Langsung ke konten utama

AYIKCTDTI (16)

 Hari ini agendanya back to home. Yups, kembali ke rumah dan di rumah sepanjang hari. Well, saya bukan orang yang akan bersedih dengan sangat jika ada perubahan meski terkadang mengurai kerinduan seperti kerinduan saya pada anak-anak kala mereka kecil dulu. Hmm kalaupun sampai menangis biasanya memang hanya karena perubahan itu; dulu mah sama para bocah, sekarang mereka sudah bukan lagi nak kicil. Yaah begitulah dan perubahan itu saja yang seringnya bikin gerimis. Selebihnya? Tidak terlalu berpengaruh.

Yah, hari ini di rumah saja.. seharian, untuk beresin seisi rumah mulai dari membereskan kembali isi rak buku yang kayaknya mudah banget berdebunya. Rak 100 RB ana yang dibeli dari ceuceu Shop** itu sangat membantu membuat buku jadi nggak numpuk gitu aja. Kalau lihat rak buku teh pengeeen banget punya rak buku yang besar dan ada tutup kacanya biar buku-bukunya lebih rapi dan aman dari gangguan rayap, kutu, debu dan segala macamnya. 

Berbicara tentang buku dan rak buku akan sangat mengorek kenangan masa kecil yang tak lepas dari buku dan rak nya. Sejak kecil liburan saya adalah membaca atau membereskan rak buku Apa Almarhum. Apa memiliki rak buku yang sangat besar dan setinggi atap rumah, buku-bukunya banyak, ruangannya tepat di depan kamar saya jadi setiap kali keluar kamar, pemandangan pertama yang saya lihat adalah deretan buku dan itu menjadi pemandangan paling menakjubkan bagi saya. Saya pun ingin rak buku yang besar dan kokoh seperti itu, dengan deretan buku sebanyak yang bisa disimpan disana dan tentunya buku-bukunya tidak hanya diam membisu tapi sering di baca dan .. diamalkan isinya. Tapi, keinginan saya untuk memiliki rak insyaAllah tidak sampai mengurangi rasa cukup di hati. Karena, saya tetap saja merasa senang dengan kehadiran rak yang kadang goyang-goyang ini. It's ok, ini cukup namun rasa cukup tidak justru mengurangi usaha untuk menghadirkan yang lebih baik, bukan?

Beralih ke..apa yang akan saya lakukan di awal libur hari ini. Opsih dan mempersiapkan segala sesuatu menyambut kepulangan nak gadis adalah agenda hari ini. Well, teteh @aufa_satiella , besok kita ngriung di sini ya Nak. FII amanillah shalihah. see you tomorrow

#catatandefa 

21/12/2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...