Langsung ke konten utama

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahim…

Untukmu, yang mungkin tidak pernah meminta dituliskan…
tapi diam-diam selalu layak untuk diceritakan.

Aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Karena tentangmu… bukan hanya tentang apa yang terlihat,
tapi tentang banyak hal yang engkau sembunyikan
agar aku tetap baik-baik saja.

Engkau tahu?
Aku sering merasa tubuh ini tidak sekuat dulu.
Lelah datang tanpa aba-aba,
energi hilang tanpa izin,
dan kadang… aku bahkan tidak mengerti diriku sendiri.

Di saat seperti itu,
aku bukan hanya takut pada sakitnya…
tapi juga takut merepotkanmu.

Takut menjadi beban.
Takut tidak lagi menjadi istri yang “cukup”.

Tapi engkau…
tidak pernah sekalipun membuatku merasa seperti itu.

Engkau tidak bertanya kenapa aku selemah ini.
Engkau tidak mengeluh saat aku tidak bisa banyak membantu.
Engkau tidak membandingkan aku dengan siapa pun.

Engkau hanya… tetap tinggal.
Tetap sabar.
Tetap melakukan banyak hal… tanpa aku minta.

Kadang aku melihatmu diam-diam—
mengambil alih pekerjaan yang seharusnya kulakukan,
merapikan hal-hal yang bahkan tidak sempat kusentuh,
dan tetap bersikap seolah itu bukan apa-apa.

Di situ… hatiku sering terasa sesak.
Bukan karena sedih,
tapi karena aku tahu…
cintamu begitu dalam, sampai tidak perlu suara.

Aku juga tahu,
aku bukan orang yang mudah dipahami.

Ada hari aku ingin bercerita panjang,
ada hari aku hanya ingin diam.
Ada waktu aku ingin dekat,
ada waktu aku justru menjauh.

Tapi engkau… tidak pernah memaksaku untuk selalu sama.

Engkau belajar memahami,
bahkan tanpa aku jelaskan.

Engkau memberi ruang…
tanpa membuatku merasa ditinggalkan.

Dan di situlah aku sadar—
tidak semua orang bisa mencintai dengan cara seperti itu.

Tentang mimpiku…
tentang menulis, tentang buku, tentang pergi ke banyak tempat—
aku tahu semua itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain.

Tapi bagiku, itu adalah bagian dari diriku.

Dan engkau…
tidak pernah meremehkannya.

Engkau mengiyakan.
Engkau mendukung.
Engkau bahkan ikut memeluk mimpi itu… seolah itu juga milikmu.

Kadang aku bertanya dalam hati,
“Kenapa aku bisa mendapatkan engkau?”

Dan setiap kali aku tidak menemukan jawabannya…
aku hanya bisa menunduk dan berkata,
hadza min fadhli Rabbi.

Ini bukan karena aku pantas.
Ini karena Allah Maha Baik.

Melalui engkau…
Allah menunjukkan bahwa aku tidak sendiri.

Melalui engkau…
Allah menenangkan banyak hal dalam hidupku
yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.

Jika suatu hari aku terlihat kuat,
ketahuilah… mungkin karena aku tahu
ada engkau yang selalu siap menopang saat aku runtuh.

Jika suatu hari aku bisa tersenyum lagi setelah lelah,
itu karena aku tahu…
aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Terima kasih…
untuk setiap hal kecil yang mungkin tidak pernah engkau anggap besar.
Untuk setiap diam yang penuh pengertian.
Untuk setiap langkah yang engkau ambil…
agar aku bisa tetap berjalan.

Maaf…
jika selama ini aku belum bisa menjadi istri yang sempurna.
Maaf jika masih sering lelah,
sering berubah,
sering tidak seperti yang diharapkan.

Tapi percayalah…
aku sedang belajar.
Belajar untuk tetap bertahan,
belajar untuk tetap bersyukur,
dan belajar untuk mencintaimu… dengan lebih baik setiap harinya.

Jika kelak perjalanan kita tidak selalu mudah,
aku ingin engkau tahu satu hal—
aku tidak ingin berjalan dengan siapa pun selain engkau.

Karena bersamamu…
bahkan dalam lelah pun, aku merasa tenang.

Dan itu… adalah nikmat yang tidak semua orang miliki.

Terima kasih sudah menjadi rumah,
di saat dunia terasa terlalu ramai.

Semoga Allah menjaga kita…
dalam diam yang saling menguatkan,
dalam lelah yang saling mengerti,
dan dalam cinta… yang terus kita rawat, perlahan, sampai surga.

Tasikmalaya, Maret 2026
dari seseorang yang terus belajar kuat dalam pelukan doa…
dan selalu merasa cukup, karena engkau ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...