Langsung ke konten utama

Melepaskan dengan Cinta yang Tetap Tinggal

Pada akhirnya, setiap ibu akan sampai

pada satu fase yang tidak pernah benar-benar ia persiapkan:

fase ketika ia harus mengendurkan genggaman.


Bukan karena lelah mencintai,
melainkan karena cinta itu sendiri
meminta bentuk yang berbeda.

Jika dahulu cinta berarti mendekap,
menjaga, dan memastikan segalanya baik-baik saja,
maka kini cinta belajar diam…
dan percaya.


Ada masa ketika tangan kecil itu selalu mencari kita.
Ada masa ketika langkah mereka tak pernah jauh.
Ada masa ketika kita adalah dunia mereka.

Namun waktu tidak pernah tinggal.

Ia mengalir,
membawa anak-anak kita menuju dunianya sendiri.

Dan tanpa terasa,
kitalah yang kini berdiri—
melihat mereka berjalan menjauh,
dengan hati yang penuh campuran rasa.


Bukan kehilangan,
namun juga bukan seperti dulu.

Sebuah ruang baru terbentuk.

Ruang di mana cinta tidak lagi sibuk mengatur,
tidak lagi tergesa menolong,
tidak lagi hadir dalam setiap detik.

Namun justru di situlah,
cinta menemukan kedewasaannya.


Melepaskan…
bukan berarti berhenti menjadi ibu.

Ia adalah cara baru untuk menjadi ibu.

Cara yang lebih sunyi,
lebih dalam,
dan sering kali… lebih berat.


Karena tidak ada lagi tangis yang bisa langsung ditenangkan.
Tidak ada lagi masalah kecil yang bisa segera diselesaikan.

Kini, yang ada adalah doa-doa panjang di malam hari,
kekhawatiran yang hanya bisa diserahkan,
dan harapan yang disematkan diam-diam di setiap sujud.


Di fase ini, seorang ibu belajar satu hal yang sangat halus:

bahwa kehadirannya tidak lagi selalu terlihat,
namun tetap terasa.

Dalam nilai yang tertanam.
Dalam kalimat yang dulu pernah ia ucapkan.
Dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil anak-anaknya.

Ia tidak lagi berada di depan,
namun jejaknya ada di dalam.


Dan di situlah letak ketenangan itu perlahan tumbuh.

Bahwa apa yang kita tanam dengan cinta,
tidak pernah benar-benar hilang.

Ia mungkin tidak selalu tampak,
namun ia hidup—
dengan caranya sendiri.


Saya belajar…
bahwa melepaskan bukan tentang mengurangi cinta.

Justru sebaliknya.

Ia adalah bentuk cinta yang tidak lagi bergantung
pada kedekatan fisik.

Cinta yang tetap tinggal,
meski jarak mengambil peran.


Ada hari-hari ketika rindu datang tiba-tiba.
Saat rumah terasa lebih sepi.
Saat suara-suara yang dulu memenuhi ruang
kini hanya tinggal dalam ingatan.

Dan di saat itu,
seorang ibu hanya bisa tersenyum kecil…
sambil berbisik dalam hati:

“Ya Allah, jaga mereka… di mana pun mereka berada.”


Itulah bentuk genggaman yang baru.

Bukan lagi pada tangan,
melainkan pada langit.


Untukmu, yang sedang berada di fase ini:

Jika hatimu terasa kosong sesekali, itu wajar.
Jika air matamu jatuh diam-diam, itu manusiawi.

Karena yang kamu lepaskan
bukan sekadar kebiasaan—
melainkan bagian dari hidupmu sendiri.


Namun percayalah,
tidak ada cinta yang sia-sia.

Tidak ada pelukan yang terlupakan.
Tidak ada doa yang terlewat.

Semua itu tinggal—
menjadi bekal,
menjadi arah,
menjadi cahaya dalam perjalanan mereka.


Dan kamu…
tetap menjadi ibu.

Bukan yang selalu terlihat,
namun yang selalu ada.


Sebab pada akhirnya,
melepaskan bukanlah akhir dari peran kita.

Ia adalah awal dari bentuk cinta yang lebih tenang,
lebih luas,
dan lebih dekat kepada-Nya.

Defa S Hidayat

Tasimalaya, 6 April 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...