Langsung ke konten utama

Surat untuk Jiwa yang Sedang Lelah


Untukmu, wahai jiwa yang hari ini merasa dunia begitu gaduh dan menyesakkan.

Duduklah sejenak, lepaskanlah sebentar beban-beban khayali yang kau ikat sendiri di pundakmu. Engkau terlalu sibuk mencemaskan hari esok, seolah-olah engkau adalah penentu takdir bagi dirimu sendiri. Padahal, jika kau menoleh ke belakang, bukankah Allah yang telah menuntunmu melewati badai-badai yang dulu kau pikir takkan sanggup kau lalui?

Ingatlah pesan ini baik-baik...

Jangan kau pikul beban dunia, karena ia milik Allah. Ia adalah panggung sandiwara yang naskahnya sudah rampung ditulis. Jangan pula kau risaukan rezeki, karena Ar Razaq telah berjanji sebelum ruhmu ditiupkan ke rahim ibu. Dan jangan kau bimbang akan masa depan, sebab masa depan adalah wilayah kegaiban yang berada dalam genggaman Ar-Rahman.

Tidakkah kau lelah mengejar bayang-bayang yang terus berlari?

Tukarlah seluruh gelisahmu itu dengan satu kegelisahan yang mulia. Satu saja. Tanyakan pada hatimu di penghujung hari: "Sudahkah Allah ridha kepadaku hari ini?"

Sebab, kawan... saat kau berhasil mengetuk pintu Ridha-Nya, maka semesta yang luas ini akan terasa seperti taman bermain bagimu. Segala urusan yang pelik akan diurai-Nya, dan segala pintu yang tertutup akan diketuk-Nya dari arah yang tak kau duga.

Istirahatkanlah pikiranmu dari mengatur dunia yang sudah ada Pengaturnya. Fokuslah memperbaiki hubunganmu dengan-Nya, maka Dia akan memperbaiki segala urusanmu dengan makhluk-Nya.

Kembalilah tenang, karena Allah bersamamu.


Defa S Hidayat

Tasikmalaya,8 Februari 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...

Sinergi Orang Tua dan Guru sebagai Fondasi Generasi Emas

  I. Mengapa Orang Tua Menitipkan Anak ke Sekolah? Keputusan krusial orang tua untuk menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal (sekolah) didasari oleh kebutuhan yang kompleks dan multidimensional , melampaui sekadar fungsi penitipan atau pengasuhan. 1. Pendidikan Formal dan Keilmuan yang Sistematis Sekolah berfungsi sebagai gerbang utama menuju ilmu pengetahuan terstruktur. Akses kepada Profesional: Sekolah menyediakan akses kepada tenaga pendidik profesional (guru) yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis (ilmu mengajar) sesuai tahapan usia anak. Kurikulum Terstruktur: Anak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sistematis, runtut, dan teruji secara nasional (atau internasional), memastikan mereka mencapai capaian perkembangan yang sesuai dengan usianya. 2. Laboratorium Sosial dan Pembentukan Karakter Sekolah adalah lingkungan pertama di luar keluarga tempat anak mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Sosialisasi dan Empati: An...