Langsung ke konten utama

Untai

 Agustus 2026 sudah mulai berakhir, sekarang malah sudah tanggal 28 yang artinya tinggal 3 hari lagi sampai masuk bulan September 2026. Banyak hal yang belum diceritakan tentang perjalanan di bulan ini dan bulan-bulan sebelumnya. Hmm saya cicil ceritanya, yaa... apaan sih di cicil segala? emang kredit rumah? eh, intinya pengen diceritakan bertahap segala yang diingat semoga menjadi jejak yang bisa diambil hikmahnya oleh siapapun yang membacanya kelak. Yess kelak, bukan hanya hari ini namun kelak sepeninggal saya.

Sejak kepergian Emak Juli 2026 kemaren, kondisi saya belum bisa di bilang baik-baik saja, banyak sesak yang terasa amat, setiap kali mengingat atau teringat Emak, sedih menjelma menjelma sesak yang sangat. Seolah ada yang menghalangi jalanku mengambil nafas, sedangkan setiap kalimat seolah tak mampu meluruhkan segala apa yang terasa. Apa yang harus dilakukan? bahkan hingga terpikir untuk mengunjungi tenaga profesional yang bisa membantu melerai sesak. Ini terasa sangat menyakitkan, ya, kehilangan Emak adalah episode sakit yang berat untuk sekedar dideskripsikan dalam bait aksara. 

Dan inilah cerita pertama yang ingin saya simpan jejaknya, ya, cerita kehilangan yang entah kapan terobatinya.

Saya membayangkan luka yang dalam tentang mereka yang kehilangan orang terkasih terutama pasangan hidupnya, terutama setelah merasakan pedih kehilangan Emak, ibu mertua yang selama hampir 25 tahun ini menjadi bagian kisah saya. Mungkin beliau tidak tahu, ah tidak, beliau mengetahui dengan pasti bahwa saya menyayanginya sejak pertama kali berkenalan dengannya, jauh sebelum resmi menjadi ibu mertua saya. 

Duka ini seolah tak berujung saat menyadari Emak telah tiada, menyadari hilangnya kebiasaan, tapi bukan hanya itu yang menjadi sebab luka mendalam, entah bagaimana menjabarkannya namun yang pasti di hati ini terasa sangat sakit. Apalagi mereka yang berpisah dengan kekasih hati, pasti tiada terkira sakitnya.. Bukankah yang dirasakan adalah hal yang wajar dan bukan karena tidak ridha atas ketentuan Allah

Cerita berlanjut, next yaa..


Tasikmalaya, 28 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...