu di antara dua keburukan. Seolah-olah, untuk membela Al-Quds, kita harus menutup mata dari genosida yang terjadi di Aleppo atau Idlib. Seolah-olah, untuk melawan hegemoni Barat yang menjajah, kita harus merangkul tangan-tangan yang berlumuran darah saudara seiman di bumi Syam. Namun, sejarah tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi rabun dalam melihat kebenaran.  Kita diingatkan oleh firman Allah dalam Surah Al-Ma'idah: "...dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."  (QS. Al-Ma'idah: 8) Palestina Bukan Pencuci Dosa Palestina adalah  qadhiyah  (persoalan) suci. Ia adalah kompas iman yang menentukan di mana posisi kita dalam peta kemanusiaan. Namun, kita harus tegas menyatakan:  Pa...

Hukuman dalam Timbangan Adab

Sering kali kita terjebak pada keinginan untuk terlihat bijak di hadapan anak-anak kita, hingga tanpa sadar kita melakukan apa yang disebut sebagai Talbis Iblis dalam pendidikan. Kita membungkus kelemahan hati kita—ketidakberanian kita dalam menegakkan aturan—dengan kemasan kasih sayang yang semu. Kita mulai alergi dengan kata "hukuman", lalu menggantinya dengan deretan eufemisme atau penghalusan kata yang melenakan. Padahal, penghalusan kata yang mengaburkan hakikat kebenaran adalah pintu gerbang menuju rusaknya karakter generasi. Dalam Islam, agama yang telah sempurna ini, hukuman memiliki kedudukan yang jelas. Hukuman ya hukuman. Di sinilah pentingnya Tahkiful Makna , yakni menegaskan makna yang sebenarnya. Saat seorang guru atau orang tua menghaluskan istilah hukuman menjadi sesuatu yang terdengar "nyaman", saat itulah kita sedang mengaburkan realitas di benak anak. Mereka kehilangan kepekaan terhadap konsekuensi serius dari sebuah pelanggaran. Wibawa aturan pu...

Melepas dengan Percaya, Menumbuhkan dengan Doa

Ada saatnya dalam perjalanan mendampingi buah hati atau anak didik, kita harus berani mengambil langkah mundur. Bukan karena lelah yang tak terlukiskan setelah melewati badai tantrum, tangis yang memicu muntah, atau keengganan yang membatu untuk sekadar masuk ke ruang kelas. Kita mundur justru karena mencintai pertumbuhannya. Berhenti mendampingi karena  ingin memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri yang utuh. Saya ingat betul bagaimana hari-hari kemarin. Melelahkan, memang. Mengondisikan anak yang hanya mau berteduh di kantor hingga jam pulang, menolak berbaur, dan menutup diri dari riuh rendahnya pertemanan, membutuhkan stok kesabaran yang tidak boleh putus di tengah jalan. Namun lihatlah hari ini. Anak yang dulu "terpenjara" oleh emosinya sendiri, kini mulai mampu mengendalikan kemudi rasanya. Ia telah memiliki regulasi emosi yang baik. Ia telah memiliki inisiatif. Dan yang paling mengharukan, ia kini punya nyali untuk berkompetisi dan kepercayaan diri untuk berdiri...