Langsung ke konten utama

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Ada satu perjalanan yang tidak terlihat,

namun sangat menentukan arah kehidupan seorang ibu.

Bukan perjalanan keluar rumah,
bukan pula perjalanan yang diukur jarak.

Melainkan perjalanan pulang—
kepada dirinya sendiri.


Tidak semua ibu langsung sampai pada titik ini.

Sebagian harus melewati lelah yang panjang.
Rasa bersalah yang berulang.
Dan perbandingan yang diam-diam melukai.

Sampai akhirnya, ia tiba pada satu kesadaran yang sederhana,
namun tidak mudah:

bahwa ia tidak bisa terus-menerus
bersikap keras pada dirinya sendiri.


Selama ini, mungkin ia begitu lembut kepada anak-anaknya.

Ia memahami tangis mereka.
Ia memaklumi kesalahan mereka.
Ia memberi ruang bagi mereka untuk belajar.

Namun kepada dirinya sendiri…
ia sering kali berbeda.

Ia menuntut.
Ia menghakimi.
Ia jarang memberi ruang untuk gagal.

Seolah-olah ia harus selalu benar,
selalu sabar,
selalu cukup.


Padahal, ia juga manusia.

Ia juga sedang belajar.

Dan seperti anak-anaknya,
ia pun berhak untuk bertumbuh tanpa harus selalu sempurna.


Berdamai dengan diri sendiri
bukan berarti berhenti menjadi lebih baik.

Bukan pula berarti membenarkan semua kesalahan.

Melainkan tentang menerima—
bahwa kita adalah manusia yang sedang berproses.

Yang kadang benar,
kadang keliru,
namun tetap berusaha.


Ada ketenangan yang perlahan hadir
saat seorang ibu mulai berkata pada dirinya:

“Aku mungkin belum sempurna,
tapi aku tidak berhenti berusaha.”

Kalimat itu sederhana,
namun mampu meruntuhkan beban yang selama ini dipikul sendirian.


Berdamai juga berarti belajar melepaskan hal-hal
yang tidak bisa dikendalikan.

Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan.
Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil.
Tidak semua hari bisa dilalui dengan tenang.

Dan itu… tidak apa-apa.


Ada masa ketika seorang ibu mulai menerima
bahwa rumahnya tidak harus selalu rapi.
Bahwa anak-anaknya tidak harus selalu tenang.
Bahwa dirinya tidak harus selalu kuat.

Dan anehnya, justru di titik itu
ia mulai merasa lebih ringan.


Karena selama ini, yang membuat lelah bukan hanya keadaan—
tetapi juga tuntutan yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri.


Saya pun pernah sampai di titik itu.

Titik di mana saya berhenti sejenak,
dan bertanya pada diri sendiri:

“Kenapa aku begitu keras pada diriku?”

Padahal, jika anak saya melakukan kesalahan yang sama,
saya akan memeluknya,
bukan menghakiminya.

Dari situlah, saya mulai belajar satu hal yang sederhana,
namun mengubah banyak hal:

memperlakukan diri sendiri
dengan kelembutan yang sama.


Pelan-pelan, saya belajar berbicara lebih baik kepada diri sendiri.

Bukan lagi dengan kalimat yang menyalahkan,
tetapi dengan kalimat yang menguatkan.

Bukan lagi “aku gagal”,
melainkan “aku sedang belajar”.

Bukan lagi “aku tidak cukup”,
melainkan “aku sedang bertumbuh”.


Dan dari sana, sesuatu berubah.

Bukan keadaan di luar—
tetapi cara hati meresponnya.


Berdamai dengan diri sendiri
tidak membuat seseorang menjadi lemah.

Justru sebaliknya.

Ia menjadi lebih tenang.
Lebih sabar.
Lebih mampu hadir dengan utuh.

Karena ia tidak lagi berperang dengan dirinya sendiri.


Dan untukmu, yang mungkin masih sering merasa kurang:

Tidak apa-apa jika kamu belum sampai di titik ini.

Berdamai adalah proses.
Ia tidak datang dalam satu hari.

Namun setiap langkah kecil menuju penerimaan,
adalah bagian dari perjalanan itu.


Cobalah hari ini… sedikit saja.

Berhenti sejenak.
Tarik napas.
Dan katakan pada dirimu:

“Aku sudah berusaha.”

Bukan untuk membenarkan segalanya,
tetapi untuk mengakui bahwa kamu tidak diam.


Sebab pada akhirnya,
seorang ibu yang damai dengan dirinya sendiri
akan lebih mudah menebarkan kedamaian di sekitarnya.

Dan mungkin,
itulah hadiah terbesar yang bisa ia berikan
kepada anak-anaknya.


Defa S Hidayat

Tasikmalaya, 24 Maret 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...