Langsung ke konten utama

Ada Komentar di IG (bagian 2)

 Well, ini dia kalimat pembuka komentar di postingan IG saya. "maaf ibu, mohon anak laki-laki ibu diajari beretika."   Hmm Kalimat tersebut sarat dengan muatan psikologis, manipulasi komunikasi, dan strategi serangan personal (i think)

Mari kita analisa step by step:
  1. Penggunaan kata "maaf ibu" dan "mohon" di awal kalimat itu merupakan bentuk politeness marker yang manipulatif. Fungsinya dipakai bukan sebagai bentuk kerendahan hati atau itikad baik, melainkan sebagai perisai atau disclaimer agar pengirim komentar tidak terlihat kasar. Realitasnya, ini adalah teknik komunikasi pasif agresif, pembukaan yang seolah santun namun langsung dihancurkan oleh isi komentar atau pesan yang bersifat tuduhan miring.
  2. Serangan Ad Hominem dan Pergeseran Fokus (Shifting Blame). Kalimat ini sengaja mengalihkan persoalan utama, menjadi tuduhan terhadap pola asuh saya sebagai seorang ibu. Maksudnya maybe dengan mendaratkan tuduhan pada kalimat "diajari beretika", pengirim komentar ingin mengontruksi narasi seolah-olah anak laki-laki saya tidak beretika, dan saya dianggap sebagai ibu yang gagal. Secara psikologis, ini adalah taktik untuk memicu rasa bersalah (guilt tripping) dan memancing respon emosional saya. Ketika seseorang kehabisan argumen rasional tentang inti masalah, menyerang pilar parenting dan kehormatan keluarga biasanya dijadikan jalan pintas yang paling sering diambil.
  3. Dominasi Moral dan Superiority Complex. Frasa "diajari beretika" menempatkan pengirim pesan/komentar pada posisi moral yang seolah lebih tinggi (moral superiority). Ia bertindak seakan-akan dirinya adalah standar tunggal dari sebuah "etika" dan berhak mendikte seorang ibu, yang kebetulan saya, tentang bagaimana cara mendidik anak. Padahal mendatangi pekarangan publik orang lain, melempar prasangka tanpa tabayun, serta mengadili pola asuh keluarga lain di depan umum merupakan tindakan yang -maaf- nir adab. Hmm ada kontras logika di sini, menuntut etika dengan cara yang tidak beretika.
  4. Pelampiasan Insecurity dan Projection. Pernah baca dalam study psikologi komunikasi (maaf kalau saya keliru), melayangkan tuduhan mendadak seperti ini merupakan bentuk proyeksi (projection). Pengirim pesan mengalami kecemasan, ketakutan, atau rasa tidak aman karena anak laki-laki yang dia bicarakan itu sudah move on dan tidak lagi dapat dikontrol narasinya. Karena dia tidak mampu mengendalikan sikap tegas dan ketenangan anak laki-laki yang dia maksud, maka ia mencoba mengendalikan ibunya melalui komentar yang terkesan mendikte tersebut.
Last but not least, kalimat tersebut adalah contoh yang baik, eh sempurna, dari serangan pasif agresif yang dikemas dalam bungkus yang seolah santun formal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...