Langsung ke konten utama

Yang Tersisa Adalah Syukur

Pada akhirnya,

yang tersisa bukanlah lelah itu.

Bukan pula tangis yang dulu sering jatuh diam-diam
di sela-sela hari yang panjang.

Yang tersisa… adalah syukur.


Ketika perjalanan itu telah dilewati,
ketika anak-anak tidak lagi kecil,
ketika rumah tak lagi seramai dulu—

barulah seorang ibu mulai melihat segalanya
dengan cara yang berbeda.


Dulu, hari-hari terasa begitu penuh.

Penuh dengan suara.
Penuh dengan permintaan.
Penuh dengan kelelahan yang seolah tidak pernah selesai.

Bahkan, ada saat-saat
di mana waktu terasa berjalan begitu lambat.

Seakan satu hari
terasa lebih panjang dari seharusnya.


Namun kini…

justru kenangan itulah yang terasa singkat.

Begitu cepat berlalu,
hingga kadang hati bertanya:

“Kapan semua itu terjadi?”


Tangis yang dulu terasa berat,
kini dikenang dengan senyum.

Kelelahan yang dulu ingin segera berlalu,
kini justru dirindukan dalam diam.

Dan hari-hari yang dulu terasa biasa saja,
ternyata adalah bagian paling berharga dari kehidupan.


Seorang ibu mulai menyadari:

bahwa tidak ada fase yang benar-benar sia-sia.

Setiap bangun malam.
Setiap pelukan yang tertunda karena pekerjaan rumah.
Setiap doa yang dipanjatkan dalam lelah.

Semuanya… tersusun rapi
menjadi fondasi kehidupan anak-anaknya.


Dan lebih dari itu—
semuanya juga membentuk dirinya.

Menjadi lebih sabar.
Lebih kuat.
Lebih dalam dalam memahami makna cinta.


Syukur itu tidak datang tiba-tiba.

Ia lahir dari perjalanan panjang.

Dari luka yang pernah dirasakan.
Dari lelah yang pernah hampir membuat menyerah.
Dari doa-doa yang dulu dipanjatkan dengan air mata.


Kini, semua itu terasa berbeda.

Bukan lagi sebagai beban,
melainkan sebagai anugerah.


Ada keheningan di rumah yang dulu tidak pernah ada.
Ada waktu luang yang dulu selalu diharapkan.
Namun anehnya… justru di situlah rasa rindu sering hadir.

Rindu pada hal-hal kecil yang dulu terlewatkan.
Rindu pada kebersamaan yang dulu terasa biasa saja.


Dan di titik itu,
seorang ibu mulai berdamai dengan waktu.

Ia tidak lagi ingin kembali ke masa lalu,
namun ia juga tidak lagi menyesali apa pun.

Karena ia tahu,
ia telah menjalani semuanya—
dengan cinta yang ia miliki saat itu.


Tidak harus sempurna.
Tidak selalu benar.
Namun selalu berusaha.

Dan itu… sudah cukup.


Untukmu, yang hari ini masih berada di tengah lelah:

Percayalah, suatu hari nanti
kamu akan melihat semua ini dengan cara yang berbeda.

Hari-hari yang terasa berat itu
akan menjadi kenangan yang hangat.

Tangis yang hari ini kamu sembunyikan
akan menjadi cerita yang menguatkan.

Dan lelah yang hari ini kamu rasakan
akan berubah menjadi syukur yang menenangkan.


Tidak ada yang terbuang.

Tidak ada yang sia-sia.

Setiap detik yang kamu jalani hari ini
sedang menulis cerita yang kelak akan kamu peluk dengan penuh haru.


Maka jika hari ini terasa berat,
tidak apa-apa.

Jalani saja, pelan-pelan.

Karena tanpa kamu sadari,
kamu sedang membangun sesuatu yang sangat besar:

sebuah kehidupan,
sebuah keluarga,
sebuah jejak cinta yang tidak akan hilang.


Dan ketika semuanya telah berlalu,
kamu akan sampai di titik ini—

duduk dalam diam,
tersenyum kecil,
dan berkata dalam hati:

“Ya Allah… ternyata semua ini indah.”


Defa S Hidayat

Tasikmalaya, 7 April 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepas Tunas Muzakki (Kesan dan Pesan dari Orang Tua Siswa)

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.      Saya adalah orangtua yang terasa tiba-tiba saja berdiri di sini, terasa sesak di sudut hati, terasa ada yang hendak menderas dari pelupuk netra,bahkan jauh sebelum hari ini, sejak hitungan hari mendekati lepas tunas yang ternyata tibalah jua akhirnya. Kala Ananda menghubungi untuk menyampaikan sepatah kata, terasa berdebar di dasar kalbu, apa yang harus saya ucapkan, kala kata-kata dan sekian narasi telah bergema di pelupuk ingatan, untuk 6 tahun dimana Ananda ditempa, dididik, di bimbing, di bina dengan penuh kasih selaiknya orangtua kepada buah hatinya.      Saya ingat kala pertama kali mengantar, berbekal lokasi yang dikirimkan ustadzah melalui chat WA. Kami belum pernah kesini sebelumnya, dan bekal kami hanyalah keyakinan bahwa ini jalan yang telah Allah pilihkan untuk Ananda. Saat dua tangan menadah meminta apapun yang menurutNya baik, lalu dengan izin dan karunia Al...

Ketika Semuanya Dimulai

Menjadi ibu… tidak pernah benar-benar dimulai saat seorang anak lahir. Ia dimulai jauh sebelumnya— di dalam hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Sejak dua garis itu muncul, sejak doa-doa mulai berubah arah, sejak nama-nama mulai dipikirkan diam-diam, seorang perempuan sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami, namun ia jalani dengan penuh harap. Di awal, semuanya terasa indah. Gerakan kecil dalam rahim terasa seperti sapaan cinta. Rasa mual dan lelah pun dibalut makna— seolah setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mulai membayangkan: bagaimana wajah anaknya nanti, bagaimana suaranya, bagaimana ia akan memanggilnya “Ibu”. Dan dalam bayangan itu, ia merasa siap. Atau setidaknya… ia merasa akan baik-baik saja. Namun kehidupan, tidak selalu berjalan seindah yang dibayangkan. Hari-hari setelahnya membawa realitas yang berbeda. Tidur yang terputus. Tangis yang tak selalu bisa dipahami. Tu...

Melampaui Jebakan Pembenaran dan Syubhat Pemikiran Guru

Menjadi seorang guru adalah pilihan sadar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban. Namun, dalam perjalanannya, seorang guru sering dihadapkan pada "jebakan halus" dan berbagai syubhat pemikiran modern yang dapat mengikis militansi perjuangan serta kemurnian niat. 1. Melampaui Jebakan "Sudah Maksimal" Banyak guru terjebak pada kalimat "Aku sudah berusaha maksimal." Ini sering menjadi tameng untuk menutupi rasa enggan berinovasi. Islam mengajarkan konsep Ihsan —melakukan segala sesuatu melampaui standar biasa. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي) "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/sempurna)." (HR. Al-Baihaqi). Selama perubahan belum terjadi pada anak didik, maka ruang untuk evaluasi masih terbuka lebar. Mengklaim "ma...