Langsung ke konten utama

Lelaki yang Tidak Banyak Menuntut

Jika harus menggambarkan tentangnya dengan satu kalimat,

mungkin aku akan berkata—

dia bukan seseorang yang banyak bicara,
tapi selalu tahu harus berbuat apa.

Tidak ada janji-janji panjang.
Tidak ada kata-kata yang berlebihan.
Bahkan kadang… tidak ada penjelasan apa-apa.

Tapi justru di situlah aku belajar,
bahwa tidak semua cinta perlu diucapkan.

Sebagian… cukup dilakukan.

Aku mulai menyadarinya di hari-hari ketika tubuhku tidak baik-baik saja.

Hari-hari ketika aku lebih banyak diam,
lebih banyak duduk,
dan lebih sering memandangi hal-hal yang belum sempat aku selesaikan.

Di hari-hari seperti itu…
dia tidak bertanya banyak.

Tidak ada kalimat,
“Kenapa belum ini?”
atau
“Seharusnya kan bisa begitu.”

Tidak.

Dia hanya melihat.
Lalu bergerak.

Pelan, tanpa suara yang dibuat-buat.

Aku pernah melihatnya mengambil alih pekerjaan yang biasa kulakukan—
tanpa berkata apa-apa.

Seolah itu bukan hal besar.
Seolah itu memang sudah seharusnya.

Padahal aku tahu…
itu bukan kewajibannya sepenuhnya.

Tapi dia tidak pernah menjadikannya beban.
Tidak pernah pula menjadikannya alasan untuk mengeluh.

Dan yang membuat hatiku semakin tidak biasa…
dia melakukannya dengan tenang.

Tidak ada wajah lelah yang sengaja ditunjukkan.
Tidak ada sikap yang membuatku merasa bersalah.

Justru sebaliknya—
dia membuat semuanya terasa ringan.

Seolah ingin berkata,
“Tidak apa-apa… ini bisa kita jalani.”

Aku sering memperhatikannya dalam diam.

Cara dia tetap menjalani hari seperti biasa,
cara dia tetap memperlakukanku seperti tidak ada yang berubah,
dan cara dia tetap hadir… tanpa membuatku merasa kurang.

Di situlah aku mulai mengerti sesuatu.

Bahwa ada orang-orang yang mencintai dengan cara yang sangat sunyi.

Tidak banyak kata,
tidak banyak tuntutan,
tidak banyak penegasan.

Tapi kehadirannya… selalu terasa.

Aku pernah berada di titik
merasa tidak pantas untuk diperlakukan sebaik itu.

Merasa bahwa aku tidak memberi cukup,
tidak menjadi cukup,
dan tidak bisa membalas dengan cara yang sama.

Dan di tengah perasaan itu…
aku justru semakin melihat betapa tulusnya dia.

Dia tidak menunggu aku menjadi kuat lagi
untuk tetap bersikap baik.

Dia tidak menunggu aku kembali seperti dulu
untuk tetap memperlakukanku dengan penuh hormat.

Dia menerima…
versi diriku yang sekarang.

Versi yang lebih lemah,
lebih sering lelah,
dan lebih banyak diam.

Dan anehnya…
dia tidak pernah membuat versi itu terasa lebih buruk.

Justru, bersamanya,
aku merasa tetap utuh.

Mungkin itulah yang membuatku pelan-pelan mengerti—

bahwa cinta yang matang
bukan tentang mencari pasangan yang selalu sempurna.

Tapi tentang tetap memilih,
bahkan ketika yang dipilih… sedang tidak dalam keadaan terbaiknya.

Dia tidak banyak menuntut.

Tapi justru karena itulah…
aku belajar banyak hal darinya.

Tentang sabar yang tidak perlu diumumkan.
Tentang pengertian yang tidak perlu dijelaskan.
Dan tentang hadir… tanpa harus selalu diminta.

Aku tidak tahu bagaimana aku harus membalas semua itu.

Karena semakin aku mencoba menghitung,
semakin aku merasa… tidak akan pernah cukup.

Yang aku tahu hanya satu—

di tengah keadaanku yang sering tidak menentu,
aku tidak pernah benar-benar merasa sendirian.

Dan mungkin…
itulah bentuk cinta yang paling menenangkan.

Bukan yang paling terlihat,
bukan yang paling terdengar,
tapi yang paling terasa…

diam-diam,
dan menetap.


Defa S Hidayat

Tasikmalaya, Maret 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...