Langsung ke konten utama

Menyapa Jeda

 Semalaman, kepala sebelah kiri terasa ditabuh hebat. Nyut, nyut, nyuuut, sebuah ritme berdenyut keras yang seolah enggan memberi ruang bagi mata untuk terpejam, bahkan hingga detik ini.

Tubuh ini memang sering kali memiliki bahasanya sendiri. Ia begitu dinamis, merespon cepat setiap dinamika hidup, bahkan ketika pikiran merasa sedang baik-baik saja (I’m okay). Dalam hitungan detik, kondisi fisik bisa bergeser tanpa jeda kompromi: dari fit menjadi lelah kronis, dari tawa renyah menjadi sakit kepala hebat atau nyeri sendi yang menembus batas rasa.

Mungkin tubuh ini sedang jujur, menyampaikan apa yang sering kali diabaikan oleh logika.

Pagi ini, terhuyung saya berjalan menuju teras depan. Menjatuhkan diri, rebahan di atas karpet sederhana, menyaksikan Kang Wawan yang sibuk membersihkan kendaraan. Di luar, nyanyian burung tetap bergema seperti pagi-pagi biasanya—menawarkan ketenangan yang kontras dengan denyut di kepala dan nyeri di kaki kiri yang datang tanpa aba-aba.

Di antara rasa sakit yang tak kunjung mereda, sebuah pertanyaan hinggap di benak:

"Apa yang akan saya lakukan hari ini? Bolehkah tetap beraktivitas seperti biasa karena sudah biasa memeluk rasa sakit yang sama—hanya beda levelnya saja? Atau... akankah saya memilih mengambil jeda?"

Kang Wawan mengingatkan untuk istirahat. Katanya, gejalanya mirip dengan kelelahan hebat beberapa bulan lalu. Tubuh ini memang selalu merespon lebih cepat dari yang saya duga.

Menuliskannya di sini tentu bukan bentuk ketidak-ridhaan atas ujian. Justru saya sangat meyakini, tidak ada satu pun peristiwa yang hadir secara tiba-tiba di bumi ini. Semua bergerak atas izin, kehendak, dan takdir-Nya—dan selalu ada muara kebaikan di balik setiap rasa sakit yang dititipkan.

Menerima ujian dengan ikhlas tidak selalu berarti harus terus memaksakan diri berjalan saat langkah sudah terhuyung. Kadang, bentuk ikhlas terbaik adalah dengan mau melambatkan tempo, berhenti sejenak, dan mendengarkan jeritan kecil dari tubuh yang meminta haknya untuk beristirahat.

Pagi ini, saya memilih untuk tunduk pada sinyal itu. Mengambil jeda, membiarkan tubuh beristirahat, dan berikhtiar mencari penanganan yang tepat.

Allahumma 'aafinii fii badanii...

(Ya Allah, sehatkanlah badanku...)

Tasikmalaya, 29 September 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Perpisahan (dari adik buat kakak kelas)

Bukan 3 tahun, tapi 2 tahun yang lalu aku bertemu.. Dari 3 tahun masa juangmu di sini, kak Aku yang masih belum mengerti apa dan bagaimana, jauh dari orang tua dan saudara, lalu kau rengkuh dengan penuh kasih layaknya kakak bagiku Menemani masa gundah dan duka yang baru pertama jauh dari keluarga yang kucintai Hingga kemudian, aku mulai bisa berdiri dengan pasti Bahwa hidup memang untuk berdiri di atas kaki sendiri Dengan izin Allah yang pasti Hari-hari awal terasa sulit, kak Aku yang terbiasa disiapkan segala keperluan sekolah apalagi kegiatan keluar yang jauh semisal kemah Hari itu bingung harus bagaimana Lalu dengan bantuanmu, "Kalifa, ini duknya!" Atau arahanmu harus ada ini dan itu serta bagaimana mempersiapkan segalanya Aku kemudian berpikir, suatu saat caramu membimbing akan menjadi arah akan caraku membimbing adik-adik kelasku nanti, sama sepertimu Bisa bertanya Bisa bercerita Sebagai aku, adik yang tiba-tiba bertemu di usia remaja sebagai adik kelasmu Dengan segala c...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...