Langsung ke konten utama

Sebelum Pulang

Bagi sebagian orang, hidup itu mengalir saja. "Follow the flow," kata mereka. Tapi bagi saya, hidup itu harus punya desain. Mengapa? Karena kita tidak sedang berjalan menuju ketidakpastian, kita sedang berjalan menuju sebuah kepastian bernama Kematian.

Kalau untuk liburan ke luar negeri saja kita sibuk bikin itinerary, pesan tiket jauh-jauh hari, dan riset hotel terbaik—lantas bagaimana mungkin untuk perjalanan menuju keabadian kita tidak punya rencana?

Ada yang tertawa melihat saya sibuk membuat to-do list untuk 1,5 tahun ke depan, bahkan untuk 5, 10, hingga 20 tahun mendatang. Mereka bilang, "Emang yakin umur sampai sana?"

Justru karena saya tidak yakin umur saya sampai sana, maka saya merencana. Karena dalam Islam, niat seorang mukmin itu lebih sampai daripada amalnya. Saat kita menuliskan rencana kebaikan di atas kertas, saat itu juga kita sedang menyodorkan proposal di hadapan Allah.

Rencana itu adalah bagian dari doa. Ia adalah bentuk konkret dari ikhtiar. Ia adalah bukti bahwa kita serius menghamba pada Ar-Rahman. Kita tidak ingin menghadap Allah dalam keadaan "berantakan". Kita ingin saat Allah memanggil, "Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah...", kita sedang berada dalam lintasan ketaatan yang sudah kita desain sedemikian rupa.

Saya sadar diri. Sangat sadar. Kalau mau jujur-jujuran, bekal apa yang saya punya? Shalat yang seringkali hanya raga tanpa jiwa? Atau sedekah yang jumlahnya tak seberapa dibanding nikmat-Nya? Saya merasa tidak punya amal unggulan untuk dibawa pulang. 😭😭

Tapi, justru di sinilah letak indahnya Master Plan ini. 1,5 tahun ke depan bukan sekadar angka di kalender. Ia adalah kesempatan yang Allah pinjamkan bagi saya untuk:

  1. Membangun Fondasi: Memperbaiki apa yang retak di masa lalu.

  2. Menabung Kebaikan: Mencari satu saja amal yang bisa saya banggakan di depan-Nya—meski itu hanya amal kecil yang dilakukan secara istiqomah.

  3. Hujjah di Hadapan-Nya: Agar kelak saya punya alasan untuk meminta surga-Nya: "Yaa Allah, inilah rencana kecilku untuk mencintai-Mu, meski aku tahu aku penuh cacat."

Rencana memang belum tentu sesuai realita. Tapi ingat, tugas kita adalah merencanakan (planning), tugas Allah adalah menentukan (deciding). Dan keputusan Allah tidak pernah salah.

Target saya sederhana: Saya ingin masuk surga-Nya bareng semua yang saya sayangi. Bukan sendirian. Maka, rencana harian, bulanan, hingga tahunan saya harus linier dengan visi besar itu. Mulai dari menata rumah, menata hati, hingga menata aset yang Allah titipkan—semua harus punya nafas dakwah dan ketaatan.

Saya akan terus merancang. Saya akan terus menulis daftar tugas hidup saya. Hingga pena ini berhenti karena sang pemilik ruh memanggil saya untuk pulang.

Optimis dulu saja. Karena Allah sesuai persangkaan hamba-Nya. Dan saya bersangka baik, bahwa rencana ini akan Allah bimbing hingga ujungnya.


Defa S Hidayat

Tasikmalaya, 8 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: Ø¥ِÙ†ّ اللَّÙ‡َ تَعَالى ÙŠُØ­ِبّ Ø¥ِذَا عَÙ…ِÙ„َ Ø£َØ­َدُÙƒُÙ…ْ عَÙ…َلاً Ø£َÙ†ْ ÙŠُتْÙ‚ِÙ†َÙ‡ُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...

Sinergi Orang Tua dan Guru sebagai Fondasi Generasi Emas

  I. Mengapa Orang Tua Menitipkan Anak ke Sekolah? Keputusan krusial orang tua untuk menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal (sekolah) didasari oleh kebutuhan yang kompleks dan multidimensional , melampaui sekadar fungsi penitipan atau pengasuhan. 1. Pendidikan Formal dan Keilmuan yang Sistematis Sekolah berfungsi sebagai gerbang utama menuju ilmu pengetahuan terstruktur. Akses kepada Profesional: Sekolah menyediakan akses kepada tenaga pendidik profesional (guru) yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis (ilmu mengajar) sesuai tahapan usia anak. Kurikulum Terstruktur: Anak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sistematis, runtut, dan teruji secara nasional (atau internasional), memastikan mereka mencapai capaian perkembangan yang sesuai dengan usianya. 2. Laboratorium Sosial dan Pembentukan Karakter Sekolah adalah lingkungan pertama di luar keluarga tempat anak mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Sosialisasi dan Empati: An...