Kemudian saya belajar kembali hal lainnya, bahwa tidur itu bukan harus banyak, namun SECUKUPNYA. Ini juga yang sering saya ceritakan kepada anak-anak dikarenakan kesibukan mereka saat ini dimana kuantitas tidur semakin berkurang, benar saja waktu terasa kurang saat agenda tugas mulai meningkat seiring amanah yang bertambah, ini pula yang kemudian dialami anak-anak di fasenya sekarang. Bukan hanya manajemen waktu yang dibutuhkan, namun juga manajemen hati untuk berlapang dada pada apapun yang diterima oleh diri.
Oh wait, saya sedang mengingat kembali moment beberapa hari flare up yang membuat diri tidak bisa tertidur, benar-benar tidak bisa tidur. Karena sakit kepala yang luar biasa hebat. Saya menceritakannya kembali sebagai pengingat bagi diri saya, dan anda yang berkesempatan membaca tulisan ini. Tentang nikmat tidur yang akan terasa nikmatnya kala hal itu dicabut sementara, lalu tentang kualitas tidur yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan lamanya waktu tidur, dan bahwa tidur pun bagian dari ibadah; hayatuna kullaha ibadah, bahwa keseluruhan hidup kita adalah ibadah, ya termasuk tidur.
Trus, bagaimana tidur hadir sebagai pengingat dalam perjalanan hidup kita:
1. Nikmat tidur akan terasa begitu berharga justru setelah kita merasakan sulitnya memejamkan mata. Selama beberapa hari tidak bisa tidur akibat rasa sakit kepala yang luar biasa, saya benar-benar merasakan betapa rapuhnya diri ini ketika satu nikmat kecil itu diangkat sementara. Waktu malam terasa begitu panjang, detik demi detik merambat lambat, dan raga merindukan kedamaian yang biasanya hadir tanpa perlu diminta. Saya yakin, di luar sana mungkin ada banyak orang yang sedang mengalami kondisi serupa dengan sebab yang berbeda, entah karena sakit fisik, himpitan beban pikiran, atau gelisah yang tak kunjung reda. Semoga Allah senantiasa menjaga, menyembuhkan, serta mengembalikan nikmat kesehatan dan ketenangan tidur bagi kita semua.
2. Kualitas tidur tidak pernah ditentukan oleh seberapa lama kita tertidur, melainkan tentang kecukupannya. Tubuh kita bukan mesin yang membutuhkan waktu istirahat tanpa batas, melainkan amanah yang harus dijaga keseimbangannya. Allah Maha Tahu berapa banyak porsi istirahat yang tepat untuk memenuhi kebutuhan raga kita. Tidur yang berlebihan sering kali bukan memberi kesegaran, melainkan justru mendatangkan kekakuan pada tubuh, melesukan semangat, dan menurunkan kualitas hidup kita. Tidur secukupnya, itulah yang mengembalikan energi untuk melangkah kembali.
3. Tidur dan kaitannya dengan ibadah. Ketika kita menyadari bahwa hayatuna kullaha ibadah, bahwa seluruh helai napas dan hidup kita adalah bentuk pengabdian kepada Allah, maka tidur pun bergeser maknanya dari sekadar kebutuhan biologis menjadi bagian dari penghambaan. Kita tidak tidur hanya karena lelah, tetapi meniatkannya untuk merehatkan tubuh agar esok hari bisa kembali berdiri tegak menunaikan amanah, melayani sesama, dan beribadah dengan lebih khusyuk. Dengan niat yang lurus, setiap detik lelap kita tercatat sebagai kebaikan, menjadikan istirahat bukan bentuk kelalaian, melainkan jeda yang memberkahi.
Balananjeur, 10 Oktober 2026
Komentar
Posting Komentar