Ada satu perasaan yang jarang diucapkan oleh seorang ibu,
namun hampir selalu hadir dalam diam.
Ia tidak berisik.
Tidak selalu tampak di wajah.
Namun ia menetap… lama, dan dalam.
Itulah rasa bersalah.
Ia datang dalam banyak bentuk.
Saat suara meninggi tanpa sengaja,
lalu disusul penyesalan yang menyesak dada.
Saat merasa kurang sabar,
padahal sudah berusaha sekuat tenaga.
Saat melihat ibu lain tampak lebih tenang, lebih rapi, lebih “berhasil”—
dan diam-diam hati berbisik:
“Mengapa aku tidak bisa seperti itu?”
Rasa bersalah seorang ibu… tidak sederhana.
Ia bukan hanya tentang apa yang dilakukan,
tetapi juga tentang apa yang tidak sempat dilakukan.
Tentang waktu yang terasa kurang.
Tentang perhatian yang terbagi.
Tentang kehadiran yang kadang terasa setengah.
Dan yang paling menyakitkan—
tentang perasaan bahwa dirinya belum cukup.
Seorang ibu bisa menjalani hari dengan penuh pengorbanan,
namun tetap merasa bersalah di penghujungnya.
Ia telah memasak, membersamai, mendidik, menjaga.
Namun ketika malam tiba,
yang teringat justru satu momen kecil:
nada suara yang terlalu tinggi,
respon yang terlambat,
atau pelukan yang terlewat.
Dan dari satu momen itu,
ia menilai seluruh dirinya.
Padahal, cinta seorang ibu tidak pernah diukur
dari satu kesalahan.
Namun rasa bersalah… sering kali membuatnya lupa.
Ada juga rasa bersalah yang lebih halus,
lebih sulit dikenali.
Ketika ia ingin waktu untuk dirinya sendiri,
namun merasa egois.
Ketika ia merasa lelah,
namun merasa tidak pantas untuk mengeluh.
Ketika ia merindukan dirinya yang dulu,
namun merasa itu adalah bentuk ketidaksyukuran.
Akhirnya, ia menahan semuanya.
Menjadi kuat di luar,
namun pelan-pelan melelahkan dirinya di dalam.
Rasa bersalah ini, jika dibiarkan,
tidak hanya melukai hati—
tetapi juga mengaburkan cara pandang.
Ia membuat seorang ibu melihat dirinya
bukan dari seluruh kebaikan yang telah ia lakukan,
melainkan dari kekurangan yang sebenarnya manusiawi.
Ia lupa bahwa ia juga sedang belajar.
Bahwa ia juga sedang bertumbuh.
Bahwa menjadi ibu…
adalah proses yang tidak pernah selesai.
Saya pernah berada di titik itu.
Di mana satu kesalahan kecil terasa seperti kegagalan besar.
Di mana satu emosi yang tidak tertahan
membuat hati dipenuhi penyesalan berhari-hari.
Saya pernah meminta maaf dalam diam,
kepada anak-anak yang bahkan mungkin sudah lupa
apa yang saya sesali.
Namun hati ini… tidak mudah lupa.
Sampai akhirnya saya memahami sesuatu
yang perlahan mengubah cara saya memandang diri sendiri:
Bahwa Allah tidak pernah menilai kita
dari kesempurnaan.
Melainkan dari kesungguhan.
Dari usaha yang terus diulang,
meski jatuh di titik yang sama.
Dari niat yang terus diperbaiki,
meski hati tidak selalu stabil.
Di situlah, rasa bersalah mulai menemukan tempatnya.
Bukan untuk dihapus sepenuhnya—
karena ia tetap dibutuhkan sebagai pengingat.
Namun tidak lagi dibiarkan menjadi hakim
yang menghukum tanpa ampun.
Seorang ibu tidak perlu menjadi tanpa salah
untuk bisa menjadi cukup.
Ia hanya perlu terus kembali.
Meminta maaf ketika perlu.
Memperbaiki ketika mampu.
Dan melepaskan apa yang tidak bisa diubah.
Karena anak-anak…
tidak membutuhkan ibu yang sempurna.
Mereka membutuhkan ibu yang hadir.
Yang tulus.
Yang mau belajar, dan tidak menyerah.
Bahkan dalam ketidaksempurnaannya.
Dan untukmu, yang sering merasa bersalah dalam diam:
Jika hari ini kamu merasa belum cukup,
itu bukan berarti kamu gagal.
Itu berarti hatimu hidup.
Masih peka.
Masih peduli.
Dan itu… adalah tanda cinta.
Pelan-pelan, belajarlah untuk lebih lembut pada diri sendiri.
Seperti lembutnya kamu kepada anak-anakmu.
Seperti sabarnya kamu memahami mereka.
Kamu pun… berhak mendapatkan itu.
Sebab pada akhirnya,
perjalanan menjadi ibu bukan tentang menghapus semua kesalahan.
Melainkan tentang terus kembali,
memperbaiki,
dan mencintai—
termasuk mencintai diri sendiri,
di tengah segala kurangnya.
Defa S Hidayat
Tasikmalaya, Maret 2026
Komentar
Posting Komentar