Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label free writing 14 hari

10 Dzulhijjah 1442 Hijriyah

Inginnya shalat ied di masjid, qodarullah pas coba berdiri teh ngalanggeong sampai 'ambruk' lagi. Jadi akhirnya Abang memilih menjadi imam bagiku di rumah, di temani de Olin juga.  Alhamdulillah bisa melaksanakan shalat ied meski di rumah, InsyaAllah sesuai tuntunan meski saya sendiri harus shalat sambil duduk.  Dua pemuda tetap ied di masjid dengan prokes InsyaAllah, ini bagian dari ikhtiar, ya menjaga prokes adalah bagian dari ikhtiar kita jadi tidak tepat kalau dianggap sebuah ketakutan. Benar sekali bahwa kita tidak boleh takut pada siapapun kecuali pada Allah, namun ikhtiar juga bentuk keta'atan dan takut kita pada Allah.  Dalam khutbah ied tadi, Abang menjelaskan perihal ini. Beliau juga menjelaskan tentang keteladanan nabiyullah ibrahim 'alaihissalam dalam mendidik keluarganya, dalam menyiapkan generasinya.  Hal lucu terjadi saat dalam satu kesempatan Abang bilang, "pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kita... ? " Dengan semangat 45 de O...

Main Yuk!

Abang ngajak hiking lagi dengan rute lain,seneng pisan atuh tapi karena ada beberapa agenda yang harus dikerjakan dulu jadi agenda hikingnya dimulai ba'da dzuhur an.  "Enak ya main terus."  Ada satu ayat dalam Al Qur'an surat Ali Imran ayat 190 yang menjadi sandaran kami ketika, "yuk hiking!"  Kalau ada yang beranggapan sekedar main juga nggak apa-apa sih,anggapan orang kan bukan urusan kita.Kita tidak hidup untuk mengatur anggapan orang, jadi just do the best what we can to do.. Untuk apa?Fiddunya hasanah wafil aakhirati hasanah.  Waktu anak-anak masih pada kecil mah nggak pernah main berdua seperti sekarang teh,fokus utamanya menemani anak sampai tumbuh besar. Eh asa jadi kayak jargon naon nya ieu teh. #abaikan 🤭 But it's real, agenda hikingpun pasti sama bocil yang MasyaAllah aktifnya luar biasa.Saya gendong bayi, Abang juga gendong. Setelah ada 4 bocah mah yang 2 digendong yang 2 lagi jalan.Tapi setelah dipikir lagi asa sayang anak-anak ...

Tiga Puluh Menit Aufa

Menunggu jadwal telpon realease eh tiba-tiba denger Abang yang sedang di ruang tengah heboh nanya seseorang di telpon, "Assalamu'alaikum teteh damang?" Sontak saya langsung bangkit dari acara rebahan di kamar dan berlari menuju Abang, "my daughter, isn't it?" Refleks saya bertanya sambil melihat ke arah ponsel Abang, sinyalnya kurang baik jadi gambar di vcall nya tidak terlihat jelas.  I miss him so much..  "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ummi damang?" Satu suara yang sering kami nantikan di hari minggu ini menjadi bak setetes air di padang pasir, sangat menyejukkan.  Belum sempat saya menjawab, Abang mendahului menjawab, "ummi sakit, Nak." Untungnya sinyalnya luplep jadi teteh tidak mendengar kalimat ini.  "Sttt, jangan bilang teteh." Saya sering berbagi kabar pada siapapun tentang kondisi saya tapi saya ingin dia melihat saya dalam kondisi yang baik meski sulit menutupi sesuatu padanya, "syafakillah ya M...

