Langsung ke konten utama

Skenario-Nya Luar Biasa




Skenario Allah itu memang terasa luar biasa. Membayangkannya kembali membuat saya terlempar ke masa belasan tahun lalu, saat kaki ini sering (sengaja) melangkah ke Cipansor untuk menemui Mbak Uci dan rekan-rekan lainnya.

Kala itu, saya masih seorang mahmuda dengan dua balita. Quthb baru berusia 3 tahun dan Umar baru setahun. Di usia 20-an yang masih hijau, saya hanyalah seorang "Dede" yang mudah lelah dengan rutinitas keibuan dan segala romantika hidup yang seolah menuntut kata "sempurna".

Mbak Uci, masih ingatkah betapa "jaim"nya saya saat itu? Sebenarnya bukan benar-benar jaim. Saya hanya butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi, mengenal karakter, dan menempatkan diri. Meski dari Tasik saya langsung menuju ke sana, atau sebelum pulang ke Tasik pasti menyempatkan singgah, rasa canggung itu tetap ada.

Cipansor adalah pelarian saya saat suntuk. Meski jauh, bertemu Mbak Uci dkk adalah kebahagiaan tersendiri. Uniknya, Mbak dan kawan-kawan menyambut anak-anak saya—yang biasanya sulit dekat dengan orang asing—seperti keponakan sendiri. "Sini duduk sama Ammah..." ucap mereka. Ajaibnya, kedua anak saya mau menerima uluran tangan itu. Seolah mereka merasakan ketulusan yang sama, atau mungkin mereka tahu bahwa ibunya sedang butuh teman bicara.

Ada satu memori yang tak pernah pudar. Pernah suatu hari saya merasa sangat sedih dan diabaikan di sebuah tempat. Tiba-tiba, telepon berdering. Itu dari Mbak Uci. Tanpa saya bercerita tentang kegalauan hati, Mbak meminta saya bercerita tentang apa saja.

Biidznillah, saya tidak mengadu soal kesedihan hari itu, melainkan bercerita tentang betapa aktifnya anak-anak setelah hadirnya Aufa kecil. Telepon itu memberi saya keyakinan: tidak apa-apa jika ada manusia yang mengabaikan, karena Allah Ar-Rahman akan mengirimkan kawan lain sebagai pelipur lara.

"Mi, salam dari Mbak Uci..." Kalimat itu seringkali menjadi buah tangan saat Akang pulang bekerja. Cipansor memang menjadi titik berangkat dan pulang beliau saat itu. Dan jika Akang melihat suasana hati saya sedang kurang baik, ia akan menawarkan, "Mi, mau main ke Cipansor?" Di sana, Akang berjumpa kawan-kawannya, dan saya melipir ke lantai dua, mencari ketenangan bersama Mbak Uci dkk.

Tahun demi tahun berlalu. Episode panjang itu terasa sekejap. Sampai suatu hari, takdir mempertemukan kita di Pagerageung. Rasanya campur aduk—aneh namun membahagiakan. Siapa yang menyangka, sosok yang dulu menjadi tempat saya "melarikan diri" dari penat, lalu menjadi rekan dalam satu pekerjaan, hari ini bertemu secara kebetulan.. ah, tidak ada yang kebetulanm semuanya terjadi sesuai skenario dan izin Allah.

Hari ini, saya mengingat setiap detail itu sambil tersenyum di depan Akang. "Kalau dipikir-pikir, Allah ternyata memberi kita pelajaran dan pengalaman yang sangat banyak di antara singkatnya perjalanan ya, Say."

Mbak Uci adalah nama yang selalu hadir sebagai kabar membahagiakan. Dari Cipansor hingga Pagerageung, semua adalah skenario terbaik-Nya. Qodarullah wa maa sya'a fa'ala.

Tasikmalaya, April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...