Ada masa ketika aku merasa… tidak enak menjadi diriku sendiri.
Bukan karena aku tidak bersyukur,
tapi karena aku merasa tidak lagi bisa menjadi seperti yang seharusnya.
Sebagai seorang istri,
aku tahu… ada banyak hal yang ingin aku lakukan.
Mengurus rumah dengan rapi,
menyediakan semuanya dengan baik,
hadir dengan tenaga yang utuh,
dan menjadi seseorang yang bisa diandalkan.
Itu keinginan yang sederhana.
Tapi entah kenapa… belakangan terasa begitu jauh.
Ada hari ketika aku bangun dengan niat yang penuh—
ingin melakukan ini, ingin menyelesaikan itu.
Tapi belum juga setengah jalan,
tubuhku sudah lebih dulu menyerah.
Lelah itu datang lagi.
Tanpa aba-aba.
Tanpa kompromi.
Dan di titik itu…
aku sering hanya bisa diam.
Melihat apa yang belum selesai,
melihat apa yang seharusnya bisa kulakukan,
tapi tidak mampu aku tuntaskan.
Perasaan itu… tidak nyaman.
Seperti ada yang mengganjal di dada.
Seperti ada suara kecil yang terus berbisik,
“Seharusnya kamu bisa lebih dari ini.”
Aku mulai membandingkan diriku—
dengan diriku yang dulu,
dengan orang lain,
dengan standar yang tanpa sadar aku buat sendiri.
Dan semakin aku membandingkan,
semakin aku merasa tertinggal.
Aku pernah berada di titik…
ingin memaksakan diri.
Tetap bergerak meski tubuh sudah memberi tanda.
Tetap berdiri meski kaki sudah terasa berat.
Tetap tersenyum, seolah semua baik-baik saja.
Tapi setelah itu…
yang datang justru lebih berat.
Tubuhku benar-benar drop.
Lelahnya bukan lagi sekadar lelah,
tapi seperti habis seluruh tenaga.
Di situ aku mulai sadar—
bahwa memaksakan diri
tidak membuatku menjadi lebih baik.
Justru membuatku semakin kehilangan diriku sendiri.
Namun menerima…
itu tidak mudah.
Terutama ketika aku melihatnya—
suamiku.
Dia tetap menjalani harinya.
Tetap bekerja.
Tetap bergerak.
Dan di saat aku bahkan kesulitan mengurus diriku sendiri,
aku mulai merasa… kecil.
Aku takut dia lelah menghadapi aku.
Aku takut dia kecewa, meski tidak pernah dia katakan.
Aku takut… aku tidak lagi menjadi pasangan yang menyenangkan.
Ketakutan itu tidak selalu aku ucapkan.
Tapi ia ada.
Diam-diam memenuhi ruang di hatiku.
Aku pernah berpikir,
“Kalau aku terus seperti ini… bagaimana?”
Pertanyaan itu sederhana,
tapi jawabannya terasa menakutkan.
Dan di tengah semua perasaan itu…
aku mulai memperhatikan sesuatu.
Dia tidak berubah.
Tidak ada nada mengeluh.
Tidak ada raut kecewa.
Tidak ada tuntutan yang membuatku merasa bersalah.
Dia tetap sama.
Tetap pulang dengan tenang.
Tetap berbicara dengan lembut.
Tetap memperlakukanku… seperti aku masih utuh.
Awalnya aku tidak percaya.
Aku pikir mungkin dia hanya menahan.
Mungkin dia hanya tidak ingin membuatku semakin merasa tidak enak.
Tapi hari demi hari…
sikapnya tidak berubah.
Dan di situlah aku mulai merasa sesuatu yang lain—
bukan lagi hanya takut…
tapi haru.
Haru yang pelan-pelan memenuhi hati.
Karena di saat aku merasa tidak cukup,
dia tidak pernah melihatku seperti itu.
Di saat aku merasa gagal,
dia tidak pernah memperlakukanku sebagai kegagalan.
Dan di saat aku mulai kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri…
dia justru tetap percaya.
Tanpa banyak kata,
tanpa penjelasan panjang,
tanpa syarat.
Di titik itu… aku mulai belajar lagi.
Bahwa mungkin,
menjadi “cukup” itu bukan tentang seberapa banyak yang bisa aku lakukan.
Tapi tentang bagaimana aku tetap bertahan,
tetap jujur dengan keadaan,
dan tetap menerima bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Dan mungkin juga…
tentang bagaimana aku belajar menerima cinta,
tanpa harus selalu merasa layak terlebih dahulu.
Karena ternyata…
ada cinta yang tidak menunggu kita sempurna,
untuk tetap tinggal.
Dan aku mulai menyadari,
bahwa di tengah keterbatasanku ini…
Allah tidak sedang mengambil sesuatu dariku.
Dia justru sedang memperlihatkan sesuatu.
Sesuatu yang selama ini mungkin tidak aku lihat dengan jelas—
tentang seseorang,
yang tetap memilih tinggal…
bahkan saat aku merasa ingin menyerah pada diriku sendiri.
Defa S Hidayat
Tasikmalaya, 26 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar