Ada saatnya dalam perjalanan mendampingi buah hati atau anak didik, kita harus berani mengambil langkah mundur. Bukan karena lelah yang tak terlukiskan setelah melewati badai tantrum, tangis yang memicu muntah, atau keengganan yang membatu untuk sekadar masuk ke ruang kelas. Kita mundur justru karena mencintai pertumbuhannya. Berhenti mendampingi karena ingin memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri yang utuh.
Saya ingat betul bagaimana hari-hari kemarin. Melelahkan, memang. Mengondisikan anak yang hanya mau berteduh di kantor hingga jam pulang, menolak berbaur, dan menutup diri dari riuh rendahnya pertemanan, membutuhkan stok kesabaran yang tidak boleh putus di tengah jalan. Namun lihatlah hari ini. Anak yang dulu "terpenjara" oleh emosinya sendiri, kini mulai mampu mengendalikan kemudi rasanya. Ia telah memiliki regulasi emosi yang baik. Ia telah memiliki inisiatif. Dan yang paling mengharukan, ia kini punya nyali untuk berkompetisi dan kepercayaan diri untuk berdiri tegak di hadapan teman-temannya.
Inilah saatnya saya menyerahkan kembali "tongkat kendali" itu ke tangannya.
Menyerahkan kendali bukan berarti membiarkannya berjalan tanpa arah. Ini adalah bentuk kepercayaan tertinggi. Ketika kepercayaan diri anak sudah tumbuh, pendampingan yang terlalu melekat justru berisiko menjadi beban yang menghambat kepaknya. Saya ingin ia merasa bahwa keberhasilannya hari ini adalah karena kemampuannya, bukan semata karena sandaran pada kita.
Namun, transisi ini butuh kebijaksanaan. Kita memerlukan sosok guru—wali kelas—yang memahami bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer angka, melainkan menjaga nyala api di jiwa anak. Kriteria wali kelas yang diharapkan bukanlah yang paling keras suaranya dalam memerintah, melainkan yang paling lapang dadanya dalam menerima.
Kita butuh sosok guru yang memiliki penerimaan emosi (emotional validation) yang kuat; yang tidak reaktif saat anak menemui hari yang sulit, namun mampu hadir sebagai penenang. Butuh pendidik yang lebih banyak mendorong daripada menarik, yang mampu mengapresiasi setiap inisiatif kecil, dan yang jeli melihat dinamika sosial tanpa harus memaksa.
Tugas saya sekarang adalah menjadi pengamat yang penuh doa dari kejauhan. Tetap memantau, namun tidak lagi memegang kendalinya. Membiarkannya merasakan nikmatnya berjuang, indahnya memenangkan kompetisi, dan bahkan pentingnya belajar dari kekalahan dengan kakinya sendiri.
Sebab, tujuan akhir dari setiap pendampingan adalah membuat kehadiran kita tidak lagi dibutuhkan oleh mereka. Dan ketika hari itu tiba, itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Tasikmalaya, 9 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar