Di tengah dinamika tata kelola bantuan pemerintah bagi lembaga pendidikan, ada fenomena menarik sekaligus membahayakan yang kerap luput dari perhatian publik: pembentukan narasi balik saat tuntutan ilegal membentur dinding penolakan. Ketika bantuan fisik — seperti pembangunan ruang komputer dan UKS — selesai dikerjakan 100% sesuai spesifikasi, polemik tidak serta-merta usai. Ketika pihak sekolah memilih menutup pintu rapat-rapat bagi tuntutan fee susulan karena harus mematuhi aturan pembukuan negara, strategi oknum di belakang layar pun bergeser. Mereka tidak lagi menagih secara terang-terangan, melainkan mengutus oknum media untuk mempertanyakan “kode etik” dan legalitas administrasi sekolah. Ini adalah bentuk manipulasi psikologis dan intimidasi publik yang patut dibedah secara jernih. Pola kerjanya sangat terstruktur. Ketika permintaan dana di luar mekanisme resmi tidak lagi dilayani, narasi pemberitaan sengaja digeser. Oknum yang datang tidak lagi membicarakan fisik bangunan ...
Kemudian saya belajar kembali hal lainnya, bahwa tidur itu bukan harus banyak, namun SECUKUPNYA. Ini juga yang sering saya ceritakan kepada anak-anak dikarenakan kesibukan mereka saat ini dimana kuantitas tidur semakin berkurang, benar saja waktu terasa kurang saat agenda tugas mulai meningkat seiring amanah yang bertambah, ini pula yang kemudian dialami anak-anak di fasenya sekarang. Bukan hanya manajemen waktu yang dibutuhkan, namun juga manajemen hati untuk berlapang dada pada apapun yang diterima oleh diri. Oh wait, saya sedang mengingat kembali moment beberapa hari flare up yang membuat diri tidak bisa tertidur, benar-benar tidak bisa tidur. Karena sakit kepala yang luar biasa hebat. Saya menceritakannya kembali sebagai pengingat bagi diri saya, dan anda yang berkesempatan membaca tulisan ini. Tentang nikmat tidur yang akan terasa nikmatnya kala hal itu dicabut sementara, lalu tentang kualitas tidur yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan lamanya waktu tidur, dan bahwa...