Langsung ke konten utama

Menjeda Rasa

 Niatnya sih mengikuti maunya mata buat terpejam dulu, saking ngantuknya. Namun rupanya ngantuk saat ini hanya kerjaan mata, otaknya malah tidak sinkron... Tidak terpejam sekejap pun. Larinya ya tetap terasa sakit. Kalau tidur kan tidak terasa sakitnya; entah sakitnya hilang atau memang tidak terasa karena sedang tertidur.


Kang Wawan pulang cepat karena mengkhawatirkan istrinya yang sebelumnya menangis terus. Mata saya sembab bukan karena ada persoalan rumah tangga atau semisalnya, namun rupanya faktor U membuat sakit yang biasa dirasakan terasa jauh lebih sakit. Atau memang sedang jauh lebih sakit? Biasanya tidak sampai menangis keras. Kali ini, setiap kali sakitnya datang, tangis pun riuh... Saya sendiri tidak bisa—dan tidak berniat—membendungnya. Biarkan saja tangisnya pecah, meluruhkan sebagian rasa...


Mamah mengirim nasi dan lauk-pauk, khawatir anak perempuannya ini belum makan. Ada pepes jantung dan pais singkong, juga sarikaya yang diolah dari pisang oleh-oleh Kang Wawan kemarin. Rasanya saaangat enak. Yups, actually enak pisan kalau buatan Mamah. Alhamdulillah, sakitnya tidak membuat selera makan hilang. Alhamdulillah 'ala kulli hal.


Tadi malam sekitar jam 1-an saya mengetuk pintu dapur Mamah, awalnya mau minta madu dan habbatussauda sebagai ikhtiar mengurangi sakit. Madu di rumah sudah habis, siapa tahu Mamah masih punya stok. Alhamdulillah Fity, adik bungsu saya, bangun dan membukakan pintu, lalu menyiapkan madu sekaligus habbatussauda... Saya minum dengan penuh harapan agar Allah menjadikannya ikhtiar yang menyembuhkan. Sungguh saya sangat ingin tidur atau tidak terlalu kesakitan. Padahal Allah sudah memberikan nikmat remisi yang lumayan lama, masih saja saya meminta lebih... Astaghfirullah...


Karena lemas, saya pun merebahkan diri di kasur kamar Mamah, di dekat beliau. Terasa menenangkan kala jemari Mamah memijat lembut kepala dan tengkuk, lalu menyelimuti pelan. Meski rupanya Allah sedang mencabut sementara nikmat sehat dan nikmat tidurnya. Malam kedua ini tidak ada yang berubah, masih merintihkan sakit hingga pagi menjelang.


Subhanallah laa haula walaa quwwata illaa billah. Subhanaka inni kuntu minadzdzoolimiin.


Tiba-tiba teringat seseorang pernah berkata untuk tidak mengumbar rasa dan cerita di laman media sosial—yang lucunya, di saat bersamaan nama saya dijadikannya bahan gunjingan yang paling seru. Ah sudahlah, itu dulu... Saat saya menuliskan sesuatu yang cenderung mengumbar rasa ini, saya mengingatnya lagi.


Ya, kali ini saya sedang mengumbar rasa di blog ini... Sekadar menyimpan jejak saja, dan semoga menjadi pelukan hangat bagi siapa pun di luar sana yang sedang diuji sakit, apa pun itu. Semoga Allah menguatkan Anda dan saya. Saya paham bagaimana sakitnya, lelahnya, rasa sunyinya, takutnya, dan segala hal yang menyertainya... Tentu saja itu tidak mudah, dan Allahlah yang akan memudahkan kita melaluinya serta melapangkan hati kita atas apa pun ketentuan-Nya.


Balananjeur, 30 September 2026



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...