Bab terakhir dari novel 1984 karya George Orwell bukanlah penutup yang penuh kemenangan. Tidak ada revolusi. Tidak ada perlawanan yang berhasil. Yang ada hanyalah kehancuran seorang manusia yang dulu pernah berani berpikir bebas.
Setelah melewati proses penyiksaan panjang di Kementerian Cinta, Winston akhirnya keluar kembali ke masyarakat. Secara fisik ia masih hidup, tetapi sesuatu yang jauh lebih penting telah hilang dari dirinya.
Jiwanya.
Winston kini menjalani hidup yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi bekerja di Kementerian Kebenaran seperti dulu. Hari-harinya dihabiskan di sebuah kafe yang sepi, duduk sendirian sambil meminum gin murah yang dulu sangat ia benci.
Minuman itu kini menjadi pelarian yang menenangkan pikirannya.
Dunia di sekitarnya berjalan seperti biasa. Propaganda Partai terus disiarkan. Telescreen terus berbicara tentang kemenangan perang dan kehebatan negara. Namun yang paling mengejutkan bukanlah dunia yang tetap sama.
Yang berubah adalah Winston sendiri.
Ia tidak lagi merasakan kebencian kepada Partai seperti dulu. Pikiran-pikiran pemberontakan yang pernah ia miliki telah hilang. Bahkan kenangannya tentang Julia terasa semakin jauh dan kosong.
Suatu hari Winston secara tidak sengaja bertemu dengan Julia.
Pertemuan itu tidak seperti yang mungkin dibayangkan oleh pembaca. Tidak ada emosi yang kuat. Tidak ada cinta yang tersisa. Percakapan mereka berlangsung dingin dan singkat.
Julia mengakui bahwa ia telah mengkhianati Winston.
Dan Winston juga mengakui hal yang sama.
Di bawah tekanan penyiksaan yang mereka alami, keduanya akhirnya melakukan hal yang sebelumnya mereka anggap mustahil: mereka saling mengkhianati untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.
Cinta yang dulu menjadi bentuk pemberontakan terhadap Partai kini benar-benar hancur.
Setelah pertemuan itu mereka berpisah tanpa rencana untuk bertemu lagi.
Momen ini menunjukkan kemenangan terbesar Partai. Mereka tidak hanya berhasil menangkap Winston dan Julia. Mereka berhasil menghancurkan sesuatu yang lebih dalam: kemampuan mereka untuk saling mencintai dan mempercayai satu sama lain.
Di bagian akhir cerita, Winston duduk sendirian sambil mendengarkan berita dari telescreen tentang kemenangan besar Oceania dalam perang. Ia merasakan sesuatu yang aneh muncul di dalam dirinya.
Sebuah perasaan hangat.
Ia menatap poster besar Big Brother yang tergantung di ruangan. Wajah yang dulu ia benci kini tidak lagi menimbulkan perlawanan dalam hatinya.
Dan pada akhirnya, Winston menyadari sesuatu yang sangat sederhana namun sangat mengerikan.
Ia mencintai Big Brother.
Kalimat penutup ini menjadi salah satu akhir paling tragis dalam sejarah sastra. Winston tidak mati sebagai pemberontak. Ia tidak dihancurkan sebagai musuh negara.
Ia dihancurkan sebagai manusia.
George Orwell melalui akhir novel ini memperlihatkan bentuk kekuasaan yang paling ekstrem: kekuasaan yang tidak hanya memaksa manusia untuk patuh, tetapi mampu mengubah hati mereka hingga mencintai penindasan yang menghancurkan mereka.
Dan di dunia 1984, itulah kemenangan terbesar dari sebuah rezim totaliter.
Komentar
Posting Komentar