Langsung ke konten utama

The Final Chapter

Ada sebuah prinsip mendasar yang saya pegang teguh: bahwa ada jenis kenyamanan yang tidak boleh datang dari 'pemberian' manusia, melainkan harus dijemput melalui sebuah keputusan strategis untuk berdiri di atas kaki sendiri. Itulah yang saya sebut sebagai upaya menjaga Izzah (harga diri).

Seringkali, banyak orang hanya terpaku pada the final chapter—mereka melihat hasil yang nampak hari ini. Namun, mereka alpa menoleh pada the long and winding road yang kami lalui; tentang jejak kaki yang berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, beradu dengan sesaknya tagihan sewa di tengah biaya pendidikan yang mulai meninggi. Bagi saya, membangun rumah bukan sekadar laying bricks atau menyusun bata, melainkan sebuah ikhtiar restoring dignity—menyusun kembali martabat yang sempat terkikis oleh badai fitnah.

Namun, di tengah perjuangan itu, saya dihadapkan pada sebuah distorted truth. Sungguh sebuah fenomena yang menyesakkan dada saat kenyamanan yang kami bangun dengan darah dan air mata justru diklaim sebagai buah dari 'pengorbanan' orang lain. Ada narasi yang sengaja dibangun untuk menempatkan kami sebagai 'pesakitan yang beruntung', sementara mereka berperan sebagai martir yang memikul beban dunia.

Saya sering mendengar gerutuan tentang lelahnya mengurus rumah, tentang kain pel dan deterjen yang seolah menjadi saksi atas "dosa" kepergian kami. Hellooo... apakah kalian pikir kami hanya duduk manis? Kami memilih keluar bukan karena ingin lepas tangan, melainkan untuk memberikan ruang bagi mereka yang begitu mendamba tempat itu. Namun ironisnya, kebaikan tersebut justru dikonversi menjadi senjata untuk menghujat kami sebagai pihak yang tak tahu diri.

Dalam situasi yang extremely painful seperti itu, saya sampai pada sebuah mature realization: Membela diri di hadapan mereka yang sudah menutup mata hati adalah sebuah futile effort—usaha yang sia-sia. Maka, saya memilih untuk remain silent. Saya memilih untuk menangis diam-diam dalam sujud, di mana tidak ada manipulasi dan penghakiman. Diam saya bukan berarti setuju dengan narasi palsu itu, melainkan sebuah bentuk penghormatan tertinggi pada kedamaian batin saya sendiri.

Saya tidak lagi butuh memenangkan perdebatan tentang 'siapa yang paling berjasa'. Fokus saya kini adalah legacy bagi anak-anak. Saya ingin mereka tumbuh di rumah yang berdiri di atas pondasi kejujuran, tumbuh dengan memori tentang ketenangan, bukan kenangan tentang pertikaian harta atau klaim jasa yang semu.

Truth is like a lion; it doesn't need a lawyer. Biarlah waktu yang menjadi juri terbaik. Cukuplah Allah sebagai akuntan atas setiap keringat yang tumpah selama kami kelimpungan mencari biaya sewa. Keberkahan hidup tidak butuh validasi dari narasi manusia yang keliru, melainkan dari keridhoan-Nya.

Hari ini, saya menutup buku dari drama yang melelahkan itu. Saya memilih untuk melangkah maju, memaafkan tanpa harus melupakan pelajaran berharganya. Karena pada akhirnya, pemenang yang sebenarnya bukanlah dia yang paling banyak dipuji manusia, tapi dia yang hatinya paling tenang saat bersimpuh di hadapan Sang Pencipta.

Tasikmalaya, 3 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...

Sinergi Orang Tua dan Guru sebagai Fondasi Generasi Emas

  I. Mengapa Orang Tua Menitipkan Anak ke Sekolah? Keputusan krusial orang tua untuk menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal (sekolah) didasari oleh kebutuhan yang kompleks dan multidimensional , melampaui sekadar fungsi penitipan atau pengasuhan. 1. Pendidikan Formal dan Keilmuan yang Sistematis Sekolah berfungsi sebagai gerbang utama menuju ilmu pengetahuan terstruktur. Akses kepada Profesional: Sekolah menyediakan akses kepada tenaga pendidik profesional (guru) yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis (ilmu mengajar) sesuai tahapan usia anak. Kurikulum Terstruktur: Anak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sistematis, runtut, dan teruji secara nasional (atau internasional), memastikan mereka mencapai capaian perkembangan yang sesuai dengan usianya. 2. Laboratorium Sosial dan Pembentukan Karakter Sekolah adalah lingkungan pertama di luar keluarga tempat anak mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Sosialisasi dan Empati: An...