Ada satu perjalanan yang tidak terlihat,
namun sangat menentukan arah kehidupan seorang ibu.
Bukan perjalanan keluar rumah,
bukan pula perjalanan yang diukur jarak.
Melainkan perjalanan pulang—
kepada dirinya sendiri.
Tidak semua ibu langsung sampai pada titik ini.
Sebagian harus melewati lelah yang panjang.
Rasa bersalah yang berulang.
Dan perbandingan yang diam-diam melukai.
Sampai akhirnya, ia tiba pada satu kesadaran yang sederhana,
namun tidak mudah:
bahwa ia tidak bisa terus-menerus
bersikap keras pada dirinya sendiri.
Selama ini, mungkin ia begitu lembut kepada anak-anaknya.
Ia memahami tangis mereka.
Ia memaklumi kesalahan mereka.
Ia memberi ruang bagi mereka untuk belajar.
Namun kepada dirinya sendiri…
ia sering kali berbeda.
Ia menuntut.
Ia menghakimi.
Ia jarang memberi ruang untuk gagal.
Seolah-olah ia harus selalu benar,
selalu sabar,
selalu cukup.
Padahal, ia juga manusia.
Ia juga sedang belajar.
Dan seperti anak-anaknya,
ia pun berhak untuk bertumbuh tanpa harus selalu sempurna.
Berdamai dengan diri sendiri
bukan berarti berhenti menjadi lebih baik.
Bukan pula berarti membenarkan semua kesalahan.
Melainkan tentang menerima—
bahwa kita adalah manusia yang sedang berproses.
Yang kadang benar,
kadang keliru,
namun tetap berusaha.
Ada ketenangan yang perlahan hadir
saat seorang ibu mulai berkata pada dirinya:
“Aku mungkin belum sempurna,
tapi aku tidak berhenti berusaha.”
Kalimat itu sederhana,
namun mampu meruntuhkan beban yang selama ini dipikul sendirian.
Berdamai juga berarti belajar melepaskan hal-hal
yang tidak bisa dikendalikan.
Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan.
Tidak semua usaha langsung membuahkan hasil.
Tidak semua hari bisa dilalui dengan tenang.
Dan itu… tidak apa-apa.
Ada masa ketika seorang ibu mulai menerima
bahwa rumahnya tidak harus selalu rapi.
Bahwa anak-anaknya tidak harus selalu tenang.
Bahwa dirinya tidak harus selalu kuat.
Dan anehnya, justru di titik itu
ia mulai merasa lebih ringan.
Karena selama ini, yang membuat lelah bukan hanya keadaan—
tetapi juga tuntutan yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri.
Saya pun pernah sampai di titik itu.
Titik di mana saya berhenti sejenak,
dan bertanya pada diri sendiri:
“Kenapa aku begitu keras pada diriku?”
Padahal, jika anak saya melakukan kesalahan yang sama,
saya akan memeluknya,
bukan menghakiminya.
Dari situlah, saya mulai belajar satu hal yang sederhana,
namun mengubah banyak hal:
memperlakukan diri sendiri
dengan kelembutan yang sama.
Pelan-pelan, saya belajar berbicara lebih baik kepada diri sendiri.
Bukan lagi dengan kalimat yang menyalahkan,
tetapi dengan kalimat yang menguatkan.
Bukan lagi “aku gagal”,
melainkan “aku sedang belajar”.
Bukan lagi “aku tidak cukup”,
melainkan “aku sedang bertumbuh”.
Dan dari sana, sesuatu berubah.
Bukan keadaan di luar—
tetapi cara hati meresponnya.
Berdamai dengan diri sendiri
tidak membuat seseorang menjadi lemah.
Justru sebaliknya.
Ia menjadi lebih tenang.
Lebih sabar.
Lebih mampu hadir dengan utuh.
Karena ia tidak lagi berperang dengan dirinya sendiri.
Dan untukmu, yang mungkin masih sering merasa kurang:
Tidak apa-apa jika kamu belum sampai di titik ini.
Berdamai adalah proses.
Ia tidak datang dalam satu hari.
Namun setiap langkah kecil menuju penerimaan,
adalah bagian dari perjalanan itu.
Cobalah hari ini… sedikit saja.
Berhenti sejenak.
Tarik napas.
Dan katakan pada dirimu:
“Aku sudah berusaha.”
Bukan untuk membenarkan segalanya,
tetapi untuk mengakui bahwa kamu tidak diam.
Sebab pada akhirnya,
seorang ibu yang damai dengan dirinya sendiri
akan lebih mudah menebarkan kedamaian di sekitarnya.
Dan mungkin,
itulah hadiah terbesar yang bisa ia berikan
kepada anak-anaknya.
Defa S Hidayat
Tasikmalaya, 24 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar