Pernahkah Anda merasa sesak saat melihat layar ponsel? Melihat kawan lama dengan bisnis yang sudah menggurita, atau sahabat karib dengan hafalan Al-Qur’an yang melesat jauh, sementara Anda masih berkutat dengan masalah yang itu-itu saja. Kita hidup di zaman yang memuja kecepatan; instant gratification telah menjadi standar baru. Seolah-olah jika tidak cepat, kita gagal, dan jika tidak instan, kita tertinggal. Namun, mari kita duduk sejenak dan berpikir jernih: di dalam hukum alam yang Allah tetapkan, adakah sesuatu yang besar lahir dalam semalam?
Bayangkan sebutir biji jati. Ia tidak langsung menjadi raksasa yang menantang langit dalam hitungan hari. Tahun-tahun pertamanya justru dihabiskan dalam kegelapan tanah. Ia tidak tumbuh ke atas, melainkan ke bawah untuk memperkuat akar. Ia memastikan bahwa ketika batangnya meninggi nanti, ia punya fondasi yang sanggup menahan hantaman badai sehebat apa pun. Begitu juga dengan perubahan diri. Bertumbuh pelan itu bukan masalah, yang masalah adalah ketika kita berhenti. Jika hari ini Anda hanya mampu bergeser satu sentimeter menuju kebaikan, syukuri itu. Satu sentimeter yang konsisten jauh lebih berharga di mata Allah daripada satu kilometer yang dilakukan dengan keterpaksaan lalu berhenti karena kelelahan.
Kita sering salah kaprah menganggap hijrah atau perbaikan diri sebagai sebuah perlombaan lari cepat (sprint). Padahal, ia adalah maraton panjang yang garis finish-nya adalah kematian. Allah tidak pernah bertanya seberapa cepat Anda sampai, tapi Allah melihat seberapa jujur Anda dalam melangkah. Dalam ketaatan, kecepatan itu relatif, tapi arah itu mutlak. Apa gunanya berlari kencang kalau arahnya salah? Lebih baik merangkak perlahan, tertatih-tatih dengan sisa tenaga yang ada, asalkan setiap inci gerakannya mendekat kepada ridha-Nya. Inilah esensi dari istiqomah—sebuah kata yang ringan diucapkan namun butuh punggung yang kuat untuk memikulnya.
Dunia hari ini mendesak kita untuk menjadi "sholeh instan", "pintar instan", atau "kaya instan". Tapi ingatlah, sesuatu yang didapat dengan instan biasanya hilangnya pun instan. Karakter yang matang hanya bisa ditempa oleh waktu, air mata, dan kesabaran dalam proses yang mungkin terasa membosankan. Jangan pernah bandingkan halaman pertama buku Anda dengan halaman ke-seratus buku orang lain. Setiap jiwa punya garis waktu (timeline) yang sudah didesain dengan sangat presisi. Tugas kita bukan menjadi lebih baik dari orang lain, tapi menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin.
Jangan pernah meremehkan langkah kecilmu. Mungkin hari ini langkahmu terasa berat dan progresmu terlihat kasat mata, tapi selama engkau masih bergerak, engkau sedang bertumbuh. Teruslah berjalan, meski perlahan. Karena bagi seorang pejuang sejati, tidak ada kata terlambat selama napas masih dikandung badan. Pada akhirnya, kemenangan bukan milik mereka yang paling cepat, tapi milik mereka yang paling bertahan dalam proses yang panjang dan penuh kesabaran.
Defa S Hidayat
Tasikmalaya, 8 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar