Langsung ke konten utama

Menolak Menjadi Bidal di Panggung Sandiwara Dunia

  Hari ini, nurani kita kerap dipaksa masuk ke dalam kotak-kotak sempit yang dibuat oleh narasi politik global. Seolah-olah, dunia ini hanya tentang memilih satu di antara dua keburukan. Seolah-olah, untuk membela Al-Quds, kita harus menutup mata dari genosida yang terjadi di Aleppo atau Idlib. Seolah-olah, untuk melawan hegemoni Barat yang menjajah, kita harus merangkul tangan-tangan yang berlumuran darah saudara seiman di bumi Syam.

Namun, sejarah tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi rabun dalam melihat kebenaran.  Kita diingatkan oleh firman Allah dalam Surah Al-Ma'idah:

"...dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)

Palestina Bukan Pencuci Dosa

Palestina adalah qadhiyah (persoalan) suci. Ia adalah kompas iman yang menentukan di mana posisi kita dalam peta kemanusiaan. Namun, kita harus tegas menyatakan: Palestina bukan "deterjen" untuk mencuci noda darah dari tangan-tangan yang telah membantai ribuan nyawa di Suriah, Yaman, atau Irak.

Kita tidak bisa menerima narasi bahwa dukungan terhadap pembebasan Al-Aqsha memberikan "lisensi" bagi siapapun untuk menghancurkan rumah-rumah saudara kita yang lain. Syariat kita tidak mengenal standar ganda. Darah seorang Muslim di Damaskus sama berharganya dengan darah seorang Muslim di Gaza. Menangisi satu sisi sambil merayakan pelaku kezaliman di sisi lain hanyalah sandiwara empati yang telah kehilangan kompas kebenarannya.

Bukan Barisan Penjajah, Bukan Pula Barisan Penindas

Di sisi lain, kita pun tidak akan pernah sudi berdiri di bawah panji Amerika Serikat dan sekutunya. Kita tidak lupa bagaimana moncong senapan mereka mencabik-cabik Afghanistan, meluluhlantakkan Irak, dan menjadi penyokong utama bagi entitas zionis untuk terus mencengkeram tanah para nabi. Mereka adalah arsitek dari banyak penderitaan yang kita saksikan hari ini.

Maka, posisi kita sudah jelas: Kita tidak berdiri bersama penjajah, dan kita tidak akan berbaris bersama penindas berbaju saudara.

Kompas Kita Adalah Kebenaran

Islam mengajarkan kita untuk berdiri di atas prinsip, bukan di atas kepentingan faksi atau blok politik. Jika ada sebuah kekuatan yang melawan Amerika namun di saat yang sama menindas rakyatnya sendiri atau membantai saudara kita, maka kita tidak berhutang loyalitas kepada mereka.

Dukungan kita kepada Palestina adalah dukungan yang murni karena perintah Allah dan rasa kemanusiaan, bukan karena kita "terbeli" oleh retorika politik dari pihak manapun.

Biarlah para politisi bermain dengan bidal-bidalnya. Kita, sebagai umat yang membaca sejarah dengan mata hati, akan tetap teguh: Menentang penjajahan Barat, sekaligus menolak setiap tangan yang telah menyakiti umat Muhammad di manapun mereka berada. Karena pada akhirnya, persatuan yang sejati hanya akan tegak di atas pondasi keadilan, bukan di atas tumpukan janji-janji politik yang dibangun di atas pusara saudara kita sendiri.

Defa S Hidayat

Tasikmalaya, 5 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...

Sinergi Orang Tua dan Guru sebagai Fondasi Generasi Emas

  I. Mengapa Orang Tua Menitipkan Anak ke Sekolah? Keputusan krusial orang tua untuk menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal (sekolah) didasari oleh kebutuhan yang kompleks dan multidimensional , melampaui sekadar fungsi penitipan atau pengasuhan. 1. Pendidikan Formal dan Keilmuan yang Sistematis Sekolah berfungsi sebagai gerbang utama menuju ilmu pengetahuan terstruktur. Akses kepada Profesional: Sekolah menyediakan akses kepada tenaga pendidik profesional (guru) yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis (ilmu mengajar) sesuai tahapan usia anak. Kurikulum Terstruktur: Anak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sistematis, runtut, dan teruji secara nasional (atau internasional), memastikan mereka mencapai capaian perkembangan yang sesuai dengan usianya. 2. Laboratorium Sosial dan Pembentukan Karakter Sekolah adalah lingkungan pertama di luar keluarga tempat anak mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Sosialisasi dan Empati: An...