Hari itu, 7 April 2003, alam semesta seolah sedang merayakan sesuatu. Di kalender, itu adalah hari kelahiran saya. Namun di dalam rumah Mamah, ada kehidupan lain yang mendesak ingin melihat dunia. Malam sudah larut. Udara dingin merayap pelan, dan rumah terasa lebih hening dari biasanya—sebuah suasana yang hingga hari ini masih bisa saya hirup aromanya.
Saya ingat betul bagaimana Eteh dengan cekatan mengambil alih tumpukan cucian, bergerak pelan agar tak memecah sunyi. Mamah, dengan tangan yang penuh kasih, tak henti memijat punggung dan bagian belakang perut saya. Sentuhannya hangat, menenangkan, seolah menyalurkan sisa-sisa kekuatan masa mudanya ke dalam tubuh saya yang mulai kepayahan. Di tengah semua itu, ada Bidan Neneng. Suaranya rendah dan sabar, menjadi sauh bagi saya yang rewel menahan sakit yang terasa tak biasa.
Dan di sana, di samping saya, ada Abi. Dalam temaram lampu malam, genggaman tangannya adalah satu-satunya hal yang membuat saya merasa masih berpijak di bumi.
Waktu merambat lambat. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah ikut menghitung napas saya yang kian pendek. Menjelang dini hari, saat malam terasa paling sunyi dan dunia seperti berhenti bergerak, pekik tangis bayi akhirnya memecah ketegangan. Pukul tiga tepat, Muhammad Quthb Al Ayyash lahir ke dunia cahaya pertama kami.
Seharusnya, saat ia diletakkan di dada saya, ada kelegaan yang tuntas. Namun bagi tubuh saya, itu hanyalah jeda singkat sebelum badai besar datang.
Tawa syukur yang baru saja pecah perlahan terasa menjauh. Pandangan mengabur. Dunia seolah melambat secara paksa. Saya merasakan sisa tenaga merosot tajam, seakan ada lubang besar yang mengisap seluruh daya hidup. Di sanalah, dalam sunyi dini hari itu, untuk pertama kali saya menyadari: bagi tubuh saya, kelahiran bayi bukanlah garis finis. “pertarungan” yang sesungguhnya justru dimulai setelah bayi menghirup oksigen pertamanya.
Darah mulai mengalir—tak terkendali.
Saya melihat perubahan di wajah Abi. Dalam cahaya lampu yang pucat, ketenangan yang ia bangun sejak awal malam runtuh, digantikan oleh gurat tegang yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ia tidak lagi sekadar memegang tangan saya; ia menggenggamnya sangat erat, seolah jika ia melonggarkannya sedikit saja, saya akan melayang pergi. Di tengah kepanikan ruang persalinan saat Bidan Neneng mulai bergegas melakukan tindakan, saya hanya bisa menatap mata Abi yang bergetar.
Di dini hari itu, di hari milad saya, saya tidak hanya melahirkan seorang putra. Namun juga melahirkan sebuah kesadaran baru: bahwa setiap kali saya memberi kehidupan, saya harus bersiap mempertaruhkan nyawa sendiri.
Februari, 2026
Komentar
Posting Komentar