Langsung ke konten utama

Ada Komentar di IG (bagian 1)

Wait, saya harus menarik nafas sejenak sebelum menceritakan ini. Satu, dua, tiga..

Baiklah.. sekarang waktunya bercerita. 

Beberapa hari lalu, sebuah notifikasi komentar masuk di salah satu unggahan Instagram saya. Hey, bukankah hal biasa sebuah postingan mendapatkan komentar? iya, memang biasa, namun berbeda bagi saya hari itu, kalimatnya datang dari sebuah nama yang sama sekali tidak saya kenal, namun justru hadir dengan nada yang begitu percaya diri. Bukan untuk bertukar pikiran secara santun, melainkan mendaratkan tuduhan yang mendadak: mempertanyakan bahkan cenderung menghakimi cara saya mendidik anak, melayangkan tuntutan agar hal-hal usang dari masa lalu dikembalikan, hingga merangkai kalimat-kalimat ancaman moral yang mencoba membenturkan kualitas saya sebagai seorang ibu.. Di titik ini saya berusaha mencerna arah.

Meski saat pertama kali membaca deretan ketikan itu, saya tidak merasakan amarah atau kepanikan. Yang ada malah ketawa disusul sebuah ketertarikan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik batin pengirimnya. Sebagai orang yang terbiasa berkelindan dalam dunia kata dan edukasi, saya melihat komentar tersebut bukan sekadar lemparan emosi mentah. Bagi saya, setiap kata yang ditulis seseorang di ruang publik adalah cerminan diri yang memantulkan kualitas adab, tingkat kedewasaan, serta dinamika psikologis pembuatnya.

Maka, alih-alih meresponsnya di kolom komentar, saya memilih cara lain yang menurut saya paling tenang, hmm menurut saya, ya. Saya menyimpan, mengurai, dan menelaah setiap kalimatnya satu per satu. Dari pilihan kata pembuka yang memakai topeng kesantunan formal, penggunaan diksi bernada gertakan sepihak, hingga kalimat manipulatif yang membawa-bawa nama agama dan keridaan demi memaksakan kendali, semuanya memuat struktur logika yang sangat menarik untuk dibedah. Di balik ketikan yang terkesan galak itu, justru terpancar keputusasaan argumen dan rasa tidak aman yang sangat dalam dari seseorang yang merasa bahwa seluruh dunia berputar mengelilingi ilusi prasangkanya sendiri.

Seluruh rantai kalimat tersebut kini telah saya dokumentasikan. Setiap frasa dan klausanya sedang saya bedah secara perlahan. Saya memutuskan bahwa hasil analisis utuh terhadap komentar tersebut akan saya publikasikan suatu hari nanti di ruang ini. Bukan untuk membuka panggung drama, melainkan sebagai bahan edukasi publik tentang bagaimana sebuah pesan pasif-agresif dibangun, bagaimana mengenali manipulasi emosional, dan bagaimana membedakan antara ketegasan dengan ketidakberadaban.

Setiap orang memang bebas mengetik apa saja di pekarangan media sosial orang lain. Namun, mereka perlu ingat bahwa kata-kata yang terlempar tidak menguap begitu saja, melainkan memiliki konsekuensi analitis. Ketikan yang niat awalnya untuk mempermalukan justru bisa berubah menjadi objek kajian yang menelanjangi kualitas adab si pembuatnya sendiri. Untuk saat ini, tugas saya cukup mengamati, mendokumentasikan, dan menelaah, membiarkan ketikan-ketikan itu beristirahat sejenak. Besok bertahap saya uraikan hasil analisa saya, cara saya memberikan jawaban.

Tasikmalaya, 11 September 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...