Langsung ke konten utama

AYIKCTDTI (19)

 03.13 kakang memberi kabar bahwa beliau sudah sampai di bumi Cirangkong, beliau menunggu adzan Shubuh di masjid tempat biasanya kami shalat shubuh setiap kali kesana. MasyaAllah waktu, tiba-tiba saja ingatan kembali ke 4,5 tahun yang lalu.. ya, ini sudah 4,5 tahun kemudian sejak pertama kali kami mengantar teteh ke Bumi cendekia. Hari ini 4,5 tahun kemudian.. MasyaAllah MasyaAllah Allahu Akbar. Netra bisa dengan mudah berembun setiap kali mengingat anak-anak.

"Bi, anak-anak sudah besar saja ya." Obrolan saya dan kakang via vcall WA saat kakang sudah sampai di bumi cendekia. Ada haru menyelusup erat, pelan namun terasa kuat. Ada senyum di balik netra yang basah, "Defa, sudah..." Untuk semua kisah di hari kemarin yang pada saatnya tidak mungkin tidak membuat jantung berdegup kencang. Dug dug dug.. hari-hari dimana mereka masih harus sering dipantau dan diingatkan dengan gaya khas anak-anak kecil itu kini tlah tumbuh semakin besar. Apakah tidak ada lagi hari-hari untuk tetap mengingatkan mereka? Itu tetap berlaku dan semakin intens saja apalagi karena mereka sudah mengemban tanggung jawab yang jauh lebih besar yang akan mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Ini adalah cinta saya, untuk tetap mengingatkan mereka meski dengan cara yang tak lagi sama.

"Sungguh Nak, anak-anakku sayang, ummi mencintai kalian semua karena Allah. Dan cinta karena Allah bukanlah bentuk cinta membabi buta atau kenal kata kagok dan khawatir saat mengingatkan dalam kebaikan namun justru sebaliknya, tak segan mengingatkan jika diantara kita ada yang lalai atau lupa.. "

Adzan subuh tlah berkumandang sejak beberapa menit yang lalu, saya juga sudah melihat teteh yang berlari kepada Ayah yang menempuh panjangnya jarak menjemput ananda yang di cinta. MasyaAllah sampai jumpa kembali siang nanti di rumah .. hari ini akan ummi masakkan beberapa hidangan istimewa yang semoga menjadi jejak pengingat antara kita.

Fii amanillah..


#catatandefa 


Balananjeur, 22 Desember 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...