Langsung ke konten utama

Main Yuk!

Abang ngajak hiking lagi dengan rute lain,seneng pisan atuh tapi karena ada beberapa agenda yang harus dikerjakan dulu jadi agenda hikingnya dimulai ba'da dzuhur an. 

"Enak ya main terus." 

Ada satu ayat dalam Al Qur'an surat Ali Imran ayat 190 yang menjadi sandaran kami ketika, "yuk hiking!" 
Kalau ada yang beranggapan sekedar main juga nggak apa-apa sih,anggapan orang kan bukan urusan kita.Kita tidak hidup untuk mengatur anggapan orang, jadi just do the best what we can to do.. Untuk apa?Fiddunya hasanah wafil aakhirati hasanah. 

Waktu anak-anak masih pada kecil mah nggak pernah main berdua seperti sekarang teh,fokus utamanya menemani anak sampai tumbuh besar. Eh asa jadi kayak jargon naon nya ieu teh. #abaikan 🤭

But it's real, agenda hikingpun pasti sama bocil yang MasyaAllah aktifnya luar biasa.Saya gendong bayi, Abang juga gendong. Setelah ada 4 bocah mah yang 2 digendong yang 2 lagi jalan.Tapi setelah dipikir lagi asa sayang anak-anak diajak hiking mah trus saya juga ngrasa cape, nu tadinya mau tatafakkaruun sambil refreshing ari pas pulang kalahkah cape sampai nggak bisa apa-apa mah kok asa keterlaluan jadi akhirnya memilih untuk just stay at home dan kalaupun mau main paling ke area pesawahan atau main bal bareng-bareng di lapang yang agak jauhan dari rumah, atau main ke sungai. Intinya jangan sampai menguras energi (dan emosi) agar tetap bisa mendampingi anak tanpa marah-marah. 

Kan kalau ibu cape trus nggak bisa istirahat mah bawaannya pengen marah-marah nya? Ibu yang punya balita itu sulit punya waktu istirahat, jadi harus mencari cara biar nggak terlalu lelah meski lelah sendiri menjadi lillah tapi kalau lelahnya malah bikin menguras emosi menghakimi taqdirmah kan nggak mungkin jadi lillah. Intinya kalau bisa pilih yang tidak melelahkan kenapa harus milih melakukan yang bikin lelah? Eh ieuteh naon deuih nya 🤔

Setelah anak-anak beranjak besar mah biidznillah Allah beri kesempatan untuk hiking berdua atau kadang sama anak-anak tanpa perlu rame pas pulang ke rumah. Nggak perlu rame tumpukan cucian yang harus segera di cuci, atau rame pas kita ngrasa cape pengen istirahat trus anak-anak minta sesuatu seperti waktu mereka masih kecil.

Balananjeur, 4 Juli 2021
Di tulis ulang di Balananjeur, 19 Juli 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: Ø¥ِÙ†ّ اللَّÙ‡َ تَعَالى ÙŠُØ­ِبّ Ø¥ِذَا عَÙ…ِÙ„َ Ø£َØ­َدُÙƒُÙ…ْ عَÙ…َلاً Ø£َÙ†ْ ÙŠُتْÙ‚ِÙ†َÙ‡ُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...