Langsung ke konten utama

Ketika Jarak Mulai Tercipta

Jarak…

tidak selalu tentang langkah yang menjauh.

Kadang, ia hadir di ruang yang sama—
namun hati tidak lagi sedekat dulu.


Seorang ibu bisa duduk bersebelahan dengan anaknya,
namun percakapan tidak lagi mengalir seperti dulu.

Pertanyaan dijawab seperlunya.
Cerita tidak lagi datang tanpa diminta.
Dan keheningan… mulai mengambil tempat.

Bukan keheningan yang damai,
melainkan keheningan yang membuat hati bertanya:

“Apa yang berubah?”


Anak-anak yang dulu begitu terbuka,
kini mulai menyimpan banyak hal sendiri.

Bukan karena mereka tidak percaya,
tetapi karena mereka sedang belajar menjadi diri mereka sendiri.

Mereka memiliki pikiran yang lebih kompleks.
Perasaan yang lebih dalam.
Dan dunia yang tidak lagi hanya berpusat pada rumah.


Namun bagi seorang ibu,
perubahan ini bisa terasa seperti jarak yang nyata.

Ia ingin tetap dekat.
Ingin tetap tahu.
Ingin tetap menjadi tempat pertama untuk segala cerita.

Namun kenyataannya,
tidak semua hal lagi dibagikan seperti dulu.

Dan di situlah, hati mulai diuji.


Ada ibu yang berusaha mendekat dengan bertanya lebih banyak,
namun justru membuat anak merasa ditekan.

Ada yang memilih diam,
namun di dalamnya penuh dengan kekhawatiran.

Ada pula yang merasa tersinggung,
menganggap jarak itu sebagai bentuk penolakan.

Padahal, sering kali… bukan itu maksudnya.


Jarak ini bukan tentang hilangnya cinta.

Ia adalah tanda bahwa anak-anak sedang bertumbuh.

Sedang belajar membuat keputusan.
Sedang belajar memahami diri.
Sedang belajar berdiri tanpa selalu bergantung.


Namun memahami itu… tidak serta-merta menghilangkan rasa.

Tetap ada rindu pada kedekatan yang dulu.
Tetap ada keinginan untuk kembali ke masa
di mana semuanya terasa lebih sederhana.

Dan itu… wajar.


Saya pun pernah berada di fase itu.

Mencoba memahami perubahan yang terjadi,
sambil menenangkan hati yang sesekali merasa kehilangan.

Saya ingin tetap dekat,
namun saya juga tidak ingin memaksa.

Dan di situlah saya belajar satu hal penting:

bahwa kedekatan… tidak selalu dibangun dengan banyaknya kata.


Kadang, ia hadir dalam sikap.

Dalam cara kita mendengarkan tanpa menghakimi.
Dalam kesediaan untuk ada, tanpa harus selalu tahu segalanya.
Dalam kehangatan yang tetap terasa, meski percakapan tidak selalu panjang.


Seorang anak mungkin tidak lagi menceritakan semuanya.

Namun ia tetap merasakan
apakah rumahnya adalah tempat yang aman.

Apakah ibunya adalah tempat yang bisa ia tuju
saat dunia di luar terasa berat.


Dan di situlah peran seorang ibu menjadi lebih halus.

Bukan lagi sebagai pusat dari segala hal,
melainkan sebagai tempat kembali.

Tempat yang tidak memaksa,
tidak menuntut,
namun selalu terbuka.


Membangun kedekatan di fase ini
bukan tentang menarik anak kembali ke masa lalu.

Melainkan tentang menyesuaikan diri
dengan cara baru untuk terhubung.

Lebih banyak mendengar.
Lebih sedikit menghakimi.
Lebih sabar menunggu.


Untukmu, yang hari ini merasa ada jarak dengan anakmu:

Tidak semua jarak adalah kehilangan.

Sebagian adalah ruang
yang sedang mereka butuhkan untuk tumbuh.


Tugas kita bukan meniadakan jarak itu,
melainkan memastikan bahwa di balik jarak tersebut,
tetap ada jembatan.

Jembatan kepercayaan.
Jembatan cinta.
Jembatan yang membuat mereka tahu—
bahwa sejauh apa pun mereka melangkah,
mereka selalu punya tempat untuk pulang.


Dan mungkin,
itulah bentuk kedekatan yang lebih dewasa.

Tidak selalu terlihat.
Tidak selalu terdengar.

Namun tetap ada—
diam, kuat, dan tak tergantikan.


Defa S. Hidayat

Tasikmalaya, 1 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...