Akhirnya saya memilih mengalah pada instruksi Akang untuk tetap di rumah. Pertimbangannya sederhana: tubuh ini punya hak yang sudah saatnya ditagih untuk rehat.
Meskipun di dalam hati, pikiran sempat bersitegang sendiri, “Bukankah selama ini juga sudah rehat?”
Sebagai seseorang yang memang tidak gampang begitu saja mengikuti arahan, menyanggah kerap menjadi jalan kengeyelan yang paling apik. Ah, tapi sudahlah. Kadang-kadang kita hanya butuh meluapkan kalimat-kalimat kecil itu agar tumpukan pikiran utuh menjadi sebuah perenungan.
Antara Sanggahan dan Kemanjaaan yang Manis
Sebelum berangkat bekerja menjelang Dzuhur, Kang Wawan setia menemani. Beliau tidak hanya menyimak sanggahan saya saat diminta beristirahat, tetapi juga dengan tenang merespons balik.
“Ummi kan enggak banyak aktivitas, Sayang. Kenapa harus istirahat?” tanya saya waktu itu.
Padahal jauh di dalam diri, saya sangat memahami bahwa kondisi tubuh yang seperti ini membutuhkan jeda bukan sekadar karena padatnya fisik yang bergerak, melainkan ada ruang dalam yang butuh dipulihkan.
Sampai akhirnya kata kesepakatan itu keluar juga dari mulut saya, “Oke atuh kalau gitu mah.”
Tentu saja masih ada embel-embel khas di akhirnya. Lalu saya tambahkan lagi, “Tapi temani dulu, ya. Kondisiku membaik selama ada kamu…”
Terdengar lebay? Mungkin iya, kalau didengar orang lain. Tapi dalam hubungan suami istri, kepasrahan dan kemanjaan yang jujur seperti itu adalah bentuk terapi tersendiri.
Seteguk obat pereda sakit dan tidur yang cukup lama akhirnya memberi tambahan energi baru setelah bangun. Alhamdulillah. Ada rasa legowo yang mengalir saat merelakan Akang berangkat bekerja—mencari rezeki di jalan Allah.
Kenapa Harus Sepanjang Itu?
Mungkin ada yang bertanya-tanya: Kenapa harus panjang sekali menyebutnya? Cukup bilang "kerja", apa susahnya?
Jawabannya sederhana: saya sedang menyimpan jejak perasaan saya.
Jika suatu hari nanti saya dipanggil "pulang" lebih dulu, saya ingin orang-orang terkasih yang membaca catatan ini bisa mengingat bagaimana cara pandang saya ketika melepas suami berangkat kerja. Bahwa langkah kaki yang keluar dari pintu rumah itu bukan sekadar urusan mencari angka atau menumpuk materi dunia, melainkan sebuah ikhtiar mencari rezeki di jalan Allah dan mengharapkan rahmat-Nya.
Lalu, bagaimana jika ada yang menyeletuk, “Bisa enggak, sih, untuk enggak selalu bawa-bawa nama Allah?”
Jawaban saya tegas: TIDAK BISA.
Saya tidak bisa melakukannya, dan semoga pikiran itu tidak akan pernah terlintas sampai hari di mana saya berjumpa kembali dengan-Nya sebagai hamba yang terus belajar berusaha muroqobah—merasakan kehadiran-Nya di setiap helaan napas.
Dia yang Lebih Dekat dari Urat Nadi
Bagaimana mungkin kita memisahkan nama-Nya dari langkah hidup kita? Sementara keseluruhan diri ini adalah milik-Nya.
Kita memulai sesuatu dengan menyebut asma-Nya, meminta segala kebaikan hanya kepada-Nya, dan menyadari sepenuhnya bahwa seluruh rezeki bersumber dari-Nya. Kelak, tempat kembali kita pun hanya kepada-Nya.
Saat sakit, kita mengetuk pintu kesembuhan pada-Nya.
Saat sehat, kita menunduk mengucapkan syukur pada-Nya.
Bukankah tiada sedetik pun waktu yang kita lalui melainkan DIA lebih dekat dari urat nadi kita sendiri?
Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memaknai setiap rasa sakit yang hadir. Jangan sampai rasa sakit membuat kita melupakan-Nya meski hanya sesaat, atau menjauhkan asma-Nya dari setiap dentang waktu yang tersisa. Karena di dalam jeda dan rasa sakit itulah, kasih sayang-Nya sering kali menyapa dengan cara yang paling lembut.
Tasikmalaya, 29 September 2026
Komentar
Posting Komentar