Langsung ke konten utama

Di Balik Mahkota yang Kau Pintal

Anak-anakku yang dicintai Allah...

Hari ini, kita tidak sedang merayakan sekadar selesainya sebuah jenjang sekolah. Hari ini, kita sedang berdiri di sebuah terminal waktu, menoleh sejenak ke belakang sebelum melanjutkan safar (perjalanan) yang lebih jauh.

Lihatlah tanganmu... tangan yang dulu kecil dan mungil, kini telah mampu memegang mushaf dengan kokoh. Lisanmu yang dulu kelu, kini telah terbiasa melantunkan kalamullah. Namun, tanyakan pada hatimu, untuk siapa semua lelah ini kau tujukan?

Ingatlah, menghafal Al-Qur'an bukan tentang seberapa cepat kau khatam, tapi tentang seberapa sering ayat-ayat itu mengetuk pintu hatimu dan merubah adabmu. Jangan biarkan Al-Qur'an hanya sampai di kerongkongan, tapi biarkan ia meresap ke dalam aliran darahmu. Karena kelak, bukan sertifikat ini yang akan membelamu di hadapan Rabbul 'Alamin, melainkan syafaat dari ayat-ayat yang kau jaga dengan istiqomah.


Sekarang, coba tengoklah wajah-wajah di depanmu... wajah ayah dan ibundamu.

Mungkin hari ini mereka tersenyum melihatmu memakai jubah wisuda, tapi tahukah kalian apa yang mereka sembunyikan di balik senyum itu?

Ada peluh ayahmu yang jatuh demi membiayai sekolahmu. Ada doa-doa ibumu yang membelah langit di sepertiga malam, menangis agar anak-anaknya menjadi ahli surga. Kalian mungkin sibuk menghafal ayat, tapi mereka sibuk mengetuk pintu Arsy agar kalian dimudahkan.

Hari ini, mahkota tahfidz yang kalian impikan bukanlah milik kalian semata. Mahkota itu sesungguhnya adalah milik mereka yang tetap sabar saat kalian malas, yang tetap memaafkan saat kalian membantah, dan yang tetap mencintai saat kalian lupa berterima kasih.


Anak-anakku... turunkan egomu sejenak. Rendahkan bahumu di hadapan mereka.

Dekati mereka, raihlah tangan yang mungkin kini sudah mulai kasar oleh kerja keras. Tataplah mata yang mulai redup itu...

Sampaikan pada mereka dengan lisan yang paling jujur:

'Ayah, Ibu... terima kasih telah menjadikanku bagian dari mimpi surgamu. Maafkan jika selama enam tahun ini, aku lebih banyak menuntut daripada memberi. Maafkan jika hafalanku belum mampu memperbaiki akhlakku di depanmu.'

Peluklah mereka... tumpahkan air matamu di pundak mereka. Mintalah ridha mereka, karena demi Allah, ridha Allah ada pada senyum yang merekah di wajah orang tuamu hari ini. Mintalah doa mereka, agar Al-Qur'an yang kau hafal hari ini, menjadi cahaya yang akan menuntun kalian sekeluarga melewati sirath kelak.


"Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami ini sebagai tabungan amal jariyah bagi orang tuanya. Jangan jadikan ilmu mereka sebagai hujjah (penuntut) bagi mereka di akhirat, tapi jadikanlah sebagai wasilah (perantara) untuk berkumpul kembali di jannah-Mu yang tertinggi..."

Sebagai penutup dari simpul pertemuan kita hari ini, mari kita menengadahkan tangan sejenak, memohon kepada Dzat yang memegang ubun-ubun setiap hamba-Nya...

اللَّهُمَّ اجْعَلِ القُرْآنَ لَنَا فِي الدُّنْيَا قَرِينًا، وَفِي القَبْرِ مُؤْنِسًا، وَفِي القِيَامَةِ شَفِيعًا

(Allahummaj’alil Qur’ana lana fiddunya qariina, wa fil qabri mu’nisa, wa fil qiyamati syafii’a)

"Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an bagi kami teman di dunia, penghibur di dalam kubur, dan pemberi syafaat di hari kiamat kelak."

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَأَوْلادَنَا مِنْ أَهْلِ القُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ

(Allahummaj’alna wa awladana min ahlil qur’anilladzina hum ahluka wa khasshatuk)

"Ya Allah, jadikanlah kami dan anak-anak kami termasuk ahli Al-Qur'an, yang merupakan keluarga-Mu dan orang-orang pilihan-Mu di bumi ini."

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

(Rabbannaghfirlana wa liwalidina warhamhuma kama rabbayana shighara)

"Wahai Rabb kami, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka telah mendidik dan menyayangi kami di waktu kecil."

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْلادِنَا وَلَا تَضُرَّهُمْ وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنَا بِرَّهُمْ

(Allahumma barik lana fi awladina wa la tadhurrahum wa waffiqhum litha’atika warzuqna birrahum)

"Ya Allah, berkahilah anak-anak kami, jangan Engkau timpakan bala pada mereka, berikanlah taufik kepada mereka untuk senantiasa taat kepada-Mu, dan anugerahkanlah kepada kami bakti mereka kepada kami."


"Anak-anakku... hari ini kalian menangis di pelukan orang tua kalian. Pastikan air mata ini bukan air mata terakhir yang kalian tumpahkan untuk mereka. Jadikan setiap huruf Al-Qur'an yang kalian baca sebagai aliran pahala yang tidak terputus untuk ayah dan ibu kalian.

Sebab, hadiah terindah bagi orang tua bukanlah kesuksesan duniamu, melainkan saat mereka melihat anak-anaknya tegak berdiri di atas jalan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Barakallahu fikum, selamat berjuang di jenjang berikutnya. Jaga hafalanmu, jaga adabmu, dan yang paling utama... jaga bakti kepada kedua orang tuamu."

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tasikmalaya, 28 Januari 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...

Sinergi Orang Tua dan Guru sebagai Fondasi Generasi Emas

  I. Mengapa Orang Tua Menitipkan Anak ke Sekolah? Keputusan krusial orang tua untuk menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal (sekolah) didasari oleh kebutuhan yang kompleks dan multidimensional , melampaui sekadar fungsi penitipan atau pengasuhan. 1. Pendidikan Formal dan Keilmuan yang Sistematis Sekolah berfungsi sebagai gerbang utama menuju ilmu pengetahuan terstruktur. Akses kepada Profesional: Sekolah menyediakan akses kepada tenaga pendidik profesional (guru) yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis (ilmu mengajar) sesuai tahapan usia anak. Kurikulum Terstruktur: Anak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sistematis, runtut, dan teruji secara nasional (atau internasional), memastikan mereka mencapai capaian perkembangan yang sesuai dengan usianya. 2. Laboratorium Sosial dan Pembentukan Karakter Sekolah adalah lingkungan pertama di luar keluarga tempat anak mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Sosialisasi dan Empati: An...