Langsung ke konten utama

Melepas dengan Percaya, Menumbuhkan dengan Doa


Ada saatnya dalam perjalanan mendampingi buah hati atau anak didik, kita harus berani mengambil langkah mundur. Bukan karena lelah yang tak terlukiskan setelah melewati badai tantrum, tangis yang memicu muntah, atau keengganan yang membatu untuk sekadar masuk ke ruang kelas. Kita mundur justru karena mencintai pertumbuhannya. Berhenti mendampingi karena  ingin memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri yang utuh.

Saya ingat betul bagaimana hari-hari kemarin. Melelahkan, memang. Mengondisikan anak yang hanya mau berteduh di kantor hingga jam pulang, menolak berbaur, dan menutup diri dari riuh rendahnya pertemanan, membutuhkan stok kesabaran yang tidak boleh putus di tengah jalan. Namun lihatlah hari ini. Anak yang dulu "terpenjara" oleh emosinya sendiri, kini mulai mampu mengendalikan kemudi rasanya. Ia telah memiliki regulasi emosi yang baik. Ia telah memiliki inisiatif. Dan yang paling mengharukan, ia kini punya nyali untuk berkompetisi dan kepercayaan diri untuk berdiri tegak di hadapan teman-temannya.

Inilah saatnya saya menyerahkan kembali "tongkat kendali" itu ke tangannya.

Menyerahkan kendali bukan berarti membiarkannya berjalan tanpa arah. Ini adalah bentuk kepercayaan tertinggi. Ketika kepercayaan diri anak sudah tumbuh, pendampingan yang terlalu melekat justru berisiko menjadi beban yang menghambat kepaknya. Saya ingin ia merasa bahwa keberhasilannya hari ini adalah karena kemampuannya, bukan semata karena sandaran pada kita.

Namun, transisi ini butuh kebijaksanaan. Kita memerlukan sosok guru—wali kelas—yang memahami bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer angka, melainkan menjaga nyala api di jiwa anak. Kriteria wali kelas yang diharapkan bukanlah yang paling keras suaranya dalam memerintah, melainkan yang paling lapang dadanya dalam menerima.

Kita butuh sosok guru yang memiliki penerimaan emosi (emotional validation) yang kuat; yang tidak reaktif saat anak menemui hari yang sulit, namun mampu hadir sebagai penenang. Butuh pendidik yang lebih banyak mendorong daripada menarik, yang mampu mengapresiasi setiap inisiatif kecil, dan yang jeli melihat dinamika sosial tanpa harus memaksa.

Tugas saya sekarang adalah menjadi pengamat yang penuh doa dari kejauhan. Tetap memantau, namun tidak lagi memegang kendalinya. Membiarkannya merasakan nikmatnya berjuang, indahnya memenangkan kompetisi, dan bahkan pentingnya belajar dari kekalahan dengan kakinya sendiri.

Sebab, tujuan akhir dari setiap pendampingan adalah membuat kehadiran kita tidak lagi dibutuhkan oleh mereka. Dan ketika hari itu tiba, itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Tasikmalaya, 9 Februari 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...

Sinergi Orang Tua dan Guru sebagai Fondasi Generasi Emas

  I. Mengapa Orang Tua Menitipkan Anak ke Sekolah? Keputusan krusial orang tua untuk menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal (sekolah) didasari oleh kebutuhan yang kompleks dan multidimensional , melampaui sekadar fungsi penitipan atau pengasuhan. 1. Pendidikan Formal dan Keilmuan yang Sistematis Sekolah berfungsi sebagai gerbang utama menuju ilmu pengetahuan terstruktur. Akses kepada Profesional: Sekolah menyediakan akses kepada tenaga pendidik profesional (guru) yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis (ilmu mengajar) sesuai tahapan usia anak. Kurikulum Terstruktur: Anak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sistematis, runtut, dan teruji secara nasional (atau internasional), memastikan mereka mencapai capaian perkembangan yang sesuai dengan usianya. 2. Laboratorium Sosial dan Pembentukan Karakter Sekolah adalah lingkungan pertama di luar keluarga tempat anak mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Sosialisasi dan Empati: An...