Kantuk mulai menyerang, setelah dua malam berturut-turut mata ini enggan terpejam. Rasa sakit di kepala datang tak diundang, membawa ritme yang anehnya begitu familiar, durasinya mirip sekali dengan rasa mulas saat hendak melahirkan. Kemarin, ia masih datang sesekali, seperti sekadar mengetuk pintu. Namun semalam, ia datang saban lima menit sekali. Begitu Subuh berlalu, intensitasnya makin menjadi-jadi.
Dan di sinilah saya sekarang. Berada di persimpangan, di antara gelombang sakit yang terus datang bergantian.
Dalam jeda di antara denyutnya, saya hanya bisa diam sebentar sambil memegang kepala yang rasanya... aduhai. Tak jarang, air mata menetes begitu saja. Bukan hanya karena menahan nyeri, tapi juga karena lelah yang teramat sangat.
Saya memang memilih menceritakannya di sini, meski jujur, saya tidak pernah yakin bagaimana cara mendeskripsikan skala atau level sakitnya secara tepat. Namun satu hal yang saya tahu pasti: saya tidak suka jika ada yang melihat langsung saat saya berada di titik serentan itu. Ada ruang pribadi dalam kesakitan yang ingin saya jaga sendiri, tanpa harus terlihat tangguh, tanpa harus menjawab pertanyaan.
Kang Wawan sempat bertanya bagaimana kondisi saya setelah minum obat. Beliau menyarankan untuk rawat inap saja di rumah sakit. Namun, saya enggan mengikuti saran itu. Bagi saya, suasana kamar rawat inap terkadang justru membuat tubuh merasa benar-benar sakit. Ada keyakinan kecil di dalam hati bahwa flare kali ini akan segera mereda, atau setidaknya, rasa sakitnya akan bertahap berkurang.
Maka, kembali menjadi rebaher dan menuruti keinginan mata untuk terpejam adalah keputusan paling bijak pagi ini. Mengalah pada tubuh, menyerahkan rasa sakit ini pada Pemilik-Nya.
Allahumma 'aafinii fii badanii...
Balananjeur, 30 September 2026
Komentar
Posting Komentar