Liqo dan Umar

Liqo kami sekarang bahasannya tambah beragam, sekarang mah ada bahasan software blander, autocad hmm yang new versi, dll. Bagaimana liqo anda, sahabat? Jangan sampai kita terlalu fokus membenahi yang diluar tapi melupakan objek dakwah utama kita sebagai orang tua ya sahabat 😁  'Alaa kulli haal, de Olin sekarang sedang belajar hmm apa etateh namina nya 🤔🤔 saya susah hafal nama aplikasi. Alhamdulillah diajari sama a Umar, untuk menggambar mah belajar dari Aa Quthb. Sebelum liqo, kami ngariungan mie ayam oleh-oleh adik Umar. Sejak kecil setiap kali berbagi dia akan berbagi sesuatu yang paling dia sukai dan sekarang dia suka mie ayam dan membelikan itu untuk kami.  Jadi ba'da maghrib taditeh dik Umar dapat job nginstal laptop (apa ya namanya 🤔) dari teteh sepupunya, "padahal umar ikhlas bantu,Mi." "Dan teteh Icha ikhlas ngasih buat dik Umar." Kata Abinya. Ba'da liqo umar jadi teman sharing saya, cara bicara dan bahasannya masih seperti umar kecil dulu. M...

Bukan Kata Mereka, Tapi Kita..

"kata pakar pendidikan A, anak saya itu seperti ini, teh."  "kata pakar pendidikan B, anak saya itu seperti itu, jadi saya harus membimbingnya dengan cara seperti ini dan seperti itu (sambil menerangkan teori pendidikan versi pakar B)" "kata psikolog A, anak saya itu seperti ini, karenanya saya harus memperlakukan dan membimbingnya dengan cara-cara seperti ini dan seperti itu (sambil menjelaskan penjelasan yang didapat dari psikolog A) agar anak saya bisa tumbuh optimal sesuai perkembangan usianya." Lalu, bagaimana anak anda menurut anda? Sahabat, anda pasti lebih mampu mendeskripsikan seperti apa anak anda, bukan? Seperti apa mereka?  Apa saja yang mereka butuhkan dari anda? Apa yang menyenangkan mereka dan sebaliknya? Apa yang ingin mereka lakukan dan tidak ingin mereka lakukan? Apa yang ingin mereka capai di masa depan mereka? Apa yang menyulut amarahnya, apa yang membuat mereka bersedih, apa yang membuat mereka bahagia, apa yang membuat mereka tersenyu...

Kita

Kita, Mudah memberi permakluman pada kesalahan orang lain. Apakah kita juga memberi kemudahan permakluman pada suami dan anak-anak kita? Kita,  Mudah memberi pujian dan penghargaan bagi orang lain, atas prestasi dalam hal apapun dan sekecil apapun. Apakah seperti itu juga pada suami dan anak-anak kita? Kita, Mudah berterima kasih pada orang lain. Apakah hal yang sama juga berlaku pada suami dan anak-anak kita? Kita, Bersikap sopan santun penuh kehangatan dan cinta pada orang lain. Apakah kita juga melakukan hal yang sama pada suami dan anak-anak kita? Kita, Memaafkan kekhilafan orang lain. Apakah kita juga memaafkan kekhilafan suami dan anak-anak kita? Kita, Memberi dukungan moral dan kata-kata yang menentramkan saat orang lain terpuruk. Apakah suami dan anak-anak kita juga mendapatkan hal yang seperti itu, dari kita? Kita, Mengendalikan amarah saat lisan kita ingin berontak pada orang lain. Apakah kita juga melakukan hal yang seperti itu pada suami dan anak-anak kita.

Tidak Ada Lagi

Padahal sudah ku azzamkan Ku pikir juga sudah lapang Namun, melihat kamarnya yang kembali sunyi Hatiku bergemuruh Dadaku bergetar, berdetak kencang hingga terasa sesak Aku ternyata masih berproses untuk lapang Tidak ada lagi yang menemaniku belanja Tidak ada lagi yang memintaku disiaran Tidak ada lagi yang memintaku mencuci rambutnya  Tidak ada lagi yang menemaniku memasak atau berkata "MasyaAllah Ummi masak sop, Hatur nuhuuun ummi, teteh sayang ummi." Tidak ada lagi dia yang berbinar senang mendapati bubur kacang buatanku, kesukaannya Tidak ada lagi yang mengatakan, "ummi, teteh tahu apa yang sedang ummi rasakan." Tidak ada lagi kulihat dia membaca hingga larut malam lalu memelukku erat seolah tak ada lagi esok Tidak ada lagi yang merajuk pada Abi nya dengan caranya  Tidak kulihat lagi dia. Menulis, melerai rindu. 

