Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat.
1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal"
Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan—melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)
"Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi).
Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "maksimal" sebelum tujuan tercapai adalah bentuk kepuasan diri yang semu.
2. Bahaya 'Butuh' Apresiasi dan Jebakan Riya
Keluhan tentang "minim apresiasi" atau sepi dari tepuk tangan adalah pintu masuk syaithan untuk merusak keikhlasan. Allah Subhananahu Wa Ta'ala berfirman:
Apresiasi tertinggi guru bukanlah hadiah atau validasi perasaan manusia, melainkan rida Allah. Mengharap pujian manusia hanya akan membawa kelelahan hati, sebagaimana nasihat Imam Syafi'i: "Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai."
3. Syubhat "Aku Pun Manusia" dan Dalih Mental Health
Di era modern, muncul syubhat pemikiran yang berlindung di balik narasi "Mental Health" yang salah kaprah. Kalimat "Sebagai guru, aku pun manusia" sering disalahgunakan untuk melegalkan kekeliruan atau melegalkan lelah yang diikuti secara berlebihan.
Benar bahwa kita manusia, namun status tertinggi kita adalah Hamba Allah. Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Menjadi guru adalah salah satu ikhtiar ibadah tersebut. Islam menuntun kita untuk mencari ketenangan melalui kedekatan pada-Nya, bukan dengan lari dari amanah. Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ٢
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah." (QS. Ar-Ra'd: 28).
Mental yang sehat adalah mental yang kuat memikul beban amanah karena bersandar pada Yang Maha Kuat.
4. Syubhat Transaksional: "Gaji Sekadarnya, Kerja Sekadarnya"
Satu lagi syubhat yang merusak adalah mengukur kualitas didikan dengan nominal materi. Jika guru bekerja hanya sesuai upah, ia telah merendahkan nilai ilmunya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya demi mengharap wajah Allah, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga di hari kiamat." (HR. Abu Dawud).
Pilihan menjadi guru adalah pilihan hidup. Seorang muslim akan bertanggung jawab penuh atas pilihannya dengan melakukan yang terbaik sesuai peran yang diambilnya, tanpa terjebak hitung-hitungan duniawi yang sempit.
5. Syubhat "Hanya Menyampaikan Materi"
Mensucikan (Yuzakkihim) berarti mendidik jiwa dan karakter. Membatasi peran hanya pada materi adalah bentuk syubhat yang mereduksi kemuliaan tugas keguruan.
Penutup
Menjadi guru adalah perjalanan panjang menjemput rida-Nya. Dengan membuang segala "mentalitas korban" dan syubhat pemikiran yang melemahkan, seorang guru akan tampil sebagai teladan sejati. Fokusnya bukan pada apa yang ia dapatkan dari dunia, melainkan pada apa yang bisa ia persembahkan sebagai bekal menghadap Sang Pencipta.
Defa S Hidayat
Tasikmalaya, 8 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar