Sering kali kita terjebak pada keinginan untuk terlihat bijak di hadapan anak-anak kita, hingga tanpa sadar kita melakukan apa yang disebut sebagai Talbis Iblis dalam pendidikan. Kita membungkus kelemahan hati kita—ketidakberanian kita dalam menegakkan aturan—dengan kemasan kasih sayang yang semu. Kita mulai alergi dengan kata "hukuman", lalu menggantinya dengan deretan eufemisme atau penghalusan kata yang melenakan. Padahal, penghalusan kata yang mengaburkan hakikat kebenaran adalah pintu gerbang menuju rusaknya karakter generasi.
Dalam Islam, agama yang telah sempurna ini, hukuman memiliki kedudukan yang jelas. Hukuman ya hukuman. Di sinilah pentingnya Tahkiful Makna, yakni menegaskan makna yang sebenarnya. Saat seorang guru atau orang tua menghaluskan istilah hukuman menjadi sesuatu yang terdengar "nyaman", saat itulah kita sedang mengaburkan realitas di benak anak. Mereka kehilangan kepekaan terhadap konsekuensi serius dari sebuah pelanggaran. Wibawa aturan pun luruh; ia tak lagi dipandang sebagai standar perilaku yang harus dijunjung tinggi, melainkan sekadar saran yang boleh diabaikan jika dirasa mengganggu kenyamanan.
Kita mungkin teringat pada kegigihan yang digambarkan dalam Battle Hymn of the Tiger Mother. Namun, dalam bingkai Adabul Mu’allim wal Muta’allim yang diwariskan oleh Ibnu Sahnun maupun Imam Al-Qundusi, ketegasan bukanlah pelampiasan amarah. Sorotan pertama justru tertuju pada adab sang guru. Guru adalah jiwa dari pendidikan itu sendiri. Sebelum ia menuntut ketaatan pada muridnya, ia harus lebih dahulu menuntaskan adab pada dirinya.
Hukuman tidak boleh berdiri sendiri secara liar. Ia harus lahir dari pemahaman yang utuh. Sebelum hukuman dijatuhkan, anak harus terlebih dahulu memahami letak kesalahannya. Jika ada siswa yang berambut gondrong melampaui batas aturan, panggillah ia dengan penuh kewibawaan. Jelaskan di mana letak pelanggarannya. Biarkan ia mengerti bahwa yang sedang diluruskan adalah perilakunya, bukan kebencian terhadap pribadinya. Di sinilah hukuman menjadi bagian dari intervensi perilaku yang bernilai pendidikan. Tanpa itu hukuman hanyalah tindakan sia-sia yang tak meninggalkan jejak perbaikan.
Ketahuilah, hukuman yang benar adalah yang mengikuti jejak nubuwah. Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan konsekuensi kepada para sahabat. Tegas, namun tidak menghancurkan martabat. Jelas maknanya, sehingga lahir kesadaran untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Hukuman tersebut tidak dibiarkan menguap begitu saja, melainkan diikuti dengan bimbingan dan dukungan lingkungan yang kondusif untuk bertumbuh kembali.
Jangan biarkan anak-anak kita terbuai dengan kalimat penipu diri seperti "Aku hebat, aku pintar" tanpa adanya usaha yang nyata. Pujian yang kosong dan penghalusan kata yang menipu hanya akan melahirkan jiwa-jiwa yang rapuh. Kita butuh ketegasan untuk mengatakan bahwa yang salah adalah salah, dan yang benar adalah benar. Karena pada akhirnya, hukuman yang diberikan dengan takaran adab yang tepat adalah bentuk cinta yang paling jujur untuk menyelamatkan masa depan mereka.
Tasikmalaya, 9 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar