Di bawah langit sekolah yang kini terasa berbeda,
Kami berdiri, menatap punggungmu yang mulai tegap.
Rasanya baru kemarin, tangan kecilmu menggenggam jemari kami,
Mengeja satu demi satu huruf alif, ba, dan ta,
Dengan lisan yang masih kelu, namun penuh cahaya.
Tiga tahun...
Ternyata waktu adalah pelukis yang paling sunyi.
Ia bekerja di sela-sela lelahmu menghafal ayat demi ayat,
Di antara kantuk yang kau lawan demi menjaga setoran,
Dan di dalam doa-doa kami yang melangit tanpa jeda.
Anakku, Kalifa Firdausy Fahrin...
Mahkota yang kau impikan itu, kini mulai nampak bentuknya.
Bukan terbuat dari emas yang akan pudar oleh usia,
Melainkan dari aksara langit yang kau simpan di dalam dada.
Kau tidak hanya sedang belajar menghafal,
Kau sedang membangun jalan pulang untuk kami ke surga.
Maafkan jika di sepanjang perjalanan ini,
Suara kami terkadang meninggi karena khawatirnya hati.
Maafkan jika tuntutan kami terkadang terasa membebani.
Sesungguhnya, kami hanya takut jika kau kehilangan arah,
Di dunia yang semakin riuh oleh warna-warni semu.
Hari ini, di gerbang perpisahan ini,
Kami lepaskan langkahmu untuk melukis aksara yang lebih luas.
Pergilah, terbanglah setinggi mimpi-mimpimu,
Namun jangan pernah biarkan Al-Qur'an itu lepas dari pelukanmu.
Sebab ia adalah kompas, ia adalah rumah tempat hatimu selalu tenang.
Terima kasih, wahai penyejuk mata kami.
Terima kasih telah menjadikan kami orang tua yang beruntung.
Doa kami akan selalu ada di setiap helai napasmu,
Menjadi sayap yang akan membantumu pulang saat kau lelah berjuang.
Ummi
Tasikmalaya, 28 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar