Ada luka yang tidak berdarah,
tidak tampak di permukaan,
namun perlahan menggerus dari dalam.
Ia bernama: perbandingan.
Di zaman ini, seorang ibu tidak hanya hidup di dunia nyata.
Ia juga hidup di layar-layar kecil
yang menampilkan potongan kehidupan orang lain.
Rumah yang rapi.
Anak-anak yang tampak tenang.
Ibu yang tersenyum lembut tanpa terlihat lelah.
Semua tampak indah.
Semua tampak teratur.
Semua tampak… lebih baik.
Dan tanpa disadari,
hati mulai membandingkan.
“Mengapa rumahku tidak serapi itu?”
“Mengapa anakku lebih sulit diatur?”
“Mengapa aku mudah lelah, sementara yang lain tampak kuat?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang pelan,
namun dampaknya tidak sederhana.
Ia mengikis rasa syukur,
mengaburkan pandangan,
dan perlahan menanamkan satu keyakinan yang keliru:
“Aku tidak cukup.”
Padahal, yang dibandingkan…
sering kali tidak setara.
Kita melihat hasil,
tanpa mengetahui prosesnya.
Kita melihat senyum,
tanpa menyaksikan air mata di baliknya.
Kita melihat ketenangan,
tanpa memahami perjuangan yang tersembunyi.
Namun hati manusia…
mudah sekali lupa akan hal itu.
Ia menangkap apa yang tampak,
lalu menjadikannya standar.
Dan dari sanalah luka itu mulai tumbuh.
Seorang ibu bisa saja telah melakukan begitu banyak hal dalam sehari.
Merawat.
Mendidik.
Menguatkan.
Bertahan.
Namun semua itu terasa kecil
ketika ia melihat orang lain tampak lebih “baik”.
Dan perlahan,
ia mulai meragukan dirinya sendiri.
Perbandingan tidak selalu datang dari luar.
Kadang, ia justru lahir dari dalam.
Dari ekspektasi yang terlalu tinggi.
Dari gambaran “ibu ideal” yang tanpa cela.
Dari keinginan untuk selalu benar, selalu sabar, selalu cukup dalam segala hal.
Dan ketika realitas tidak sejalan,
yang muncul adalah kecewa… pada diri sendiri.
Saya pernah berada di titik itu.
Melihat orang lain,
lalu diam-diam merasa tertinggal.
Merasa bahwa apa yang saya lakukan belum cukup.
Bahwa saya seharusnya bisa lebih baik.
Namun semakin saya membandingkan,
semakin saya merasa lelah.
Karena ternyata,
perbandingan tidak pernah benar-benar memberi ketenangan.
Ia hanya memindahkan fokus—
dari syukur, menjadi kekurangan.
Sampai akhirnya saya memahami sesuatu:
Bahwa setiap ibu memiliki jalannya masing-masing.
Dengan anak-anak yang berbeda.
Dengan kondisi yang tidak sama.
Dengan ujian yang tidak bisa disamakan.
Maka, membandingkan…
hanya akan melukai diri sendiri.
Di titik itu, saya mulai belajar berhenti.
Bukan berhenti melihat,
tetapi berhenti menilai diri melalui kehidupan orang lain.
Belajar kembali melihat apa yang ada di dalam genggaman.
Anak-anak yang mungkin tidak sempurna,
namun penuh kehidupan.
Rumah yang mungkin tidak selalu rapi,
namun hangat oleh kehadiran.
Dan diri ini—
yang mungkin masih jauh dari ideal,
namun terus berusaha.
Perlahan, rasa cukup itu mulai tumbuh.
Bukan karena semuanya menjadi sempurna,
tetapi karena cara memandangnya berubah.
Bahwa nilai seorang ibu
tidak ditentukan oleh perbandingan.
Melainkan oleh cinta yang ia berikan,
oleh kesabaran yang ia usahakan,
dan oleh langkah kecil yang terus ia jalani.
Dan untukmu, yang hari ini merasa tertinggal:
Mungkin kamu tidak sedang tertinggal.
Mungkin kamu hanya sedang berjalan
di jalan yang berbeda.
Dan itu tidak apa-apa.
Tidak semua perjalanan harus terlihat indah.
Tidak semua proses harus mudah.
Namun setiap langkah yang kamu jalani dengan cinta…
tidak pernah sia-sia.
Pelan-pelan, kembalilah pada dirimu sendiri.
Lihat apa yang sudah kamu lakukan,
bukan hanya apa yang belum tercapai.
Hargai prosesmu,
meski belum sempurna.
Sebab pada akhirnya,
menjadi ibu bukan tentang menjadi yang terbaik di antara yang lain.
Melainkan tentang menjadi
yang terbaik…
dalam perjalanan yang Allah titipkan khusus untukmu.
Defa S Hidayat
Tasikmalaya, Maret 2026
Komentar
Posting Komentar