Langsung ke konten utama

Hari-Hari yang Tidak Lagi Sama

Ada satu momen dalam perjalanan menjadi ibu

yang tidak memiliki penanda waktu yang jelas.

Ia tidak datang dengan suara.
Tidak pula dengan peristiwa besar.

Namun perlahan, ia terasa—
saat seorang ibu mulai menyadari:

hidupnya… tidak lagi sama.


Hari-hari yang dulu terasa longgar,
kini menjadi padat tanpa jeda.

Waktu yang dulu bisa ia miliki sepenuhnya,
kini terbagi dalam potongan-potongan kecil
yang bahkan sering kali bukan untuk dirinya.

Bangun tidur bukan lagi tentang memulai hari,
melainkan tentang melanjutkan tugas yang sempat terhenti.

Malam bukan lagi tentang beristirahat,
tetapi tentang berjaga—
menenangkan, menyusui, atau sekadar memastikan
bahwa semuanya baik-baik saja.


Di tengah itu semua,
ada satu hal yang sering luput disadari:

seorang ibu sedang berpisah
dengan versi dirinya yang lama.

Bukan karena ia ingin,
tetapi karena kehidupan menuntunnya ke arah yang baru.

Ia tidak lagi bisa bergerak sebebas dulu.
Tidak lagi bisa mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan banyak hal.
Tidak lagi memiliki ruang sunyi yang utuh untuk sekadar menjadi dirinya sendiri.

Dan tanpa disadari,
ia mulai merindukan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa.

Duduk tanpa gangguan.
Menyelesaikan satu pekerjaan tanpa terputus.
Atau sekadar… berpikir tanpa tergesa.


Namun kerinduan itu sering ia sembunyikan.

Karena ada rasa bersalah yang mengiringinya.

Bagaimana mungkin ia merindukan masa lalu,
padahal ia sangat mencintai kehidupan yang sekarang?

Bagaimana mungkin ia ingin kembali sejenak menjadi dirinya yang dulu,
padahal ia tahu bahwa anak-anaknya adalah anugerah terbesar?

Akhirnya, ia memilih diam.

Memeluk perasaan itu sendiri,
tanpa benar-benar memahaminya.


Di sinilah banyak ibu mulai merasa asing
dengan dirinya sendiri.

Ia menjalani hari seperti biasa,
namun ada bagian dalam dirinya yang terasa berubah.

Lebih sensitif.
Lebih mudah lelah.
Lebih mudah tersentuh—bahkan oleh hal-hal kecil.

Dan kadang, ia tidak tahu harus menjelaskan kepada siapa.


Padahal, ini bukan tentang ketidaksyukuran.

Ini adalah tentang proses.

Tentang bagaimana jiwa menyesuaikan diri
dengan tanggung jawab yang begitu besar.

Tentang bagaimana hati belajar menjadi lebih luas,
meski di saat yang sama terasa lebih rapuh.


Perubahan ini… tidak selalu nyaman.

Ada hari ketika seorang ibu merasa cukup kuat
untuk menjalani semuanya.

Namun ada juga hari ketika hal-hal kecil terasa begitu berat.

Tangis anak yang berulang.
Pekerjaan rumah yang tak selesai.
Tubuh yang lelah tanpa sempat pulih.

Dan di tengah semua itu,
ia hanya ingin berhenti sejenak—
meski hanya untuk bernapas.


Jika ada yang bertanya,
“Apakah ini akan selalu seperti ini?”

Maka jawabannya: tidak.

Namun bukan berarti semuanya akan kembali seperti dulu.

Karena yang berubah… bukan hanya keadaan,
tetapi juga dirinya.

Dan di situlah letak keindahannya—
meski sering kali baru bisa dipahami nanti.


Seorang ibu tidak sedang kehilangan dirinya.

Ia sedang dibentuk.

Dibentuk menjadi pribadi yang lebih luas daya tahannya.
Lebih dalam cintanya.
Lebih kuat, meski sering merasa rapuh.


Namun dalam proses itu,
ada satu hal yang perlu ia ingat:

bahwa ia tetap manusia.

Ia boleh lelah.
Ia boleh merasa kewalahan.
Ia bahkan boleh merindukan dirinya yang dulu.

Semua itu tidak mengurangi cintanya.
Tidak pula mengurangi nilainya sebagai seorang ibu.


Dan mungkin,
yang paling ia butuhkan di fase ini bukanlah nasihat panjang.

Melainkan izin…
untuk merasa.

Merasa lelah tanpa dihakimi.
Merasa sedih tanpa dianggap kurang bersyukur.
Merasa rindu tanpa harus menyalahkan diri sendiri.


Karena dari situlah,
ia bisa mulai berdamai.

Bukan dengan menghapus rasa lelah,
tetapi dengan menerimanya sebagai bagian dari perjalanan.

Perjalanan yang akan membawanya
pada pemahaman yang lebih dalam—
tentang cinta,
tentang pengorbanan,
dan tentang dirinya sendiri.


Defa S Hidayat

Tasikmalaya, Maret 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...