Dunia digital hari ini adalah lanskap yang unik sekaligus rapuh. Ia memangkas jarak yang membentang ratusan kilometer, namun acapkali menipiskan batas-batas adab yang dahulu dijaga begitu sakral oleh para leluhur kita. Di balik layar kaca yang dingin dan licin, jemari kerap bergerak lebih cepat daripada nurani. Emosi melompat jauh melangkahi pertimbangan rasional, membuat siapapun begitu mudah merangkai kata, meluapkan asumsi, lalu menembakkannya ke semesta publik tanpa sempat memikirkan rasa malu, etika, atau dampak emosional pada jiwa yang ditujunya.
Beberapa waktu lalu, sebuah peristiwa kecil mampir di halaman media sosial saya. Sebuah komentar dari seseorang mendadak muncul di bawah salah satu catatan doa yang murni saya tuliskan sebagai wujud kasih sayang seorang ibu untuk anak-anaknya. Isi komentar itu sungguh di luar dugaan. Bukan sekadar dialog atau sanggahan biasa, melainkan lembaran kalimat tegas yang memerintah, menyerang cara saya mendidik anak-anak, bahkan menyisipkan ancaman moral yang ditinggalkan begitu saja di ruang terbuka agar dibaca oleh siapa saja yang melintas.
Sejenak saya tertegun. Bukan karena tersulut emosi atau merasa terintimidasi, melainkan ada rasa prihatin yang membuncah di dalam dada. Dalam tradisi pemikiran dan adab yang kita pelajari, ada garis demarkasi yang amat tegas antara sebuah nasihat dan penghinaan. Para cendekiawan dan orang-orang bijak sejak dahulu mengingatkan bahwa menegur seseorang di ruang terbuka—terlebih di kolom komentar media sosial—bukanlah upaya untuk memperbaiki keadaan. Tindakan semacam itu tidak lain adalah bentuk penelanjangan aib, luapan ego yang tak tertampung, dan dorongan impulsif untuk mempermalukan.
Ketika seseorang memilih ruang publik untuk menyampaikan keberatan pribadi, kerap kali tujuannya bukan lagi mencari titik temu, melainkan sekadar melampiaskan ketidaktenangan yang bergemuruh di dalam dirinya sendiri. Prasangka, rasa cemburu, serta ketidakamanan emosional (insecurity) yang tidak terkelola dengan baik sering kali membuat seseorang membaca dunia luar dengan kacamata kecurigaan yang tebal. Tulisan yang sebenarnya murni berisikan doa dan refleksi spiritual pun bisa dipelintir oleh pikiran yang sedang kalap seolah-olah menjadi serangan terselubung bagi dirinya. Sungguh, betapa lelahnya mengarungi hidup jika setiap helai kata orang lain senantiasa ditafsirkan sebagai ancaman.
Namun, hal yang paling berharga dari peristiwa tersebut bukanlah komentar kasar yang hadir, melainkan bagaimana anak-anak saya meresponsnya. Melihat ibunya diusik di ruang publik, mereka tidak bereaksi dengan kemarahan yang membabi buta. Tidak ada adu argumen yang riuh di kolom komentar, tidak ada sindiran balasan, dan tidak ada drama yang merendahkan martabat. Anak-anak saya memilih melangkah dengan sangat tenang dan dewasa. Salah satu dari mereka mengontak pihak terkait secara pribadi melalui saluran tertutup, meluruskan kekeliruan dengan bahasa yang amat santun, tetap memelihara adab, namun tegas menutup celah agar kehormatan orang tuanya tidak diinjak-injak.
Hasil dari ketenangan dan kejelasan batas diri (boundaries) itu nyata: komentar yang tadinya dipenuhi nada emosi itu akhirnya dihapus sendiri oleh pemiliknya, disusul dengan permohonan maaf. Di titik itulah saya mengurut dada dan bersyukur. Pengalaman ini menjadi cermin jernih bahwa ujian adab yang dihadirkan orang lain kerap kali diizinkan Allah terjadi justru untuk memperlihatkan kepada kita sejauh mana anak-anak yang kita bimbing telah tumbuh menjadi pribadi yang matang, tahu batas diri, memiliki ketahanan emosi, dan paham benar bagaimana menjaga kedamaian keluarganya.
Peristiwa itu kini telah benar-benar usai. Komentarnya telah lenyap dan urusannya telah selesai tanpa menyisa ganjalan. Namun, hikmahnya menetap dengan sangat hangat. Kejadian ini menegaskan satu prinsip dasar dalam hidup: kita memang tidak akan pernah bisa mengontrol adab, tingkat kedewasaan, atau persepsi orang lain kepada kita, tetapi kita memegang kendali penuh atas adab dan ketenangan kita sendiri dalam merespons mereka. Balasan terbaik untuk sebuah ketidakberadaban bukanlah dengan ikut-ikutan tidak beradab, melainkan dengan ketenangan, ketegasan yang santun, lalu kembali fokus menata kehidupan kita sendiri. Sebab pada akhirnya, apa pun yang kita ketik dan tebarkan di media sosial hanyalah cermin yang memantulkan sejauh mana kebersihan hati kita masing-masing.
Tasikmalaya, September 2026
Komentar
Posting Komentar