Bismillahirrahmanirrahim…
Untukmu, yang mungkin tidak pernah meminta dituliskan…
tapi diam-diam selalu layak untuk diceritakan.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Karena tentangmu… bukan hanya tentang apa yang terlihat,
tapi tentang banyak hal yang engkau sembunyikan
agar aku tetap baik-baik saja.
Engkau tahu?
Aku sering merasa tubuh ini tidak sekuat dulu.
Lelah datang tanpa aba-aba,
energi hilang tanpa izin,
dan kadang… aku bahkan tidak mengerti diriku sendiri.
Di saat seperti itu,
aku bukan hanya takut pada sakitnya…
tapi juga takut merepotkanmu.
Takut menjadi beban.
Takut tidak lagi menjadi istri yang “cukup”.
Tapi engkau…
tidak pernah sekalipun membuatku merasa seperti itu.
Engkau tidak bertanya kenapa aku selemah ini.
Engkau tidak mengeluh saat aku tidak bisa banyak membantu.
Engkau tidak membandingkan aku dengan siapa pun.
Engkau hanya… tetap tinggal.
Tetap sabar.
Tetap melakukan banyak hal… tanpa aku minta.
Kadang aku melihatmu diam-diam—
mengambil alih pekerjaan yang seharusnya kulakukan,
merapikan hal-hal yang bahkan tidak sempat kusentuh,
dan tetap bersikap seolah itu bukan apa-apa.
Di situ… hatiku sering terasa sesak.
Bukan karena sedih,
tapi karena aku tahu…
cintamu begitu dalam, sampai tidak perlu suara.
Aku juga tahu,
aku bukan orang yang mudah dipahami.
Ada hari aku ingin bercerita panjang,
ada hari aku hanya ingin diam.
Ada waktu aku ingin dekat,
ada waktu aku justru menjauh.
Tapi engkau… tidak pernah memaksaku untuk selalu sama.
Engkau belajar memahami,
bahkan tanpa aku jelaskan.
Engkau memberi ruang…
tanpa membuatku merasa ditinggalkan.
Dan di situlah aku sadar—
tidak semua orang bisa mencintai dengan cara seperti itu.
Tentang mimpiku…
tentang menulis, tentang buku, tentang pergi ke banyak tempat—
aku tahu semua itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain.
Tapi bagiku, itu adalah bagian dari diriku.
Dan engkau…
tidak pernah meremehkannya.
Engkau mengiyakan.
Engkau mendukung.
Engkau bahkan ikut memeluk mimpi itu… seolah itu juga milikmu.
Kadang aku bertanya dalam hati,
“Kenapa aku bisa mendapatkan engkau?”
Dan setiap kali aku tidak menemukan jawabannya…
aku hanya bisa menunduk dan berkata,
hadza min fadhli Rabbi.
Ini bukan karena aku pantas.
Ini karena Allah Maha Baik.
Melalui engkau…
Allah menunjukkan bahwa aku tidak sendiri.
Melalui engkau…
Allah menenangkan banyak hal dalam hidupku
yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.
Jika suatu hari aku terlihat kuat,
ketahuilah… mungkin karena aku tahu
ada engkau yang selalu siap menopang saat aku runtuh.
Jika suatu hari aku bisa tersenyum lagi setelah lelah,
itu karena aku tahu…
aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Terima kasih…
untuk setiap hal kecil yang mungkin tidak pernah engkau anggap besar.
Untuk setiap diam yang penuh pengertian.
Untuk setiap langkah yang engkau ambil…
agar aku bisa tetap berjalan.
Maaf…
jika selama ini aku belum bisa menjadi istri yang sempurna.
Maaf jika masih sering lelah,
sering berubah,
sering tidak seperti yang diharapkan.
Tapi percayalah…
aku sedang belajar.
Belajar untuk tetap bertahan,
belajar untuk tetap bersyukur,
dan belajar untuk mencintaimu… dengan lebih baik setiap harinya.
Jika kelak perjalanan kita tidak selalu mudah,
aku ingin engkau tahu satu hal—
aku tidak ingin berjalan dengan siapa pun selain engkau.
Karena bersamamu…
bahkan dalam lelah pun, aku merasa tenang.
Dan itu… adalah nikmat yang tidak semua orang miliki.
Terima kasih sudah menjadi rumah,
di saat dunia terasa terlalu ramai.
Semoga Allah menjaga kita…
dalam diam yang saling menguatkan,
dalam lelah yang saling mengerti,
dan dalam cinta… yang terus kita rawat, perlahan, sampai surga.
Tasikmalaya, Maret 2026
dari seseorang yang terus belajar kuat dalam pelukan doa…
dan selalu merasa cukup, karena engkau ada.
Komentar
Posting Komentar