Di Hari Perpisahan

Dihari perpisahan MI dan Mts anak-anak, suami bertanya kenapa saya meminta waktu untuk menyampaikan "kata-kata kenangan" di depan orang tua murid dan anak-anak.  Meminta sebenarnya sesuatu yang sangat dihindari. Tapi hari itu saya benar-benar meminta waktu, agar bisa menitipkan sedikit kenangan dan asa serta rasa bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk generasi, untuk orang tua dan juga guru. Apakah tidak malu meminta sesuatu seperti itu? Awalnya iya. Saya malu, namun rasa malu tidak akan membuat kata-kata yang ingin disampaikan sampai dengan sendirinya. Sekalipun pada saatnya tidak semua mendengarkan, tapi Allah tidak kan menyia-nyiakan usaha hambaNya, termasuk usaha saya insyaAllah. Saya meyakini itu. Kelak, ketika anak-anak bertanya, "apa yang ummi lakukan di hari perpisahan kami?" (InsyaAllah Aufa dan Olin juga), m eski bukan saya yang menjawab tetapi memori mereka akan mengingat hari itu. Sebagian dari ungkapan cinta saya sebagai ibu mereka meski cinta se...

Tuntas?

"Selamat ya mi, ummi sudah tuntas mengasuh para balita. Balita ummi sekarang semuanya sudah jadi mantan balita. Apa ummi bahagia?" Hati ini, hati seorang wanita, dan sebagai wanita saya juga seorang ibu. Terasa bahagia saat suami dan anak-anak bertanya bagaimana perasaan saya, kemudian mereka mendengarkan kata hati dan berempati atas itu. Sehingga tak kan berhenti lisan dan hati bertasbih memuji Allah akan NikmatNya yang tak bisa di ukur dengan sesuatu yang dzahir semata. "Apa yang ummi rasakan?" "Apa ummi bahagia?" "Apa yang membuat ummi menangis?" "Maafkan kami jika ucapan kami melukai hati ummi!" "Apa ummi cape? Mau di pijit, Mi?" Dan semua kalimat empati lain yang selalu berhasil membawa hati pada kondisi dimana kalimat tahmid tak hanya dalam ucapan, tapi jauh hingga ke lubuk hati, "Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah 'Alaa kulli haal Alhamdulillah." Suatu hari, salah satu bibi s...

"Yang Penting ada Usaha!"

Saya memang sering sesak nafas, kalau pas sesak nafas teh lemesnya luar biasa, iya atuh nya soalnya energinya terkuras pisan.  Coba duduk, berdiri, berbaring, tengkurap, miring kiri atau kanan, jalan di tempat, yoga, kadang berhasil kadang nggak namun seringnya tidak berhasil. Saya sih mikirnya, "yang penting ada usaha." Oksigen kecil kadang habis dalam sehari kadang satu juga nggak cukup, mau beli tabung besar masih mikir-mikir, "uangnya mending buat sekolah anak-anak." Ibu-ibu mah pikirannya mulai terpusat ke anak-anak ya 😁 Karena cara-cara seperti yoga dll lebih sering tidak berhasilnya, saya biasanya gunakan cara lain juga, diantaranya.  1. Ambil wudhu, shalat, nangis ngadu sama Allah, "ya Allah.." Banyaklah kalimat terucap saat itu; mengadukan sakit, meminta sehat dan lain sebagainya. Kok sama Allah ngadu sih? Hey, Allah itu suka saat hambaNya mengadu padaNya, bukan?  2. Ambil mushaf, baca Al-Qur'an. Baca nyaring.. Al Qur'an itu syifa, mengob...

Hadiah dari Gema Insani Press

MasyaAllah Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, Hadza min fadhli Rabbi. Berkali lisan melafal tahmid hingga jauh ke lubuk hati, menggetarkan setiap inchi urat nadi hingga tahmid menjadi pengiring hari.  Saat mendapat kabar mendapat hadiah buku dari @gemainsaniofficial , buku yang membuat saya menadah meminta padaNya, "Duhai Rabb, mudahkan untuk bisa membacanya!"  Adakah berlebihan saat meminta pada yang Maha Memiliki? Meminta kemudahan mendapat buku terbitan @gemainsaniofficial yang membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali membaca sekilas ulasannya, "kasih pada tumpah darah bukanlah dengan membujuk, membuaikan dan memuji-muji saja, kadang-kadang mesti dicela dan dipukul supaya ia dapat memperbaiki diri. Orang yang cinta pada tanah airnya haruslah dia cemburu juga. Orang yang tidak bercampur cemburu bukanlah cinta. Moga-moga Tuhan melindungi tumpah darah saya, Minangkabau, sehingga dapat mencocokkan dirinya ke dalam susunan tanah air saya yang luas, Indonesi...

Diam Saja!

"Jangan merasa perlu mencari tahu sesuatu yang memang tak seharusnya kita tahu. Cukuplah bagi kita fokus dengan visi hidup kita sambil tetap berjuang dan berusaha dengan sebaik-baiknya cara untuk sampai kesana!" "Seperti apa hal yang memang seharusnya tidak perlu kita tahu ataupun cari tahu teh?" "Sesuatu yang justru akan membuatmu bimbang dengan jalanmu, dengan visi hidupmu. Sesuatu yang membuat kepalamu berdenyut sakit lalu kau kehilangan gairah hidup bahkan ghirah berjuang. Cukuplah bagi kita mempelajari semua yang membuat kita semakin cinta, takut sekaligus dekat dengan Allah. Tak perlu terpengaruh apapun yang bisa mengacaukan tujuan hidup kita. Tahukah engkau apa tujuan hidupmu, Nak?" "Mendapat Ridho Allah." "Maka lakukan itu sesuai ketentuanNya. Semoga Allah membimbing dan merahmatimu!" Kami terdiam kembali dengan pikiran masing-masing. Dia sepertinya mulai meraba harinya lagi, hari ini yang dijalani dan hari esok yang masih miste...

Kematian

Kematian, Meninggalkan kenangan dan rasa sedih Meninggalkan luka mendalam bagi yang tertinggal dan ditinggalkan Meninggalkan nama yang hanya kan terukir dalam memori Meninggalkan sebait pesan, bahwa ia ada begitu dekat mengintai untuk menjemput dan membawa kita menyusul mereka yang telah mendahului Kematian, Meninggalkan isak tangis dan pedih yang sama bagi setiap orang Meninggalkan banyak penyesalan dan rasa sesak atas khidmat yang tak seberapa Meninggalkan sorot mata sayu  Meninggalkan banyak harapan pada yang tertinggal meski membutuhkan waktu lama untuk kembali bangkit dan menyusun keping harapan itu kembali Kematian, Adalah pesan cintaNya yang kadang terabaikan #dzikrulmaut Balananjeur, Kamis, 8 Juli 2021

Rumah Yang Berantakan

       Jika engkau tiba-tiba berkunjung ke rumah kami maka siapkan diri untuk melihat bagaimana berantakannya rumah ini. Debu di lantai, mainan yang berserakan hingga remah nasi dan percikan air di setiap sudut rumah. Oh ya, jejak tanah sawah di lantai juga baju yang berhamparan di mana-mana juga menjadi pemandangan yang biasa.         Kecuali jika engkau menghubungiku dulu sebelum berkunjung, karena saat itu aku bisa mempersiapkan kedatanganmu dengan membereskan dan membersihkan seisi rumah agar engkau merasa nyaman saat duduk di kursi ruang tamu itu.          Namun jika engkau tidak memberiku kabar terlebih dahulu, maka bersiaplah mendapati betapa estetiknya rumah yang engkau kunjungi ini! Estetik mean sesuatu yang mungkin saja membuatmu tak tahan untuk berucap, "ini rumah atau kapal pecah?".         Rumah yang engkau kunjungi ini dihuni seorang ibu yang mudah lelah dan sering sakit-sakitan dan l...