Langsung ke konten utama

Menikmati Literasi


 Ada hari-hari di mana membaca bukan lagi sekadar mengejar target lembar demi lembar, melainkan menjadi cara terbaik untuk recharge energi dan merawat ingatan.

Minggu ini, targetnya menuntaskan minimal empat buku. Sebuah keputusan yang mendadak makin meriah karena berawal dari pertanyaan sederhana salah satu anak saya:

"Mi, Shalahuddin Al-Ayyubi sama Al-Fatih teh duluan siapa?"

Meski refleks menjawab dengan yakin, detik berikutnya muncul keraguan tipis yang bikin gemas sendiri. Apakah ini gejala brain fog, atau memang sudah waktunya menyegarkan ingatan? Apapun itu, buku sejarah akhirnya ikut meluncur ke dalam tumpukan bacaan minggu ini. Karena pada akhirnya, membaca adalah sarana pengingat terbaik—sekalipun nanti lupa lagi, kita selalu punya kesempatan untuk membukanya kembali.

Di tengah kondisi tubuh yang sedang flare-up dan fatigue akibat autoimun, ketersediaan energi memang sedang di mode hemat. Ketika ada yang bertanya mengapa di usia dan fase ini masih sibuk membaca buku-buku parenting, saya hanya membalasnya dengan senyuman. Bukan enggan menjelaskan, melainkan memilih untuk menghemat energi untuk hal-hal yang lebih esensial.

Di antara lembaran-lembaran ini, berikut empat buku utama yang menjadi "menu" refleksi saya minggu ini:

1. Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela — Tetsuko Kuroyanagi

Totto-chan, gadis cilik du jendela


Buku ini mengisahkan perjalanan Totto-chan, seorang anak SD yang dianggap "bermasalah" dan dikeluarkan dari sekolah formal, hingga akhirnya menemukan tempat tumbuh yang tepat di Tomoe Gakuen di bawah asuhan Pak Kobayashi.

Buku ini sempat saya kira hilang sampai berniat beli lagi tiap melihatnya di rak Gramedia atau keranjang online shop. Alhamdulillah, ternyata ia tersimpan rapi di rak arsip sendiri. Menemuinya kembali membawa kehangatan yang sama. Totto-Chan bukan sekadar cerita anak, melainkan cermin besar bagi setiap orang tua dan pendidik tentang bagaimana mendengarkan, menghargai keunikan, dan menyediakan ruang aman bagi jiwa-jiwa muda untuk berkembang tanpa dihakimi.

2. Segenggam Iman Anak Kita — Mohammad Fauzil Adhim



Dipublikasikan oleh Pro-U Media, buku ini mengulas fondasi paling penting dalam pengasuhan anak: bagaimana menanamkan akidah dan mengokohkan iman sejak dini melalui keteladanan, suasana rumah, dan dialog yang penuh kasih.

Membacanya kembali membuat saya sadar bahwa parenting bukanlah ilmunya anak-anak, melainkan ilmu untuk orang tua yang tidak ada tanggal kadaluarsanya. Meskipun anak-anak sudah beranjak dewasa, prinsip penanaman iman dan komunikasi spiritual tetap menjadi panduan penting dalam mendampingi fase tumbuh kembang mereka yang baru.

3. Positive Parenting — Mohammad Fauzil Adhim



Panduan praktis pengasuhan berbasis kesadaran dan empati, yang mengajak orang tua untuk mengelola emosi diri sendiri terlebih dahulu sebelum membimbing perilaku anak.

Mengenang momen mendapatkan buku ini lewat promo WAG beberapa tahun lalu terasa makin disyukuri hari ini. Positive Parenting menjadi pengingat yang sangat relevan ketika energi fisik sedang terbatas. Buku ini mengajarkan bahwa menjadi orang tua yang baik tidak menuntut kesempurnaan tanpa batas, melainkan kehadiran emosional yang stabil dan ketenangan dalam merespons situasi.

4. Toko Penjual Mimpi (Lee Miye)



Sebuah novel fiksi bernuansa imajinatif dan kontemplatif yang mengajak pembaca menyelami harapan, pilihan hidup, serta makna dari impian-impian manusia.

Novel yang masih terus ngahanca (dicicil) ini menjadi jeda yang sangat menyenangkan di sela-sela bacaan non-fiksi. Narasi ceritanya memberi ruang bagi pikiran untuk bertualang sejenak tanpa beban, menjadi penyegar di kala brain fog datang menyapa.

Menikmati Rezeki Literasi

In this economy, di mana harga kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan kerap membuat kita mengelus dada, kesempatan untuk memiliki dan membaca buku—baik hasil berburu preloved, diskon promo, maupun menemukan kembali harta karun lama di rak sendiri—adalah nikmat yang luar biasa.

MasyaAllah, haadzaa min fadhli Rabbii. Membaca minggu ini bukan tentang membuktikan seberapa banyak ilmu yang dihafal, melainkan tentang merawat jiwa dan melatih penerimaan di tengah keterbatasan fisik.

Bismillah, semoga empat buku ini bisa dikhatamkan dengan tenang minggu ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...