Langsung ke konten utama

Rumah Yang Berantakan

       Jika engkau tiba-tiba berkunjung ke rumah kami maka siapkan diri untuk melihat bagaimana berantakannya rumah ini. Debu di lantai, mainan yang berserakan hingga remah nasi dan percikan air di setiap sudut rumah. Oh ya, jejak tanah sawah di lantai juga baju yang berhamparan di mana-mana juga menjadi pemandangan yang biasa. 
       Kecuali jika engkau menghubungiku dulu sebelum berkunjung, karena saat itu aku bisa mempersiapkan kedatanganmu dengan membereskan dan membersihkan seisi rumah agar engkau merasa nyaman saat duduk di kursi ruang tamu itu. 
        Namun jika engkau tidak memberiku kabar terlebih dahulu, maka bersiaplah mendapati betapa estetiknya rumah yang engkau kunjungi ini! Estetik mean sesuatu yang mungkin saja membuatmu tak tahan untuk berucap, "ini rumah atau kapal pecah?".
        Rumah yang engkau kunjungi ini dihuni seorang ibu yang mudah lelah dan sering sakit-sakitan dan lima bocah laki-laki yang sangat aktif bergerak juga seorang ayah sibuk dengan pekerjaannya. Untung saja Ayah itu tidak menuntut istrinya sigap membereskan rumah dan bahkan dengan kesadaran sendiri membantu pekerjaan istrinya, terkadang membantu memasak, mengajak anak bermain, bahkan mencuci atau membersihkan rumah. 
        "Ini rumah atau kapal pecah?" Kalimat ini bukan sekali dua kali sampai ke telinga, membuat ciut untuk kembali menerima kehadiran tamu di rumah. Alangkah baiknya jika kita tidak mengomentari kondisi rumah orang lain apalagi saat kita menjadi tamu di rumahnya atau sepulangnya kita dari sana. Ada baiknya setiap kekurangan yang dilihat dari tuan rumah bukan untuk diumbar tetapi cukuplah itu dijadikan pelajaran. 
        Jika engkau tidak suka rumah yang berantakan, jauhkan rumah dengan para balita untuk dikunjungi karena engkau akan melihat pemandangan yang mungkin tidak nyaman untuk dilihat. Engkau juga tidak tahu bagaimana tuan rumah itu berusaha untuk rumah dan keluarganya. 
        "Kok WC nya gini? Jorok pisan!" 
        "Ya ampun ini ruang tamu atau ruang nyetrika atau dapur sih?"
        "Coba atuh diberesin mainan anak-anaknya!"
        "Masa beberes rumah segini aja nggak bisa!"
        "Tahu nggak, aku tadi kan main ke rumah si A. Ya ampuuuun, rumahnya berantakan banget, nggak bisa ngurus rumah banget."
        Sering ku dengar kalimat seperti itu, aku sudah terbiasa mendengarnya namun tetap saja kalimat itu melukai perasaanku. Jadi, saat engkau ingin mengunjungiku bisakah engkau tahan lisanmu untuk tidak berkomentar tentang seperti apa rumahku dan anak-anakku atau diriku sendiri? 

Balananjeur, 7 Juli 2021

Catatan: Tulisan ini dipersembahkan untuk semua ibu yang sedang tertatih menata diri. Tidak apa-apa jika rumahmu berantakan, engkau tetaplah istri dan ibu yang hebat ! Abaikan komentar yang membuatmu terluka, mereka hanya belum memahami rasa yang ada padamu! Tersenyumlah dan berbahagialah! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...