Ada kekhawatiran yang jarang diucapkan,
namun diam-diam dirasakan oleh banyak ibu:
“Apakah aku masih menjadi diriku…
atau aku sudah sepenuhnya hilang di dalam peran ini?”
Menjadi ibu adalah perubahan besar.
Ia tidak hanya mengubah rutinitas,
tetapi juga mengubah cara berpikir, cara merasa,
bahkan cara memandang diri sendiri.
Segala sesuatu yang dulu terasa sederhana,
kini harus melalui pertimbangan yang panjang.
Segala keputusan,
tidak lagi tentang “aku ingin”,
melainkan “apa yang terbaik untuk anak-anak”.
Dan perlahan, tanpa disadari,
kata “aku” mulai memudar.
Banyak ibu yang pada akhirnya
tidak lagi mengenali dirinya sendiri.
Apa yang ia sukai dulu,
sudah lama tidak ia lakukan.
Apa yang ia impikan dulu,
perlahan tertutup oleh kesibukan yang tidak pernah selesai.
Bahkan ketika ia memiliki waktu luang,
ia sering kali tidak tahu harus melakukan apa.
Karena ia sudah terlalu lama
hidup untuk orang lain.
Namun, menjadi ibu…
tidak pernah dimaksudkan untuk menghapus diri.
Ia bukan tentang kehilangan,
melainkan tentang perluasan.
Bahwa diri kita tidak hilang—
ia hanya berubah bentuk.
Menjadi lebih luas,
karena kini mencakup kehidupan orang lain.
Masalahnya, banyak ibu tidak diberi ruang
untuk tetap terhubung dengan dirinya sendiri.
Ia merasa bersalah ketika ingin waktu sendiri.
Ia merasa egois ketika ingin melakukan sesuatu yang ia sukai.
Ia merasa tidak pantas ketika memikirkan dirinya di tengah kesibukan.
Padahal, justru di situlah letak keseimbangannya.
Seorang ibu yang terhubung dengan dirinya
akan lebih utuh dalam mencintai.
Karena ia tidak memberi dari kekosongan,
melainkan dari keberadaan yang penuh.
Saya pun pernah berada di titik
di mana saya merasa “hilang”.
Hari-hari berjalan begitu cepat,
namun saya tidak lagi merasa mengenal diri saya sendiri.
Saya tahu apa yang anak-anak saya butuhkan.
Saya tahu apa yang harus saya lakukan.
Namun saya tidak lagi tahu…
apa yang sebenarnya saya rasakan.
Dan itu… melelahkan.
Sampai akhirnya saya menyadari satu hal penting:
Bahwa merawat diri
bukanlah bentuk keegoisan.
Ia adalah bagian dari amanah.
Karena bagaimana mungkin kita bisa terus memberi,
jika kita sendiri kosong?
Pelan-pelan, saya mulai kembali.
Bukan dengan cara yang besar,
tetapi melalui hal-hal kecil.
Memberi diri waktu untuk diam.
Melakukan hal yang saya sukai, meski sebentar.
Mengizinkan diri untuk merasa—tanpa terburu-buru menilai.
Dan dari sana, saya mulai menemukan kembali
bagian-bagian diri yang sempat hilang.
Menjadi ibu tanpa kehilangan diri
bukan berarti membagi diri secara sempurna.
Melainkan tentang menyadari
bahwa kita tetap berharga—
bahkan di luar peran kita sebagai ibu.
Bahwa kita tetap memiliki jiwa,
yang perlu didengar,
yang perlu dirawat,
yang perlu dicintai.
Anak-anak kita tidak membutuhkan ibu
yang mengorbankan seluruh dirinya
hingga tidak tersisa apa-apa.
Mereka membutuhkan ibu
yang hidup.
Yang memiliki rasa.
Yang memiliki semangat.
Yang memiliki keutuhan dalam dirinya.
Karena dari situlah,
mereka belajar tentang kehidupan.
Bahwa mencintai orang lain itu penting—
namun tidak harus dengan kehilangan diri sendiri.
Dan untukmu, yang mungkin mulai merasa jauh dari dirimu sendiri:
Tidak ada kata terlambat untuk kembali.
Kamu tidak perlu menjadi seperti dulu.
Karena kamu sudah berubah.
Namun kamu bisa menjadi versi baru dari dirimu—
yang lebih matang,
lebih dalam,
dan lebih utuh.
Mulailah dari hal kecil.
Tanyakan pada dirimu:
“Apa yang membuatku merasa hidup?”
Lalu, beri ruang untuk itu.
Meski hanya sedikit.
Sebab pada akhirnya,
menjadi ibu bukan tentang menghilang.
Melainkan tentang hadir—
untuk anak-anak,
dan juga… untuk diri sendiri.
Defa S Hidayat
Tasikmalaya, 26 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar