Langsung ke konten utama

Reciepe For Farewell

 

sumber photo : pinterest

Sedih. Itu yang saya rasakan setelah menonton drama korea berjudul Reciepe For Farewell, namun lebih dari itu, ada rasa hening yang lama tertinggal setelah episode terakhir selesai.

Drama ini bukan tipe cerita yang membuat orang menangis karena kejadian besar atau konflik dramatis. Justru yang membuatnya menyentuh adalah hal-hal yang sangat sederhana: dapur kecil, suara memasak, percakapan yang pendek, dan makanan yang disiapkan dengan penuh perhatian.

Ketika menontonnya, saya merasa seperti sedang mengintip kehidupan seseorang yang sangat nyata.

Seorang suami yang mencoba merawat istrinya yang sakit.
Seorang perempuan yang perlahan kehilangan kekuatan tubuhnya.
Dan di antara keduanya, ada satu bahasa yang masih tersisa: makanan.

Yang paling membuat saya tersentuh adalah cara sang suami memasak. Ia bukan chef hebat. Ia sering kebingungan membaca resep. Kadang masakannya gagal. Kadang rasanya mungkin biasa saja.

Tapi setiap masakan itu terasa seperti kalimat yang tidak diucapkan.

Seperti mengatakan:
“Aku masih di sini.”
“Aku belum menyerah.”
“Aku ingin kamu tetap makan hari ini.”

Saat menonton, saya menyadari menyadari sesuatu yang sering terlupakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering menganggap cinta harus terlihat besar: hadiah mahal, kata-kata romantis, atau momen dramatis.

Padahal dalam drama ini, cinta muncul dalam bentuk yang sangat sederhana.

Memotong sayuran.
Mengaduk sup.
Menunggu seseorang makan beberapa sendok nasi.

Ada satu rasa yang sangat kuat setelah menonton drama ini: kesadaran bahwa waktu bersama orang yang kita cintai sebenarnya sangat rapuh.

Drama ini tidak berusaha menghibur dengan kebahagiaan palsu. Ia justru sangat jujur tentang kehilangan. Tetapi anehnya, kejujuran itu membuat cerita ini terasa hangat, bukan hanya menyedihkan.

Setelah selesai menonton drama ini, saya tidak langsung menonton hal lain. Saya hanya duduk diam sebentar.

Memikirkan orang-orang yang pernah makan bersama dengan saya.
Orang tua, pasangan, teman, atau siapa pun yang pernah duduk di meja makan yang sama.

Dan muncul satu pikiran sederhana:

Selama kita masih punya waktu, mungkin kita harus lebih sering memasak sesuatu untuk orang yang kita sayangi😭😭

Bukan karena makanannya istimewa.

Tapi karena kebersamaan di meja makan kadang menjadi kenangan yang paling lama tinggal setelah seseorang pergi.


Defa S Hidayat

Tasikmalaya, 10 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...

Sinergi Orang Tua dan Guru sebagai Fondasi Generasi Emas

  I. Mengapa Orang Tua Menitipkan Anak ke Sekolah? Keputusan krusial orang tua untuk menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal (sekolah) didasari oleh kebutuhan yang kompleks dan multidimensional , melampaui sekadar fungsi penitipan atau pengasuhan. 1. Pendidikan Formal dan Keilmuan yang Sistematis Sekolah berfungsi sebagai gerbang utama menuju ilmu pengetahuan terstruktur. Akses kepada Profesional: Sekolah menyediakan akses kepada tenaga pendidik profesional (guru) yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis (ilmu mengajar) sesuai tahapan usia anak. Kurikulum Terstruktur: Anak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sistematis, runtut, dan teruji secara nasional (atau internasional), memastikan mereka mencapai capaian perkembangan yang sesuai dengan usianya. 2. Laboratorium Sosial dan Pembentukan Karakter Sekolah adalah lingkungan pertama di luar keluarga tempat anak mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Sosialisasi dan Empati: An...