Langsung ke konten utama

Melerai Riuh

 Beberapa catatan yang saya share di blog ini membuat saya merasa, "serasa bukan saya." entah karena gaya menulisnya yang dibuat berbeda dari biasanya, atau karena hal lainnya . , hmm karena jarang nengok blog, eh jarang nulis, maybe? Entahlah, yang pasti terasa aneh saat membaca kembali beberapa catatan di tahun ini.

Oke, saya sedang sangat ingin menulis, namun bingung memulai kembali. Ada sesak di dada saat mengingat ini, mengingat betapa sangat ingin menulis. Baiknya saya tuliskan tentang apa, ya?

  1. Progress kang Wawan menyetir
  2. Membangun mimpi, ups impian
  3. Melepas resah. resah diceritakan lagi dan lagi
  4. Manajemen waktu. 
  5. Masak. Know, kaan, ini perkara yang tidak mudah buat saya. Menuliskannya terasa seperti sebuah petualangan yang merilekskan, hmm healing.
  6. Membangun relasi
  7. Manajemen pendidikan
  8. Beasiswa
  9. Tentang Aa yang sedang PPG prajab
  10. Tentang Adik Umar yang open job tingkat internasional
  11. Tentang Aa Quthb yang suka moto dan dapat job dari sana
  12. Tentang adik Umar yang tambah aktif di kampus dan BEM nya, juga sebagai panitia SYDC (Salman Youth Day Camp) Masjid Salman ITB
  13. Teteh Aufa yang akan mengikuti kunjungan rumah sakit ke RSHS untuk pertama kalinya
  14. Teteh yang mengikuti SSC, LMD, Karisma ITB dan seabreg aktivitas lainnya
  15. Ade Olin yang sebentar lagi pelepasan Mts. 
  16. De Olin yang ingin menghabiskan waktu luangnya di kost an teteh
  17. Proses seleksi de Olin masuk MAN 3 lewat jalur prestasi.
  18. Memberikan peran sesuai komitmen dan dedikasinya. Well, yang ini tentang pekerjaan.
Masih banyak hal lain yang terasa riuh saja di kepala, isi kepala ini isinya apa saja, sih? riuh sangat di sana. Harusnya dituliskan sejak jauh hari, namun selalu ada saja kata yang terucap untuk dijadikan sebagai alasan. 

Saya menulis dengan nafas yang terasa mengganjal di dada, banyak hal yang ingin dileraikan. Memulainya yang terasa masih membutuhkan ... effort yang kali ini sedang menurun.

Bismillah.. nulis lagi, yuk!

Tasikmalaya, Juni 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...