Ada beberapa orang yang gemar sekali membungkus realita dengan kata-kata mutiara, yang sayangnya, sering kali lupa menyertakan "mutiaranya". Mereka bilang, orang yang ikhlas itu tidak akan pernah mengeluh. Katanya, kalau hati sudah rida, lelah dan sedih bakal hilang ditelan bumi.
Terdengar cantik untuk dijadikan takarir foto di media sosial, tapi jujur saja, itu omong kosong yang berbahaya.
Kita ini manusia, bukan robot yang diprogram untuk tidak punya rasa. Kita punya jantung yang bisa berdegup kencang karena takut, dan air mata yang bisa jatuh tanpa izin karena luka. Kalau ikhlas artinya kehilangan rasa sakit, maka kita sedang dipaksa menjadi mayat sebelum waktunya.
Coba kita tengok sejarah. Siapa yang lebih tangguh dari para Nabi? Mereka adalah manusia-manusia paling jujur dalam beribadah. Tapi apakah hidup mereka lurus-urus saja tanpa isak tangis? Tidak.
Ingat Nabi Ya’qub? Beliau seorang Nabi, pejuang yang jauh dari kata "kaleng-kaleng". Beliau bersedih, sangat sedih, sampai matanya memutih. Beliau tidak berpura-pura kuat di hadapan hiruk-pikuk dunia. Beliau hanya memilih untuk melabuhkan keluh kesahnya di dermaga yang tepat:
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Qāla innamā asykū baṡṡī wa ḥuznī ilallāhi wa a‘lamu minallāhi mā lā ta‘lamūn.
Artinya: "Dia (Ya‘qub) menjawab, 'Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui'." (Surat Yusuf (12) : 86)
Ikhlas itu bukan berarti bebanmu mendadak jadi seringan kapas. Ikhlas adalah saat beban itu terasa sangat berat, kakimu sudah gemetar, tapi kamu tetap berjalan sambil berbisik, "Tolong aku, Ya Allah."
Banyak dari kita yang terlalu sombong. Mengira ikhlas adalah kekuatan otot yang lahir dari diri sendiri. Kita terjebak pada narasi "mandiri" sampai lupa pada isti’anah—memohon pertolongan. Padahal, kita tidak akan pernah sampai pada titik ikhlas kalau bukan karena tangan Tuhan yang menarik kita pelan-pelan.
Menjadi muslim yang kuat itu harus, wajib. Tapi kuat bukan berarti kaku. Kuat itu seperti pohon yang tetap berayun saat badai datang, bukan yang keras lalu patah karena menolak kenyataan bahwa angin sedang kencang-kencangnya.
Jadi, tidak apa-apa kalau hari ini kamu merasa lelah. Tidak apa-apa kalau takdir kali ini membuat kamu ingin menangis sesenggukan. Itu manusiawi. Kesedihanmu tidak lantas membuat kadar keikhlasanmu jadi nol persen.
Selama pengaduanmu tidak mampir di telinga orang yang salah, selama sujudmu masih menjadi tempat paling nyaman untuk tumpah, kamu sedang baik-baik saja. Berhenti berpura-pura menjadi pahlawan yang tidak punya rasa sakit. Karena pada akhirnya, kita cuma musafir yang butuh bimbingan-Nya untuk pulang.
Tasikmalaya, Februari 2026
Komentar
Posting Komentar