Langsung ke konten utama

Teh Poci dan Gula Pasir

Teh poci dan gula pasir yang dibeli umar dari hasil keringatnya sendiri ini bukan untuk bisnis es teh manis seperti yang umar lakukan sebelumnya.

Umar membelinya saat melihat stok gula pasir habis, sedangkan setiap aa quthb pulang dari pondok kami biasa berkumpul diskusi tentang banyak hal dgn ditemani teh manis hangat buatan umar.

"Mari bicara!" itu seperti narasi iklan teh sariwangi yang sekilas saya lihat di tv beberapa tahun lalu.
"Mari bicara!" juga salah satu dari sekian agenda rutin kami, bukan hanya saat c sulung ada di rumah. Tapi setiap hari tanpa agenda tepat jam berapa sampai jam berapa kami berkumpul untuk sharing banyak hal.

Teh manis jarang terhidang. Anak2 lebih suka teh tawar sebagai teman ngobrol saat aa sulungnya tidak ada. Jadilah teh manis menjadi minuman spesial karena hanya tersaji kala sulung ada di rumah.

Ekspresi cinta memang tak bisa dipaksakan, kadang tak bisa difahami oleh logika... Umar, aufa dan olin mengekspresikan cintanya...salah satunya dengan cara seperti itu. Kasih sayang yang seringkali membuat saya, ibu mereka...kagum pada mereka.
Hee....saya ngfans pada anak2 saya sendiri. Dan saya belajar banyak dari mereka :D :D

Teh poci dan gula pasir ini salah satu ekspresi cinta umar pada keluarganya. Sesuatu yang tak pernah saya lakukan ketika saya seusia umar, sehingga membuat saya menarik nafas penuh haru,"Robbi, nikmatMu yang mana yang pantas untuk hamba dustakan???"

~balananjeur,18022016~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...