Wait, saya harus menarik nafas sejenak sebelum menceritakan ini. Satu, dua, tiga..
Baiklah.. sekarang waktunya bercerita.
Beberapa hari lalu, sebuah notifikasi komentar masuk di salah satu unggahan Instagram saya. Hey, bukankah hal biasa sebuah postingan mendapatkan komentar? iya, memang biasa, namun berbeda bagi saya hari itu, kalimatnya datang dari sebuah nama yang sama sekali tidak saya kenal, namun justru hadir dengan nada yang begitu percaya diri. Bukan untuk bertukar pikiran secara santun, melainkan mendaratkan tuduhan yang mendadak: mempertanyakan bahkan cenderung menghakimi cara saya mendidik anak, melayangkan tuntutan agar hal-hal usang dari masa lalu dikembalikan, hingga merangkai kalimat-kalimat ancaman moral yang mencoba membenturkan kualitas saya sebagai seorang ibu.. Di titik ini saya berusaha mencerna arah.
Meski saat pertama kali membaca deretan ketikan itu, saya tidak merasakan amarah atau kepanikan. Yang ada malah ketawa disusul sebuah ketertarikan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik batin pengirimnya. Sebagai orang yang terbiasa berkelindan dalam dunia kata dan edukasi, saya melihat komentar tersebut bukan sekadar lemparan emosi mentah. Bagi saya, setiap kata yang ditulis seseorang di ruang publik adalah cerminan diri yang memantulkan kualitas adab, tingkat kedewasaan, serta dinamika psikologis pembuatnya.
Maka, alih-alih meresponsnya di kolom komentar, saya memilih cara lain yang menurut saya paling tenang, hmm menurut saya, ya. Saya menyimpan, mengurai, dan menelaah setiap kalimatnya satu per satu. Dari pilihan kata pembuka yang memakai topeng kesantunan formal, penggunaan diksi bernada gertakan sepihak, hingga kalimat manipulatif yang membawa-bawa nama agama dan keridaan demi memaksakan kendali, semuanya memuat struktur logika yang sangat menarik untuk dibedah. Di balik ketikan yang terkesan galak itu, justru terpancar keputusasaan argumen dan rasa tidak aman yang sangat dalam dari seseorang yang merasa bahwa seluruh dunia berputar mengelilingi ilusi prasangkanya sendiri.
Seluruh rantai kalimat tersebut kini telah saya dokumentasikan. Setiap frasa dan klausanya sedang saya bedah secara perlahan. Saya memutuskan bahwa hasil analisis utuh terhadap komentar tersebut akan saya publikasikan suatu hari nanti di ruang ini. Bukan untuk membuka panggung drama, melainkan sebagai bahan edukasi publik tentang bagaimana sebuah pesan pasif-agresif dibangun, bagaimana mengenali manipulasi emosional, dan bagaimana membedakan antara ketegasan dengan ketidakberadaban.
Setiap orang memang bebas mengetik apa saja di pekarangan media sosial orang lain. Namun, mereka perlu ingat bahwa kata-kata yang terlempar tidak menguap begitu saja, melainkan memiliki konsekuensi analitis. Ketikan yang niat awalnya untuk mempermalukan justru bisa berubah menjadi objek kajian yang menelanjangi kualitas adab si pembuatnya sendiri. Untuk saat ini, tugas saya cukup mengamati, mendokumentasikan, dan menelaah, membiarkan ketikan-ketikan itu beristirahat sejenak. Besok bertahap saya uraikan hasil analisa saya, cara saya memberikan jawaban.
Tasikmalaya, 11 September 2026
Komentar
Posting Komentar